Mereguk Pesona Pulau Sikuai

MATAHARI perlahan merunduk ke peraduan Samudra Hindia. Sinar lembayung ‘sang mata dewa’ itu menyelip di antara deretan pohon kelapa. Warnanya membias pada riak-riak kecil yang terus menari, menghempas ke pantai Pulau Sikuai, sekitar 5 km di selatan Pelabuhan Bungus, Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar).

Semua mata terpaku, menyimpan decak kagum pada pemandangan yang bak lukisan. Hanya desiran angin dan bunyi gelombang, seperti orkestra alami yang terus berlagu. Tanpa sadar, kapal kecil yang ditumpangi puluhan agen travel dan wartawan, termasuk Media pun merapat di Pulau Sikuai, Sabtu (30/1/2005) lalu.

Air kelapa segar, menyambut kedatangan rombongan di pulau seluas 40 hektare di perairan barat Sumatra tersebut. Pulau dengan 53 bungalo yang sempat menjadi favorit wisatawan pada era 1990-an itu, kini sepi. Malam itu, selain rombongan kami, tamu yang bermalam hanya belasan orang.

General Manager Sikuai Island Resort, M Syarif, mengatakan, setelah tsunami menerjang Banda Aceh dan Sumatra Utara, berbagai rombongan turis mancanegara yang sudah memesan tempat di pulau itu antara Januari sampai Maret 2005, membatalkan kunjungannya.

”Saya kembali mengelola pulau ini semenjak 2003. Sebelumnya ketika mengurus hingga tahun 2000, lokasi ini sempat menjadi favorit. Lalu kunjungan menurun. Kami mencoba membangun kembali semenjak 2003,” ceritanya kepada undangan, sambil minta masukan untuk perbaikan pulau itu.

Semenjak 2003, kunjungan ke Pulau Sikuai mulai ramai kembali. Setidaknya, di akhir pekan bungalo di pulau ini kembali penuh terisi. ”Per bulan, tingkat kunjungan sudah mencapai 25%,” ujar Syarif.

Namun, bencana tsunami menimbulkan trauma orang untuk berwisata ke pantai, pulau, dan laut. Sikuai ikut menuai imbas itu. ”Bencana itu memang besar. Sehingga wajar jika dalam beberapa bulan ini akan ada trauma,” kata salah satu agen travel, Direktur Sumatra and Beyond, Ridwan Tulus, kepada Media.

Ia mengatakan, pihak terkait di pariwisata mesti melakukan promosi, wisata laut di Sumbar aman. Sikuai, contohnya, bisa dikategorikan sebagai pulau yang aman. Ke arah barat (Samudra Hindia), pulau ini berada di belakang sebuah pulau yang hampir sama besar. Di pulau ini juga ada bukit dengan ketinggian mencapai 120 meter.

Bukit tersebut berada tepat di tengah pulau, persis di belakang jejeran bungalo, tempat menginap. Untuk mencapai puncak bukit, sejak lama sudah disediakan jalan tangga dari beton. Persis di puncak bukit ini, ada sebidang tanah lapang, bernama Sunset Plaza. Di sini, Anda bisa menikmati matahari tenggelam jika senja menjelang.

Sikuai memang bukan sekadar pulau berpasir putih nan indah. Bukitnya bisa dipanjat bagi mereka yang menyukai olahraga rock climbing. Pulau itu, juga sudah dikelilingi jalan beton, sehingga bisa ditempuh sambil berjalan kaki atau bersepeda di pagi hari sambil melihat rombongan lumba-lumba berlompatan riang di laut. Di beberapa ruas jalan, bisa ditemukan binatang melata, biawak yang biasanya berjemur di tepi pantai usai kenyang menangkap ikan.

Pulau ini juga dikelilingi terumbu karang yang indah, sehingga amat tepat untuk menyelam. Di sela-sela batu karang itu, ratusan spesies ikan beragam warna dan bentuk adalah pemandangan indah yang membuat penyelam betah berlama-lama di dasar laut. Pulau ini juga amat tepat bagi mereka yang punya hobi memancing. Karena lautnya yang relatif tenang, juga tempat yang baik untuk olahraga jet ski.

Selain wisata alam dan budaya di daerah darat yang sudah terkenal selama ini, Sumbar memang punya potensi kaya dalam wisata bahari. Beberapa pulau lainnya, seperti Pulau Pisang Ketek, Pulau Pisang Gadang, Pulau Kasiak, Pulau Terlena, Pulau Pasumpahan, dan Pulau Sirandah di sekitar Kota Padang sudah mulai dikembangkan untuk wisata laut.

Lainnya, di kawasan Mande, Kabupaten Pesisir Selatan, seperti Pulau Cubadak dan Pulau Cingkuak. Pulau Cubadak malah juga sudah dibangun resor dengan konsep back to nature. Ini belum termasuk pantai-pantai di Kepulauan Mentawai yang sangat potensial untuk surfing (selancar).

Ketua Association Indonesia Tour and Travel Agency (Asita) Sumbar, Asnawi Bahar, mengatakan, wisata bahari di sekitar 450 km garis pantai Sumbar dengan luas perairan laut lebih dari 138.759 km, termasuk daerah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), memang sangat potensial.

Namun, di tengah kenyataan trauma atas tsunami, diperlukan trik khusus melakukan promosi. ”Harus ada penerangan bahwa tempat wisata kita aman, kalaupun itu terjadi tsunami,” kata Ridwan Tulus. Dia tetap optimistis, para wisatawan dari Amerika, Eropa, Australia, dan Jepang, yang biasanya menyukai laut, akan kembali berwisata bahari setelah trauma itu lewat, dalam beberapa bulan ini.

Yang harus dilakukan sekarang, menurutnya, menyusun promosi dengan baik. ”Promosi bisa dilakukan ke luar negeri dan bisa juga di sini dengan mengundang tour operator,” katanya. Promosi di luar negeri yang dilakukan beberapa pemda selama ini, kata Ridwan, sering salah sasaran.

”Mereka menggelar pertunjukan budaya di luar negeri, untuk umum tanpa mengundang tour operator dan media pers setempat. Jadi, tak ada promosi dan tindak lanjut pembuatan paket wisata dari luar negeri ke sini,” ujarnya.

Walau berat, promosi itu agaknya harus segera dimulai. Jika memang ingin kembali membangkit wisata bahari. (Hendra Makmur/P-2)

Media Indonesia, Januari 2005

~ oleh hendramakmur pada 19 April 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: