Menikmati Ragam Wisata Ranah Minang

SEORANG penerjun wanita asal negara Eropa tampak sibuk membenahi parasut yang terkait ke badannya. Tiga pria tampak ikut membantu penerjun tadi. Satu orang ikut mengikatkan jalinan tali, sementara dua lainnya membentangkan parasut selebar-lebarnya.

Tiba-tiba, angin bertiup kencang di Puncak Lawang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, beberapa bulan lalu itu. Parasut yang terbentang kemudian mengembang dan mulai naik. Tubuh penerjun bule tadi mulai sedikit terangkat.

“Hup!” Dengan sedikit lompatan ia sudah melayang ke arah Danau Maninjau yang membentang beratus meter di bawah Puncak Lawang. Ratusan penonton yang menghadiri even paralayang yang digelar pemerintah Kabupaten Agam itu bertepuk tangan dan melambaikan tangan.

Berpuluh mil di arah barat daya, seorang pria asal Australia menari-nari, seperti meniti ombak setinggi tiga meter di pesisir Pulau Sipora, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Kakinya yang telanjang menginjak papan surfing dengan panjang sekitar dua meter.

Beberapa puluh detik, dia berhasil ‘memperdaya’ ombak, menghindari gulungannya. Namun, kemudian dia terlihat capek dan menceburkan diri ke air laut yang biru. Beberapa saat kemudian, dia sudah berbaring menikmati matahari di pasir putih sebuah pulau kecil tak bernama di arah utara Pulau Sipora.

Beberapa wisatawan asing kepada Media Indonesia mengatakan, Puncak Lawang adalah tempat paralayang terbaik di Asia Tenggara. Seorang turis asal Amerika, bahkan pernah menyatakan, ombak di Mentawai adalah yang terbaik di dunia, melebihi Hawai. “Selain ombaknya besar, alam Mentawai masih asri,” katanya.

Sejak beberapa tahun terakhir, kaum hobbies dari berbagai negara memang memilih Sumbar menjadi salah satu pilihan utama untuk menyalurkan hobi mereka. Terlepas dari masih kurangnya fasilitas pariwisata di daerah yang berpotensi itu, dunia sudah mulai ‘mencium harumnya’.

Tinggal lagi, tugas pemerintah dan pelaku pariwisata untuk terus membenahi infrastruktur dan pelayanan pariwisata. Di bidang infrastruktur, sejak Agustus 2005 lalu, Sumbar misalnyan sudah punya bandar udara (bandara) baru untuk menggantikan Bandara Tabing yang sudah tak layak lagi digunakan.

Bandara Internasional Minangkabau (BIM), lapangan terbang baru itu, berdiri di areal seluas 482 hektare di Ketaping, Kabupaten Padang Pariaman, sekitar 22 km di utara pusat Kota Padang.

Dengan panjang landasan 2,75 km dan akan diperpanjang menjadi 3000 meter dalam waktu dekat, bandara ini bisa didarati pesawat berbadan lebar sejenis Air Bus 330.

“Dibukanya bandara ini, membuat akses Sumbar ke luar negeri lebih besar. Pesawat berbadan besar sudah bisa mendarat. Sehingga, biaya yang dibutuhkan untuk berkunjung ke daerah ini akan lebih bersaing,” kata Ketua Asosiasi Biro Perjalanan Wisata (Asita) Asnawi Bahar kepada Media Indonesia, Selasa (22/12/2005)

General Manajer (GM) Garuda Indonesia Cabang Padang Jubi Prasetyo menambahkan, arus penumpang menuju dan meninggalkan Sumbar memang memperlihatkan kecenderungan meningkat, terutama dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

Karena itu, sejak beberapa bulan lalu Garuda Indonesia membuka rute penerbangan ke Singapura, empat kali sepekan pada Senin, Rabu, Jumat dan Minggu. “Sebelumnya, hanya Garuda melayani penerbangan Jakarta-Padang, dua kali sehari pulang pergi. Sesuai perkembangan, kita bisa buka rute baru ke negara lain jika pasarnya semakin membaik,” kata Jubi.

Penumpang dari Singapura, terutama memang dipenuhi oleh wisatawan. Selama 2004 misalnya, arus kunjungan wisatawan ke Sumbar menunjukkan perkembangan drastis, dengan arus kedatangan sekitar 1 juta wisatawan domestik dan manca negara.

Walau pada awal 2005, dunia pariwisata Sumbar terguncang karena isu gempa dan tsunami, sejak pertengahan tahun ini arus wisatawan kembali meningkat.

Lalu dari bandara, kemana wisatawan harus pergi? Ada dua pilihan : pertama, menginap di Kota Padang sambil beristirahat menikmati wisata pinggir pantainya, atau langsung menuju lokasi tujuan wisata lain sesuai jenis wisata yang Anda inginkan.

Banyak pilihan di Sumbar. Sejak dari wisata pegunungan, laut, budaya hingga wisata makanan. Wisata pegunungan dan danau, misalnya bisa diperoleh di Bukittinggi, Lembah Anai (Padang Panjang), Harau (Limapuluh Kota), Maninjau (Agam) dan Danau Kembar (Kabupaten Solok).

Sementara, wisata laut bisa didapatkan di Kota Padang, Pesisir Selatan dan Kepulauan Mentawai.

Jika ingin menggali budaya dan sejarah Minangkabau, paling banyak di Kabupaten Tanah. Belakangan, Kota Sawahlunto yang berdiri karena pendirian tambang batubara di sana sejak abad ke-19, menasbihkan diri menjadi kota wisata tambang. Di kota ini, banyak peninggalan bangunan tua bersejarah, yang merupakan bukti kejayaan kota tambang zaman kolonial. Mau ke mana Anda? (Hendra Makmur)

~ oleh hendramakmur pada 19 April 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: