Menikmati Bebas Setelah Damai

ADA keharuan sekaligus keceriaan di halaman Lembaga Pemasyarakatan (LP) klas IIA Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), kemarin siang (17/8/2005). Hal itu terpancar dari wajah-wajah narapidana yang dibebaskan karena mendapat remisi 17 Agustus dan dari keluarga yang menjemput mereka.

Mereka berpelukan dan saling bertangisan. Ibu kembali bertemu dengan anaknya. Istri kembali bertemu dengan suaminya. Anak-anak digendong oleh ayah yang selama ini mereka rindukan.

Jumlah narapidana di LP tersebut yang bebas, sebanyak 70 orang. Dari jumlah itu, 65 orang adalah narapidana Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dua di antaranya wanita. Narapidana yang mendapat remisi, dari total 310 penghuni LP tersebut, 234 orang.

Di luar 70 orang yang langsung bebas, 164 napi lainnya yang belum bebas, juga mendapat pengurangan hukuman. Mereka yang masih ditahan tersebut, sebagiannya adalah anggota GAM. Ada yang ditahan karena tuduhan makar, ada yang dikenai pasal kriminal.

Di antara suasana haru dan ceria tersebut, Ayub bin Usman, 50, berjalan keluar dari jeruji besi sendirian. Sesaat ia tertegun menghirup udara bebas di luar penjara. Dua orang yang mengenalnya, menyalami warga Desa Blangweu Panjo, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe tersebut.

Setelah itu, sambil menyandang tas usangnya, Ayub berjalan sendiri ke luar pagar penjara. Tak satu pun keluarga lelaki itu yang menjemputnya. “Keluarga saya memang tak menjemput. Mereka susah setelah saya di penjara,” ujarnya lirih.

Ayub tak tahu akan pulang dengan apa ke desanya yang berjarak sekitar 10 km dari penjara tersebut. “Saya hanya punya Rp3 ribu, tadi ada teman yang memberi, tak cukup untuk ongkos ojek,” katanya.

Keluarga Ayub memang hidup susah. Isterinya harus berjuang keras untuk menghidupi empat anak mereka. “Satu anak saya meninggal beberapa bulan lalu karena sakit. Saya tak bisa menjenguknya sebelum dikebumikan,” ceritanya kepada Media Indonesia.

Kini, keluarga Ayub harus menumpang di rumah saudara mereka. “Rumah kami diobrak-abrik orang sampai hancur setelah saya di penjara, tak tahu siapa yang melakukan,” ujarnya.

Ayub sendiri yang pernah menjabat bendahara sekaligus kepala polisi GAM di kampungnya, ditangkap di daerah Canda, Kecamatan Peunteut, Kabupaten Aceh Utara di kedai kopi pada 2003. Ia kemudian dihukum 3 tahun, namun mendapat remisi, hingga bebas kemarin.

“Saya sudah mendengar ada perdamaian. Saya senang, semoga terus damai,” katanya ketika ditanya soal penandatanganan nota kesepahaman di Helsinki. Namun, wajahnya masih kalut, karena bingung untuk bisa pulang ke rumah. Melihat itu, beberapa wartawan berinisiatif mengantarnya.

Lain lagi cerita Azhari bin Ahmad, 34. Pengikut GAM di Bireun tersebut adalah napi korban tsunami. Sebelum menjalani tahanan selama enam bulan di LP Lhokseumawe, ia ditahan di LP Keudah, Banda Aceh sejak 2004.

“Setelah terjadi gempa besar pada 26 Desember lalu, kami melihat tembok penjara berjalan sejauh 2 meter. Setelah itu, tembok pecah. Air bah hitam setinggi sembilan meter menyapu penjara dan kami yang ada di dalamnya. Saya dihanyutkan, sampai kemudian saya berhasil meraih jendela sebuah rumah bertingkat,” katanya.

Azhari orang jujur. Setelah tsunami, bukannya lari, dia malah melapor ke kantor polisi bersama 28 orang temannya yang selamat. Tiga di antara mereka kemudian meninggal, 11 wajib lapor di Takengon, dua ditahan di Bireun, sementara 13 orang termasuk Azhari ditahan di LP Lhokseumawe.

Kini, dari 13 orang itu 10 orang bebas mendapat remisi khusus karena menjadi korban tsunami. “Teman kami yang tiga lagi bagaimana? Mohon, mereka juga dibebaskan,” katanya.

Azhari juga menyambut baik kesepakatan damai. “Itu bagus, kita memang sudah lama ingin damai,” ujarnya. Lalu, rencana setelah bebas? “Saya akan kembali berdagang udang. Tentunya setelah melapor ke pos TNI dan juga berkoordinasi dengan pimpinan GAM,” katanya.

Ada lagi cerita Zubaidah, 28 yang merasa tak punya salah. Dia dihukum 2 tahun 8 bulan karena dituduh terlibat GAM. “Saya sebenarnya tak tahu apa-apa. Saya ditahan karena suami. Padahal dia sudah lama tak pulang,” ujarnya.

Kini, perempuan itu hanya punya keinginan satu. Segera pulang ke Kecamatan Nisam Aceh Utara. Karena rindunya sudah memuncak pada anak tunggalnya yang berumur empat tahun.

Selain pemberian remisi, sebelumnya, peringatan ulang tahun kemerdekaan RI di Lhokseumawe diwarnai dengan upacara peringatan detik-detik proklamasi di Lapangan Hiraq dengan inspektur upacara, Wali Kota Lhokseumawe Marzuki M. Amin.

Peringatan tersebut, juga diwarnai dengan berbagai pertandingan yang digelar warga. (Hendra Makmur)

~ oleh hendramakmur pada 19 April 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: