Menyimak Kesetiaan Para Maestro Tua

MEMILIH untuk hidup di pelosok daerah, untuk para seniman dan pekerja seni memang banyak tak enaknya. Jauh dari publikasi, tak dekat dari informasi serta tak ada even untuk memperlihatkan pada ‘dunia’, apa yang sudah mereka lakukan.

Namun, justru di sana letak keluhuran mereka. Para seniman dari pelosok itu, tulus berkesenian untuk ‘mengisi batin’ hingga berusia tua. Mereka terus bergelut dengan seni, tanpa memikirkan apakah kesenian bisa mendatangkan uang atau tidak. Seni bagi mereka ibarat ‘ritual’, dan mencari ekonomi untuk keluarga adalah sesuatu yang lain pula.

Dewan Kesenian Sumatra Barat (DKSB), Sabtu (19/3/2005) malam lalu mengundang tiga maestro seni berusia lanjut dari berbagai pelosok Sumbar. Acara bertajuk ‘Maestro Seni Tradisi’ tersebut, adalah bagian dari Pentas Seni-IV yang digelar di Taman Budaya Sumbar 19-23 Maret.

Mereka yakni, Inyiak Upiak Palatiang, 105, Manti Menuik, 81, dan Islamidar, 64. “Mereka yang telah bergelut puluhan tahun dengan seni itu, tidak menyebut dirinya seniman. Dunia kesenian modern berutang budi pada para seniman penjaga tradisi tersebut,” kata Ketua DKSB Ivan Adilla.

Inyiak Upiak Palatiang, nenek kelahiran Dusun Kubu Gadang, Kecamatan Padang Panjang Timur, Kota Padang Panjang, Sumbar pada 1900 itu, adalah maestro pertama yang tampil malam itu. Untuk usia di atas 100 tahun, fisik Inyiak terbilang kuat. Agaknya, hal itu karena Inyiak rajin beraktivitas.

Inyiak adalah salah satu pandeka (guru besar) dari sedikit pandeka silek (silat) tuo yang masih hidup. Malam itu, kepandaiannya dicoba oleh salah satu murid laki-lakinya. Dengan penglihatan dan pendengaran yang masih baik, Inyiak terlihat waspada menunggu serangan sambil memasang jurus.

Ketika serangan itu tiba, secepat kilat ia mengelak dan menangkis pukulan lawan. “Hap!” Serangan berikutnya dia tangkap, tangan lawan dipelintir hingga terkunci. Rupanya, sang nenek punya rasa humor yang tinggi. Melihat lawan keok, Inyiak bangkit, tertawa penuh kemenangan ke arah penonton dan menyalami para wartawan yang mengambil foto. Hadirin pun tertawa sambil bertepuk riuh.

Tak hanya itu, inyiak kemudian berdendang diiringi saluang. Suaranya merdu menyanyikan dendang ciptaannya. Maka mengalirlah, dendang saluang seperti ‘Singgalang Kubu di Ateh’, ‘Singgalang Kariang’ dan tembang lainnya diiringi ‘lenguhan’ saluang.

Tokoh lain yang terus berkesenian hingga berusia lanjut, Manti Menuik. Lahir di Saniangbaka, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, pada 1924, Manti sudah belajar silat sejak 1938. Dia kemudian menjadi guru Silat Jalik dan Silat Bungo. Manti yang punya ratusan murid tersebut, juga adalah maestro ‘Tari Piriang’ dan ‘Tari Tan Bentan’.

Malam itu, tari-tari tersebut ditampilkan. Walau sudah agak susah berjalan, Manti yang bernama asli Jamin gelar Manti Rajo Sutan tersebut terlihat bersemangat membawakan ‘Tari Tan Bentan’ yang menceritakan kisah klasik Minang, perkelahian Imbang Jayo dengan Cindua Mato memperebutkan Puti Bungsu.

Terakhir, kakek asal Nagari Talang Maua, Kecamatan Mungka, Kabupaten Lima Puluh Kota, Islamidar tampil dengan dendang sampelongnya. Sejarah hidup kakek yang akrab dipanggil Tuen ini, identik dengan senin sampelong yang tampil diiringi saluang bansi. Syair dendang sampelong, banyak bercerita tentang kepahitan hidup, keperihan nasib, kegagalan cinta, kemiskinan dan segala kenestapaan lainnya.

Namun, itu bukan berarti membuat para senimannya mudah berputus asa. Mereka adalah pejuang yang gigih mempertahankan seni tradisi. Tuen contohnya, diusia 64 tahun kini masih bersedia menjadi guru bantu di SD Negeri setempat, mengajar kesenian, agama dan malah, matematika.

Tuen memang tak hanya menguasai seni tradisi. Dia juga mampu memainkan akordeon, pianika serta menciptakan lagu dengan not balok. Penglihatannya yang terganggu sejak usia muda tak menghalanginya untuk terus berkarya dan mengajari anak SD bernyanyi. Seperti yang ditampilkan dalam film profil-nya malam itu, Tuen mengiringi muridnya bernyanyi dengan pianika, “Berkibarlah benderaku. Tampak suci, gagah perwira…” (Hendra Makmur)

~ oleh hendramakmur pada 19 April 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: