Rugi Ratusan Miliar, Pariwisata Sumbar Ingin Bangkit

OI Tuan, pitih den, kama kini den cari. Aden disuruah mamak den, untuak bali kamiri…” (Oh Tuan, ke mana kini ku cari uangku. Aku disuruh pamanku, untuk membeli kemiri).

Kutipan lirik lagu Minang berjudul ‘Kamiri’ tersebut meluncur dari mulut Afie Dian Lestari, 19, gadis Bukittinggi, mahasiswi Institut Pendidikan dan Pelatihan Perhotelan Alternatif (IP3A) Novotel, bersama empat rekannya yang tergabung dalam Balingka Voice, Sabtu (7/5/2005) malam lalu.

Lagu itu mereka bawakan dengan apik di hadapan penjabat Wali Kota Bukittinggi O. S. Yerly Asir, Calon Wakil Gubernur Sumbar Marlis Rahman, pelaku pariwisata dan wartawan dalam acara Lounching Bukittinggi Promo Mei 2005 di Bukittinggi, Sumatra Barat (Sumbar) yang digelar malam itu.

Lagu yang dibawakan grup pimpinan seniman Yan Nirwan tersebut, bercerita tentang seseorang yang kehilangan uang dan sedang bingung mencarinya. lagu berakhir, hadirin pun memberi aplus meriah.

Mereka seperti mahfum, lagu itu menggambarkan kondisi pariwisata Sumatra Barat dalam empat bulan terakhir. Semenjak peristiwa gempa dan tsunami di Aceh, gempa Nias dan gempa di perairan Mentawai, berturut-turut semenjak Desember 2004 hingga April lalu, pariwisata Sumbar memang kehilangan uang dalam jumlah besar.

Makanya, para praktisi wisata Bukittinggi dari Association Indonesia Tour and Travel Agency (Asita), Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) dan Pedagang Pariwisata Indonesia (PPI) malam itu menggelar pembukaan promo. Mereka sepakat untuk memberi hotel dan transportasi sampai 40%, agar pariwisata di daerah ini kembali bangkit.

Pariwisata Sumbar memang sedang terpuruk. Kepala Dinas Pariwisata Sumbar Yulrizal Baharin mengatakan, semenjak Januari 2005 pasca gempa dan tsunami di Aceh, terjadi penurunan kedatangan wisatawan ke Sumbar.

Penurunan lebih drastis terjadi semenjak adanya gempa di Perairan Mentawai tiga pekan lalu. “Kerugian sektor pariwisata dalam tiga bulan terakhir, sekitar Rp213 miliar,” katanya dalam diskusi dengan praktisi pariwisata dan wartawan, akhir April lalu.

Hal tersebut baru kerugian yang bisa dihitung dari tingkat hunian hotel dan pendapatan restoran serta jasa perjalanan. “Imbas kerugiannya bakal lebih besar lagi, jika dihitung pendapatan masyarakat di sekitar daerah wisata,” ujar Yulrizal.

Ketua Asita Sumbar Asnawi Bahar membenarkan, hampir semua agen travel anggota Asita mendapat pembatalan grup tamu yang sudah merencanakan berkunjung ke Sumbar. “Sekitar 50 persen tamu membatalkan kunjungannya ke Sumbar,” ujarnya.

Demikian juga tingkat hunian hotel juga mengalami penurunan dratis. “Tingkat hunian Hotel Bumi Minang yang punya 160 kamar, turun 40 persen,” kata General Manager (GM) Bumi Minang Padang, I. A Rizal. Hal yang sama terjadi pada Hotel Rocky Padang, Hotel Pusako dan Novotel Bukittinggi. “Tingkat hunian kami turun hingga 70 persen,” kata GM Novotel Masri.

Padahal, semenjak tiga tahun terakhir sebelum gempa Aceh, pariwisata Sumbar berkembang pesat. “Biasanya, ketika weekend bisa dikatakan seluruh kamar hotel berbintang sampai hotel melati di Sumbar penuh,” kata Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumbar Djarkasi. “Yang lebih parah terjadi pada hotel-hotel melati. Mereka berminggu-minggu tak mendapat tamu seorang pun.”

Angka kunjungan memang menurun dratis. “Jika selama tahun 2004, Sumbar dikunjungi 1.065.000 turis domestik dan manca negara, atau sekitar 88 ribu per bulan, selama empat bulan terakhir, angka kunjungan hanya sekitar 8 ribu orang,” kata Asnawi.

Makanya, pelaku wisata Bukittinggi melakukan promo tersebut untuk mengatakan pada dunia, Sumbar masih aman. “Gempa kini sudah tak ada lagi, tsunami apa lagi. Gunung pun sudah tenang kembali,” ujar Afie, gadis Bukittinggi yang bernyanyi tadi kepada Media.

Sebelumnya, di Padang, pada Rabu (4/5) lalu, Asita Sumbar, PHRI Sumbar dan Forum Wartawan Pariwisata Sumbar juga menyelenggarakan lounching Minangkabau Promo selama Mei ini. Paket wisata ke daerah ini benar-benar ‘dibanting’. Bayangkan, untuk kunjungan selama tiga hari di Padang dan Bukittinggi dengan inapan di hotel berbintang, hanya dikenakan Rp549 ribu.

Untuk mendukung recovery pariwisata tersebut, selama Mei ini, Pemerintah Kota Padang memberikan keringanan pajak. Sebanyak 50% pajak hotel dan restoran sebulan tersebut, dikembalikan untuk membantu meringankan. “Dalam keadaan susah ini, kita harus saling menolong,” kata Wali Kota Padang Fauzi Bahar. (Hendra Makmur)

~ oleh hendramakmur pada 19 April 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: