Pesan untuk Aceh di Panggung Teater Mahasiswa

SEBELAS orang melangkah gontai ke luar dari sisi panggung yang berbeda seiring petikan gitar mengiringi Lagu asal Aceh, ‘Bunga Jeumpa’. Mereka tak berhenti di panggung, tapi terus ke pelataran di depan panggung.

Areal berukuran sekitar 12 kali tiga meter di Auditorium Universitas Andalas, Limau Manih, Padang, Sumatra Barat (Sumbar) pada Jumat (20/5/2005) pagi tersebut, terlihat berantakan karena tumpukan kayu dan drum minyak yang tergolek.

Manusia-manusia bermimik tegang itu kemudian merosot ke lantai. Mereka kemudian seperti menari, menggapaikan kedua tangan dengan gerak badan yang meliuk-liuk. Tatapan yang terpancar seperti kosong, tanpa harapan.

“Bagaimana kau memahami kehancuran? Semua musnah, rata bersama gelombang, bersama riak, bersama aliran aliran darah. Hanya pepuingan, reruntuhan, sampah dan sisa sarapan pagi,” monolog itu terdengar menggema.

Enam di antara mereka, laki-laki bertelanjang dada kemudian bergerak lebih aktif, seiring ritme bebunyian yang berubah tempo jadi cepat. Terdengar teriak histeris seorang perempuan yang membuat semuanya panik.

Semua berlarian, menyuruk ke bawah kayu, bersembunyi di dalam drum dan sebagian lainnya berebut mendaki ke arah panggung. Sejurus, ruang itu tenang, seakan memberi penonton kesempatan untuk bernafas.

Namun, semua kembali kacau ketika salah satu dari mereka mengejar sepuluh orang lainnya. Dia, manusia berkulit hitam itu, mengejar seluruhnya dan menemukan di mana pun mereka bersembunyi. Semua lalu terkulai lemah.

Cuplikan di atas, merupakan teater yang dibawakan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Andalas (Unand) dalam acara penutupan Gelar Seni IV Studio Merah, pekan kreatifitas seni yang berlangsung dari Senin (16/5) hingga Jumat (20/5).

Mahasiswa yang tergabung dalam Sanggar Seni Studio Merah tersebut mencoba memindahkan gempa dan tsunami di Aceh dalam teater kontemporer. Hal itu terasa makin kental ketika Lagu ‘Dododaidi’ milik Cut Adjah yang sering diputar di Metro TV beberapa bulan lalu melantun indah mengiring teater yang terus berjalan.

“Allah hai dododaidi.. Wahe aneuk bek ta duek le, beudoh sare ta bela bangsa”

(Allah hai dododaidi.. Wahai anakku, janganlah duduk dan berdiam diri lagi, mari bangkit bersama membela bangsa)

Hadirin bertepuk tangan, beberapa di antaranya mengusap air mata terharu mendengar lagu yang biasa dinyanyikan seorang ibu untuk meninabobokan anaknya itu.

Para mahasiswa tersebut memang layak diberi aplus. Auditorium Unand yang biasa menjadi tempat olah raga dan sama sekali tak layak dari segi akuistik pementasan, mereka siasati, agar tetap bisa dipakai menampilkan teater.

“Karena masalah akuistik tadi, kalau main di sini, ya terpaksa tak bisa menampilkan teater dialog,” kata Helmi Razif, mahasiswa Unand, sutradara teater bertajuk ‘Suara dari Reruntuhan’ tersebut. “Makanya, kita memoles lebih detil soal koreografi gerak,” kata Koreogafer M. Ishaq Caine.

Tak bisa memang membandingkan para mahasiswa itu dengan teater profesional, yang punya properti, kostum dan lighting yang lengkap. Namun, satu hal yang mereka punya, keberanian untuk berbuat ala mahasiswa dengan menyiasati berbagai kekurangan.

Yang pasti, pesan yang mereka bawa sudah disampaikan agar Aceh harus bangkit dari kesedihan dan dibangun dengan kekompakan. Seperti kompaknya gerak Tari Seudati yang disitir koreografi teater ini. Atau seperti luhurnya nasehat ibu dalam Lagu ‘Dododaidi’ tadi. (Hendra Makmur)

~ oleh hendramakmur pada 19 April 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: