Sensasi Narkoba, Antara Maut dan Gila

LANTUNAN azan Magrib dari sebuah mesjid di pinggir pantai Padang, Sumatra Barat (Sumbar), akhir pekan lalu (Juli 2004), memutus perbincangan Media dengan Martin, 23, (bukan nama sebenarnya), mahasiswa sebuah perguruan tinggi negeri di Padang. “Sebaiknya kita salat dulu, nanti bisa dilanjutkan,” katanya.

Sejak sekitar setahun terakhir, Martin memang rajin beribadah. Dia tak pernah lagi menyentuh narkoba seperti putaw, shabu-shabu, ganja dan sejenisnya. Sebelumnya, ketika sekolah di sebuah SLTA di Jakarta, dia memang mencicipi beragam narkoba itu. “Ketika kuliah di Padang mulai berkurang, karena ubas dan etep di sini lebih mahal,” katanya.

Ubas adalah sebutan untuk shabu-shabu, sedang etep sama dengan putaw. Tiap satu gram (gaw), ubas dijual eceran dengan harga Rp250 ribu, sedang etep antara Rp400-500 ribu.

Sementara, ganja alias cimeng, dihargai Rp20 ribu untuk satu am (amplop), yang bisa dibuat tiga lintingan.
“Karena lebih murah, cimeng yang paling lama saya pakai. Syukurnya, saya tidak sempat ketergantungan tinggi pada shabu dan putaw. Sudah 15 teman di
Jakarta dan lima kawan saya di Padang yang meninggal karenanya,” ujar Martin.

Untuk pemakai shabu dan putaw tingkat tinggi, kata Martin, ada yang memakai satu gram sekali pakai. “Ada yang suka ngedrek, ada juga yang langsung nyipe,” katanya. Ngedrek adalah membakar putaw atau shabu di atas kertas aluminium, kemudian dihisap dengan alat yang disebut bong.

Sedangkan nyipe, melarutkan putaw dengan air, kemudian menyuntikkannya ke urat tangan. “Dengan nyipe, sensasinya lebih terasa. Kita akan larut dalam suasana perasaan. Bisa sedih, bisa juga senang,” jelas Martin.

Dia mengaku pertama kali mencoba narkoba karena ditawari teman ketika kumpul rame-rame semasa SLTA. “Waktu itu enggak enak menolak tawaran teman. Lama-lama, malah keterusan,” ujarnya. Syukurnya, kini dia bebas dari sensasi narkoba yang membawa maut itu.

Pengaruh lingkungan diakui Koordinator Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIKR), Cemara Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Sumbar, Rani Nasution, sebagai penyebab utama para remaja kecanduan narkoba. “Sebagian besar pemakai yang pernah konseling dengan kami, mengatakan awalnya mereka memang terpengaruh lingkungan,” jelas Rani.

Tanda-tanda pemakai narkoba, di antaranya bisa dilihat dari matanya yang sering merah, ketahanan fisik menurun, badan kurus, muka pucat, ada luka sayatan di tangan dan bekas tusukan jarum. “Selain itu, biasanya mereka suka menyendiri, sensitif, sering berbohong, suka sensasi yang berlebihan, kecemasan yang apatis, tidak mampu menghadapi stress, tidak percaya diri serta mulai menjual barang-barang miliknya atau malah mencuri,” ulas Rani.

Psikiater Nazief Manaf yang aktif melakukan penyuluhan anti narkoba di Sumbar, mengatakan, hanya dua kata untuk orang yang sudah kecanduan narkoba: maut atau gila.

Makanya, menurut dia, pemberantasan narkoba harus dimulai sejak dini, dari keluarga. “Bila pendidikan, perhatian dan pengawasan dalam keluarga jalan, takkan ada pecandu narkoba,” kata spesialis kedokteran jiwa tersebut.

Menurutnya, kepribadian remaja yang belum matang disertai pengaruh lingkungan, membuat tugas keluarga semakin berat. “Orang tua harus terbuka dengan anak, serta pintar menempatkan nasehat dan perhatian sesuai keadaan.”

Soalnya, jika tidak, berat sekali melakukan rehabilitasi untuk para pecandu. “Untuk mengembalikan mereka seperti semula, harus disibukkan dengan beragam kegiatan, serta memisahkan dengan lingkungan narkoba,” kata Nazief. Selain itu, juga ada sistem pengobatan medis, dengan jalan pembersihan darah. (Hendra Makmur)

~ oleh hendramakmur pada 19 April 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: