Pemda Diminta Tak Abaikan Penelitian Ahli

TAK ada perubahan berarti pada wajah Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar) belakangan ini. Jika ada yang berbeda pada kota di pantai barat Sumatra dalam beberapa pekan terakhir, itu karena maraknya tanda gambar pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Sumbar di sepanjang jalan.

Hal tersebut yang yang tampak di permukaan. Di balik itu, jika ditanya pada mayoritas warga Kota Padang, semua menyimpan rasa was-was. Semua khawatir, gempa yang cukup keras mengguncang Padang, pada Minggu 10 April lalu akan terulang. Di luar itu, yang paling ditakuti, apa lagi kalau bukan tsunami.

“Sekarang, saya tak bisa meninggalkan keluarga pada malam hari. Jika tak ada saya, keluarga di rumah gampang terpancing isyu. Salah seorang kerabat saya, sejak tsunami di Aceh, sampai sekarang bahkan selalu memarkir kendaraan di luar rumah. Di dekat pintu juga disiapkan tas besar yang lengkap berisi pakaian dan perlengkapannya jika memang harus lari, kalu tsunami datang. ” cerita Sutan Makmur, warga Tabing, Padang kepada Media Indonesia.

Ada lagi yang mengungsi hanya karena menerima short message service yang mengatakan akan datang tsunami. Nama Mama Lauren, salah seorang paranormal terkenal, bahkan pernah dicatut oleh orang penyebar isyu.

Sebagian warga lain, menyikapinya dengan lebih bijak. “Kiamat lebih besar dari gempa dan tsunami. Tak satu pun yang tahu, kapan akan terjadi. Lalu mengapa mesti cemas? Yang penting, dekatkan diri pada Tuhan,” kata Ahmad, warga Pasir Jambak, Padang.

Mereka yang termasuk kelompok yang terakhir ini, bulan-bulan terakhir ini, rajin menghadiri majelis zikir yang diadakan di mesjid atau lapangan. Hampir tiap pekan, di Padang, selalu saja ada warga dan organisasi massa yang mengadakan kegiatan tersebut.

Makanya, begitu ada pemberitaan di televisi atau media cetak soal gempa dan tsunami yang menyebut-nyebut Sumatra, semua akan menjadi perbincangan hangat bahkan bisa menjadi isyu yang dibumbui di sana-sini.

Pemberitaan Media Indonesia Jumat (10/6) yang memuat pernyataan sejumlah seismolog Barat, bahwa akan terjadinya dua gempa besar yang bisa menciptakan gelombang laut setinggi 10 meter di sepanjang pantai Sumatra, membuat warga heboh.

Hingga keesokan harinya, beberapa warga yang tak menemukan Media di eceran, mencari hingga ke Kantor Biro Media Indonesia, Jalan Veteran, Padang. “Apa benar akan terjadi gempa seperti diberitakan Media,” tanya salah seorang pembeli.

Menurut Koordinator Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Wilayah Sumatra Barat Ade Edwar, walau memang membuat resah warga, penelitian ahli tersebut jangan diabaikan pemerintah daerah.

Menurutnya sekarang ini ahli geologi di Sumatra Barat sedang melakukan penelitian di Pulau Batu yang terletak antara pulau Nias dan Mentawai tentang kemungkinan gempa tersebut. Menurut Ade hasilnya sama dengan apa yang disampaikan tim riset Barat itu. “Cuma kapan datangnya? Itu yang masih belum terjawab.”

Ia menambahkan ahli manapun di dunia termasuk ahli geologi dinamik yang mempelajari tentang gerak bumi di Sumatra Barat berpikiran sama tentang ancaman gempa di pulau Sumatra. Oleh karenanya Ade berpendapat pemerintah mesti mempunyai badan resmi untuk menanggulangi kemungkinan ancaman bencana itu.

Pemerintah mesti punya blue print penanggulangan bencana jangka pendek, menengah dan jangka panjang tentang penanganan gempa tersebut. “Sayangnya ahli geologi dinamik sering kalah suara oleh yang bukan ahli geologi dinamik, sehingga sampai sekarang pun peringatan tersebut seaakan diabaikan,” katanya.

Ia menegaskan untuk menghadapi ancaman bencana yang belum tahu kapan datangnya masyarakat harus siap secara mental dan fisik. “Ibarat Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang selalu berlatih dan meperbaharui sejata tempur, namun jika ditanya kapan perangnya, mereka juga tidak tahu,” katanya lagi.

Asisten III Pemprov Sumbar Daniwar Djalil mengatakan, pemprov Sumbar bersama kabupaten/kota sudah mengadakan koordinasi dan langkah-langkah antisipasi. “Salah satunya dengan pendirian posko-posko pemantau bencana. Semuanya juga sudah menerbitkan peta evakuasi ke tempat yang aman. Masyarakat kita minta tetap tenang,” katanya.

Selain itu, menurut dia, Sumbar juga sudah berkoordinasi dengan Bakornas Penanggulangan Bencana untuk pembangunan penanggulangan bencana di Sumbar. “Salah satunya, pada 2005 ini Sumbar bersama DKI Jakarta dan Bali mendapat bantuan dari Perancis untuk pengadaan Emergency Crisis Center (ECC). (Hendra Makmur/Joni Syahputra)

~ oleh hendramakmur pada 19 April 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: