Menerbitkan Buku, Untuk Peradaban Baru

PULUHAN tas sekolah ditumpuk berjejer di atas meja titipan barang Toko Buku Gramedia, Jalan Damar, Padang, Sumatra Barat (Sumbar). Rak titipan barang di toko tersebut sudah penuh, sehingga tas puluhan siswa yang mampir ke toko itu, terpaksa ditaruh di atas meja.

Pemandangan hampir serupa, juga terjadi di Toko Buku Sari Anggrek, Jalan Permindo. Itu terjadi, sekitar pukul 13.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB setiap hari sekolah, ketika siswa SD, SMP dan SMA bubar dari sekolah.

Di dalam toko itu, para siswa tersebut lebih betah bolak-balik di rak komik dan cerita anak-anak, sehingga bagian itu terlihat lebih sesak. Yang juga terlihat ramai, bagian sastra, agama dan rak buku-buku terbitan baru.

Store Manager Gramedia Padang, Kriswanto mengatakan, penjualan di tokonya dalam dua tahun terakhir memang meningkat pesat. “Dari 2002 naik 17% pada 2003, dan naik lagi 38% pada 2004,” katanya.

Buku yang paling laku, menurutnya, soal anak dan remaja. Setengahnya adalah komik. “Seperti Detektif Conan edisi 41 yang terbaru, bisa terjual 700 eksemplar hanya dalam lima hari terakhir ini,” ujar Kriswanto kepada Media Indonesia, Rabu (11/5/2005) lalu.

Setelah itu, yang laku adalah buku-buku agama baik fiski maupun non fiksi. “Salah satu yang paling laku berjudul, La Tahzan, kami sempat kehabisan stok,” katanya.

Hal senada diungkapkan Wakil Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Sumbar Yusrizal KW. “Buku-buku terjemahan terbitan Mizan, Beranda, Ashamil, Gema Insani Pers, Forum Lintas Pena, saat ini sedang laku keras. Selain itu juga buku-buku psikologi, peningkatan kualitas diri dan seksologi,” katanya.

Hal itu, menurutnya, menandakan minat baca masyarakat di Sumbar memang cukup baik. “Walau tak semua yang datang ke toko buku langsung membeli, setidaknya mereka melihat-lihat apa ada buku yang bagus. Jika sekarang belum punya cukup uang, mereka akan membeli setelah ada uang,” ujar pria yang akrab dipanggil KW itu.

Sayangnya, meningkatnya minat baca masyarakat itu tak sebanding dengan perkembangan dunia penerbitan di Sumbar. “Penerbitan di tingkat lokal, tidak bisa berkembang cepat karena keterbatasan seperti kualitas cetak dan distribusi,” ujarnya.

Menurut KW, jika penerbit di Sumbar ingin menerbitkan buku untuk disebarkan di seluruh Indonesia, mesti melalui distributor di Jakarta. “Ini mahal, karena biaya akan meningkat sekitar 50 sampai 60 persen untuk distributor, sehingga harga buku pun meningkat,” katanya.

Walau demikian, toh semenjak 10 tahun terakhir, di Sumbar tetap menjamur penerbit buku seperti Yayasan Citra Budaya Indonesia (YCBI) yang dipimpin KW, Anggrek Media, Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau (PPIM), Universitas Eka Sakti (Unes), Universitas Negeri Padang (UNP), Universitas Andalas (Unand), Yayasan Garak, Anggrek Media, Pustaka Mimbar Minang dan Dewan Kesenian Sumatra Barat (DKSB).

Sebagian besar di antara penerbit itu, hanya bermodal tekad besar dan idealisme membangun dunia perbukuan di Sumbar. YCBI misalnya, karena keterbatasan dana, semenjak berdiri pada 1996 lalu, hanya menerbitkan sekitar 20 buku.

Namun, ini dinilai Sekretaris Dewan Kesenian Sumatra Barat (DKSB) Nasrul Azwar sebagai hal yang harus dipujikan. “Tak bisa membandingkan dengan daerah lain yang lebih dahulu merambah industri penerbitan,” katanya.

Soalnya, YCBI memang bukan bertujuan mencari untung semata. Tengok saja, sebagian untung penerbit ini diperuntukkan bagi biaya pelatihan siswa SD sampai SMA yang belajar mendalami bacaan dan menulis di Sanggar Sastra Pelangi yang juga dipimpin KW.

Sekali sepekan, belasan siswa dari berbagai sekolah terlihat tekun membaca dan menulis di sanggar yang terletak di Jalan S.Parman No 186 Padang itu. Hasil tulisan mereka, dipublikasikan dalam halaman khusus tiap Minggu di Harian Padang Ekspres.

“Kita harus terus meningkatkan minat baca dan menulis. Pada akhirnya, kita harapkan mereka nanti akan menulis buku dan menerbitkannya. Menerbitkan buku itu, sama dengan membuat sebuah peradaban baru,” kata KW yang juga sastrawan itu.

Untuk menerbitkan buku dengan YCBI, bisa dengan sistem royalty 10 persen dengan distribusi dan penjualan yang ditangani YCBI atau juga bisa hanya sekedar untuk disain grafis buku.

YCBI memang menjadi pelopor untuk disain grafis sampul dan isi yang lebih maju di Sumbar. “Disain itu penting, karena banyak orang yang tertarik membeli buku karena terpengaruh disain,” ujarnya.

Hal lain yang menarik dicermati, buku-buku terbitan Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau (PPIM). Pusat Pengkajian yang dibiayai oleh APBD Sumbar ini, semenjak setahun terakhir ini, memang aktif menerbitkan buku. Dalam setahun terakhir, lembaga ini sudah menerbitkan sekitar 22 buku, berupa kamus Bahasa Minang, buku adat, kebudayaan, sejarah dan fiksi.

“Selain menerbitkan buku baru, kita juga menerbitkan ulang buku-buku adat dan sejarah Minangkabau yang sebelumnya masih bertuliskan Arab Melayu,” kata Wakil Direktur PPIM Hawari Siddik. Hasil terbitannya dibagikan gratis ke sekolah, lembaga pendidikan, perpustakaan dan pemerintah daerah.

Buku-buku bertemakan Minangkabau memang sedang diminati pembaca. “Jangankan gratis, yang dijual pun terbilang laku,” kata KW. Beberapa buku bertema adat dan budaya Minangkabau yang diterbitkan YCBI seribu eksemplar, menurutnya, mengalami cetak ulang.

Namun, bukan berarti pula, para penerbit itu tak mencoba menerbitkan buku bertaraf nasional. Buku kumpulan puisi Budayawan AA Navis ‘Dermaga Lima Sekoci’, novel karya Sastrawan Wisran Hadi ‘Orang-Orang Belanti’ dan buku tulisan Pakar Hukum Tata Negara Saldi Isra ‘Kampanye dengan Uang Haram’, adalah beberapa di antara buku terbitan lokal yang beredar di nasional.


Tapi, ya itu tadi, untung yang lebih besar diraup distributor dan toko buku. Penerbit sendiri, masih bergelut dengan idealismenya. (Hendra Makmur)

~ oleh hendramakmur pada 19 April 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: