Potensi Emas Hitam yang Terbengkalai

TANDA tangan Menteri Pertambangan dan Energi Ginandjar Kartasasmita pada 16 November 1989, di gedung sarana pencucian batubara dan angkutan batubara Unit Produksi Ombilin (UPO), PT. Bukit Asam, Sawahlunto, Sumatra Barat (Sumbar), hingga kini, masih terpampang jelas. Tanda tangan itu dibubuhkan ketika Ginandjar meresmikan pemakaian gedung itu.

Namun, belum genap 16 tahun setelah peresmian, bangunan itu kini tak berarti apa-apa. Sepanjang pemantauan Media Indonesia akhir pekan lalu (Agustus 2005), sarana dan peralatan lengkap di bangunan tersebut terbengkalai berdebu. Satu persatu peralatan di sana, malah menjadi besi tua yang dijual loakan oleh penjarah.

Di atas rangkaian rel kereta api di bagian bawah gedung itu, kini dimanfaatkan menjadi kolam ikan oleh masyarakat setempat. Gedung bertingkat lengkap dengan sarana pencucian dan rel kereta api juga sudah ditumbuhi rumput yang mulai rimbun.

Keadaan tersebut sudah berlangsung semenjak 2002 lalu, ketika PT. Bukit Asam (BA) Unit Produksi Ombilin menghentikan tambang luar batubara di daerah Kandi, Tanah Hitam, Spana Dalam dan Kumanis, seluruhnya wilayah Kota Sawahlunto, karena habisnya cadangan batu bara di daerah itu. Sarana pencucian hasil tambang dalam yang digunakan sebelum batubara diangkut ke pelabuhan tersebut, praktis tak lagi digunakan.

Tak hanya itu, rangkaian rel kereta api sepanjang 155 kilometer yang membentang dari Sawahlunto hingga ke Pelabuhan Teluk Bayur, Padang juga sudah dibalut karat. Seiring penghentian produksi tambang dalam, jalur itu tak lagi dilalui oleh kereta api. Karena, jalan kereta api tersebut memang hanya digunakan untuk mengangkut emas hitam itu.

Menurut Humas PT. BA Unit Produksi Ombilin (UPO), Evi Trinadi Putri, PT. BA UPO kini hanya menjalankan kegiatan tambang dalam di daerah Sawahluhung (Ombilin I) dan Sigalut (Ombilin III). Jumlah produksi PT. BA pada 2003, 2004 dan prediksi pada 2005 ini, sekitar 100 ribu ton per tahun. Produksi itu dimanfaatkan PLN untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Ombilin di Sawahlunto.

Sebelumnya, ketika masih ada tambang dalam produksi batubara pada 1998 sebanyak 777.241 ton, tahun 1999 sebanyak 758.867 ton, pada 2000 sebanyak 484.020 ton, pada 2001 sebanyak 269.347 dan tahun 2002 berproduksi 467.063 ton.

Sejak ditemukan pemerintah Hindia Belanda pada 1858, dan mulai berproduksi pada 1892, cadangan batu bara di Kota Sawahlunto Sumatra Barat telah dieksploitasi sebesar 30 juta ton. Menurut Wali Kota Sawahlunto Amran Nur, diperkirakan masih ada sekitar 100 juta ton lagi batubara yang tersimpan di Sawahlunto.

“Kandungan yang masih ada, sebagian besar terdapat di dalam tanah. Untuk bisa menambangnya, butuh cost besar. Kita masih mengharapkan PT.BA untuk berinvestasi. Saat ini, kita sedang menunggu rencana pengembangan tambang dalam yang mereka susun,” kata Amran.

Menjawab itu, Evi Trinadi mengatakan, rencana pengembangan tambang dalam tersebut masih diproses di PT.BA UPO. “Rencana pengembangan tersebut masih dalam proses penggodokan,” ujarnya.

Amran mengakui, kegiatan perekonomian di Kota Sawahlunto merosot sejak tambang luar PT. BA dihentikan. “Kegiatan perekonomian di Sawahlunto turun sekitar 2 persen pada 2003. Pedagang di pasar, banyak yang mengeluh karena berkurangnya pembeli. Selain itu PAD juga berkurang,” katanya tanpa merinci jumlah.

Seiring berkurangnya produksi tambang, PT.BA memang mengurangi jumlah karyawannya. Menurut Evi, dari sekitar 600-an karyawan pada 2002, dikurangi menjadi 422 orang. Sebelumnya, perusahaan penambang ini, sempat punya lebih dari seribu karyawan.

Berkurangnya karyawan tentu membuat penduduk Sawahlunto berkurang. Kegiatan produksi yang berkurang, juga membuat berkurangnya lalu lintas orang keluar masuk kota tersebut. Sehingga, kegiatan ekonomi kota pun merosot.

Masalah lain yang menggayut, maraknya tambang liar oleh masyarakat. Hingga saat ini, ratusan masyakat setempat masih melakukan penambangan liar di beberapa lokasi bekas tambang luar PT.BA. Bekas penambangan tersebut, kini meninggalkan danau-danau kecil.

Selain merugikan pemerintah kota dan PT. BA, penambangan liar tersebut juga berbahaya. Sejak lima tahun terakhir, sudah puluhan nyawa melayang akibat tertimbun longsor karena warga menggali tanpa pengamanan. (Hendra Makmur)

~ oleh hendramakmur pada 19 April 2008.

2 Tanggapan to “Potensi Emas Hitam yang Terbengkalai”

  1. menurut fikiran anda,apa yang sebaiknya dilakukan bagi masyarakat yang telah menggentungkan harapan hidup dari tambang liar menurut anda tersebut?.
    bukankah tambang liar tertsebut sudah dijinakkan pemda setempat dengan menerbitkan beberapa ijin penambangan resmi.
    PLTU ombilin yang berada di sijantang,berharap pasokan banyak dari batubara yang menurut anda dari tambang liar tersebut.
    ini dilemma,dimakan mati bapak,tak dimakan mati ibu,.
    tak perlu diurai,siapa salah dan siapa benar.
    untuk saat ini,tak ada jalan terbaik dikulum kulum saja.
    pakai saja semboyan PT Semen Padang,saya sudah membuat sebelum yang lain memikirkannya

  2. Pak Indra, terima kasih atas komentar Anda.

    Menurut saya, pemerintah kota memang harus menertibkan tambang2 liar tersebut. Berat memang, tapi itulah yang harus dilakukan pemerintah daerah selaku pemegang otoritas dan yg dipercaya masyarakat untuk memimpin mereka.

    Saya tahu, Pak Amran Nur (Wako Sawahlunto) banyak melakukan terobosan dg merintis pariwisata tambang dan penanaman bibit coklat. Saya juga sempat menulis soal ini di Media.

    Namun, agaknya, berbagai usaha itu belum cukup mengalihkan perhatian masyarakat untuk mengubah mata pencaharian. Buktinya, sampai sekarang, tambang liar itu masih saja marak.

    Bukan saya yang menyebut liar, tapi berbagai sumber berita. Dari berbagai berita tersebut, di tambang2 liar ini sudah memakan banyak korban.

    Coba cek beberapa link di bawah ini:
    http://www.antara.co.id/arc/2008/2/20/tambang-batubara-ilegal-meledak-satu-tewas-tiga-luka-berat/
    http://www.ranah-minang.com/berita_949_lubang_tambang_terbakar_empat_pekerja_tambang_rakyat_luka_bakar.html

    Anda masih bisa menemukan banyak lagi jika search di google, seputar persoalan tambang liar di Sawahlunto.

    Jika tantangannya adalah nyawa, apakah bisa dengan enteng kita menyebut persoalan ini utk ‘dikulum-kulum’ saja seperti Anda katakan? Persoalan nyawa bukanlah permen yang bisa kita kulum-kulum. Nyawa manusia, adalah hal yang paling berharga yang tidak bisa diganti dengan apapun di dunia ini, termasuk dengan keuntungan yang didapatkan dari tambang ilegal itu.

    Btw, terima kasih sekali lagi atas komentarnya..

    Wassalam,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: