Pesantren Ramadan Meredam Asmara Subuh

SEPASANG remaja umur belasan tahun, sambil menyandang sarung dan mukena tampak asyik bercengkrama di Pantai Padang, Sumatra Barat (Sumbar), akhir pekan lalu. Waktu menunjukkan sekitar pukul 06.00 WIB, pada minggu pertama Ramadan 1426 H tersebut.

Sesekali, pria belia itu melempar pandangan ke laut lepas dan kembali bercerita dengan teman wanitanya. Di belakang mereka, sekelompok anak baru gede (ABG) cewek melintas, mengenakan sarung dengan mukena disandang di bahu.

Dua ABG cowok menyapanya, dan mereka pun berkenalan. Dua remaja putri kemudian memisah dari kelompoknya, berjalan berdua-duaan dengan pria muda yang baru dikenalnya, sambil bercanda ala anak muda.

Itulah sepenggal cerita tentang aktivitas anak muda Padang setiap bulan puasa, yang disebut ‘asmara subuh’. Akhir pekan lalu itu, sepanjang pemantauan Media Indonesia, memang tak terlihat aktivitas yang ‘kelewatan’. Namun, cerita jelek tentang aktivitas amoral ‘asmara subuh’, demikian nyaring terdengar sejak belasan tahun.

Ulama di Padang dari berbagai mimbar dan forum, sudah meributkannya sejak lama. Toh, asmara subuh itu terus terulang setiap Ramadan, sejak belasan tahun terakhir. Tak terkecuali pada bulan puasa kali ini. Sepulang salat subuh di mesjid, para remaja berjalan kaki ke beberapa tempat seperti Pantai Padang untuk nongkrong dan cari pasangan.

Namun, pada Ramadan kali ini juga, pemerintah kota (pemkot) Padang mulai menggelar kegiatan untuk meredam aktivitas tersebut. “Salah satu tujuan diadakannya Pesantren Ramadan untuk siswa SD hingga SLTA se-Kota Padang, memang untuk meredam kegiatan yang akan merusak nilai puasa,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang M. Nur Amin kepada Media Indonesia, Minggu (10/10/2005).

Sejak kemarin hingga 15 Oktober, Pesantren Ramadan tersebut sudah dimulai untuk tingkat SD dan madrasah ibtidaiyah (MI). “Untuk tingkat SD yang diwajibkan hanya kelas IV sampai dengan kelas VI. Selanjutnya, SMP dan Madrasah Tsanawiyah pada 17-22 Oktober dan tingkat SLTA pada 24-29 Oktober,” jelasnya.

Kegiatan Pesantren Ramadan ini, dikembangkan dari konsep ‘Didikan Subuh’ yang digelar setiap hari Minggu oleh Taman Pendidikan Alquran (TPA) atau Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA), tempat anak-anak SD belajar agama Islam disamping sekolah umum.

Jika, sebelumnya konsep ini hanya untuk anak-anak, pemko Padang mengembangkannya dalam bentuk pesantren yang meliputi pendidikan untuk remaja. Nur mengatakan, kegiatan tersebut dimulai setelah salat Subuh hingga waktu Zuhur di ratusan mesjid dan musala di seluruh Kota Padang.

“Pesantren Ramadan ini digelar berdasar tempat tinggal. Jadi, di mana masjid dan musala yang paling dekat dengan tempat tinggal para siswa, di sanalah mereka mengikuti pesantren Ramadan,” katanya.

Sehingga, di masjid yang sama, para siswa dari berbagai sekolah bergabung untuk mengikuti pendidikan tentang aqidah, ibadah dan akhlak selama enam hari. “Setelah masa pendidikan, diadakan muhasabah untuk mengevaluasi bagaimana perilaku mereka selama ini,” ujarnya.

Untuk kegiatan tersebut, menurut Nur Amin, setiap masjid dan musala dibantu Rp500 ribu oleh pemko. “Selain itu, pemko juga menganggarkan Rp346 juta untuk mencetak buku agenda untuk dibagikan kepada para siswa,” terangnya.

Nur mengatakan, selain diwajibkan untuk setiap siswa beragama Islam, para guru muslim pun diberi kewajiban untuk aktif di masjid dan musala tempat tinggal masing-masing sebagai guru pendamping, membantu instruktur dan pengurus masjid membina para siswa. “Nanti, para guru juga harus membawa rekomendasi dari pengurus masjid, telah berpartisipasi dalam kegiatan tersebut,” kata Nur Amin.

Humas Pemko Padang Surya Budi menambahkan, kegiatan pesantren Ramadan tersebut dicanangkan Wali Kota Padang Fauzi Bahar sejak dua tahun terakhir. “Tahun ini merupakan kali kedua, setelah melakukan penyempurnaan dan evaluasi dari pelaksanaan pertama,” katanya.

Pemko di bawah Fauzi Bahar, menurut Budi, memang sangat konsen pada pembersihan Padang dari penyakit masyarakat seperti maksiat, judi dan narkoba, sekaligus memulai pendidikan bernuansa religi semenjak dini.

“Target kita, tujuh atau 10 tahun mendatang, Padang benar-benar menjadi kota pendidikan yang diidam-idamkan. Targetnya, agar para orang tua siswa dan mahasiswa dari seluruh Sumbar dan propinsi lainnya, merasa aman menyekolahkan anaknya di Padang. Karena, kota ini bebas maksiat dan kondusif untuk tempat pendidikan anak-anaknya,” jelas Budi.

Mungkin termasuk juga, bebas ‘Asmara Subuh’, karena sejak subuh anak-anak dan remaja sudah tak berkeliaran lagi hingga ke Pantai Padang. (Hendra Makmur)

~ oleh hendramakmur pada 19 April 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: