Membangkit Pariwisata Sumbar

Membangkit batang terendam. Begitu selalu disebutkan untuk setiap usaha membangun potensi yang tersimpan. Dalam hal ini, soalnya adalah tentang pariwisata Sumatera Barat alias Sumbar. Benarkah potensi itu selama ini terendam, sehingga mesti dibangkit? Tulisan ini mencoba sedikit mengulas soal potensi yang ada, dan apa semestinya yang dilakukan untuk membangun harta yang terpendam itu.

Melihat persoalan pariwisata Sumbar, tak bisa tanpa memperhatikan keadaan Indonesia secara umum. Semenjak krisis ekonomi menggayut negeri ini, dunia wisata Indonesia memang surut. Ditekan berbagai isu negatif : sejak dari demonstrasi, kerusuhan, sampai kepada terorisme. Dan, semua itu bukan lagi sekedar isu, ketika 185 jiwa melayang direnggut bom di Legian, Kuta, Bali, 12 Oktober lalu. Kecemasan negara asing akan Indonesia, memperoleh bukti. Maka keluarlah travel warning sampai kepada travel ban dari negara-negara asing yang melarang warga negaranya untuk bepergian ke Indonesia.

Mengharapkan bantuan negara-negara tetangga, tampaknya salah satu jalan yang ditempuh pemerintah. Atas lobi Indonesia, salah satu hasil KTT ASEAN ke-8 di Phnom Penh, Kamboja, 4-5 November lalu, menghimbau negara-negara di dunia untuk mencabut larangan bepergian ke Indonesia. Medio November ini, ketika polisi sudah mulai menyebut beberapa nama tersangka pengeboman, beberapa negara sudah mencabut larangan tersebut.

Dalam tiga bulan ini, kalau keadaan lancar-lancar saja, kondisi Bali diperkirakan akan kembali normal. Tingkat hunian hotel yang semula mencapai titik terendah —hanya 5 persen— kabarnya akan kembali normal. Walau begitu, sejumlah pengamat memperirakan, peristiwa itu tetap mengakibatkan turunnya pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun sebanyak 1 persen. Demikian besarnya pengaruh pariwisata Bali bagi perekonomian Indonesia.

Sebelum ada bom jahanam itu, pariwisata sudah menghidupi Bali dan bahkan Indonesia. Mengapa Sumbar belum bisa, setidaknya menjadi tujuan wisata alternatif? Ini bukan cerita hayalan. Daerah ini juga punya potensi alam yang sungguh tak sedikit. Kalau pun tak bisa sehebat Bali, setidaknya mendekatinya. Setelah ditelisik, menurut saya, setidaknya ada enam faktor mengapa pariwisata Sumbar tak berkembang sesuai yang kita inginkan.

Pertama, tak adanya standar prioritas dalam membangun wisata Sumatera Barat. Seharusnya, karena dana yang tersedia terbatas, mesti ada prioritas utama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Jadi, daerah yang mesti dikembangkan terlebih dahulu adalah yang punya daya tarik lebih besar bagi wisatawan, baru kemudian menyusul daerah lain. Bukittinggi yang punya alam istimewa dan dekat dengan berbagai objek wisata lain semisal Danau Maninjau, Payakumbuh dan situs budaya di Batusangkar seharusnya memang dijadikan pusat dan titik awal membangun pariwisata Sumbar.

Jadi, jangan hanya digelari dengan predikat kota wisata saja, tetapi juga menjadi prioritas utama untuk dibenahi. Kalau perlu, dijadikan sebagai pusat wisata Sumbar. Fasilitas bagi turis di kota ini harus dilengkapi. Dinas pariwisata bekerja sama dengan pemerintah setempat mesti memberi berbagai kemudahan untuk pariwisata. Kemudahan izin mendirikan kafe, restoran, toko souvenir, biro wisata, agen perjalanan, sewa kendaraan dan penginapan murah perlu diperhatikan. Setelah Bukittinggi, baru kemudian mengembangkan ke daerah-daerah lainnya.

Selain Bukittinggi dengan wisata daratnya, wisata laut di Mentawai mesti dapat perhatian serius. Seperti dimuat dalam Majalah Gatra 14 Juli 2001, ketika berlangsung “The World of Surf Contest” —sebuah lomba selancar bertaraf internasional— di Mentawai, beberapa orang peselancar asal Amerika Serikat dan Australia mengaku, saat ini lokasi ombak di Mentawai adalah yang terbaik di dunia. Kata mereka, kelebihannya pantai yang punya ombak mencapai tinggi empat meter itu adalah alami, bersih dan musim ombaknya berlangsung lama, antara Maret sampai November.

Kita tak bakal menyangka, Mentawai ternyata punya potensi besar yang diakui dunia. Padahal, selama ini, Mentawai belum diprioritaskan dalam pengembangan wisata. Di sana belum ada hotel, penginapan, kafe dan berbagai fasilitas yang mendukung pariwisata. Para turis menginap di kapal masing-masing, untuk kemudian berkeliling mengitari Mentawai mencari ombak bagus. Kalau logistiknya habis, harus berlayar 90 mil laut ke Padang untuk membelinya. Padahal, selama musim ombak itu, rata-rata 400 orang turis per bulan datang ke sini. Mereka transit melalui Singapura. Sejak tahun lalu, Silk Air yang melayani penerbangan tiga kali sepekan antara Padang-Singapura mesti mengganti pesawat mereka dari Fokker 70 dengan Air Bus 320. Bisa dibayangkan pengembangan produksi wisata yang terjadi, jika daerah itu menjadi prioritas untuk dikelola dengan profesional.

Kekurangan kedua, belum terkelolanya pariwisata Sumbar dengan manajemen yang baik. Sesuai otonomi daerah, semua sekarang memang ditentukan kebijaksanaan pemerintah di daerah. Harus dipikirkan, apakah hanya akan memikirkan restribusi yang tak seberapa atau mencoba membuat sebuah formula yang pas untuk memancing investasi di bidang pariwisata. Apa lagi, pasar bebas ASEAN atau AFTA 2003 sudah diambang mata. Dengan sendirinya, pengusaha-pengusaha se-ASEAN akan berdagang dan berinvestasi lintas negara. Sudahkah disiapkan perangkat hukum kita untuk mengatur investasi, khususnya di bidang pariwisata untuk menyambut para investor tersebut? Malaysia yang sudah terlebih dahulu maju dengan manajemen pariswisatanya perlu dijadikan contoh.

Hipotesanya, swastanisasi punya prospek lebih baik untuk memajukan dan memberi keuntungan yang lebih dari wisata, ketimbang jika segala-galanya diurus pemerintah. Pemerintah nanti sebaiknya tak lagi jadi pemain, tapi sebagai pembuat beleid alias aturan main, pengawas dan perangsang berbagai usaha masyarakat untuk mendukung pariwisata itu. Lalu, juga harus melakukan pembinaan kepada biro-biro wisata domestik untuk dapat bersaing dengan pengusaha-pengusaha se-ASEAN yang bakal segera menyerbu pasar Indonesia.

Kelemahan ketiga, kurangnya sosialisasi kepada masyarakat untuk berpastisipasi memajukan pariwisata. Salah satu kelebihan Bali sehingga menjadi pusat wisata, adalah sikap masyarakatnya yang ramah dan bersahabat dengan wisatawan. Ini membuat pelancong betah dan merasa nyaman untuk berlama-lama di sana. Kalau pun usaha kecil masyarakat hidup, semisal pedagang cendera mata dan jasa pijat, tapi itu ditawarkan dengan cara yang sopan dan ramah.

Seperti jamak terjadi di berbagai tempat wisata di Sumbar, di Bali tak bakal ditemui pengamen yang asal genjreng dan kemudian memaksa orang untuk membayar. Ini salah satu contoh kenyamanan Bali yang memang terlupakan akibat peristiwa peledakan bom itu. Makanya, kini sudah seharusnya menerapkan “security, safe and service” : wisata yang aman, nyaman dan pelayanan yang baik.

Usaha mengajak masyarakat untuk membuat wisatawan betah ini membutuhkan sosialisasi secara bersama-sama dari pemerintah, biro wisata, lembaga pendidikan dan tokoh masyarakat. Sebaliknya, kedatangan wisatawan ke Sumbar yang masyarakatnya agamis dalam Adat basandi Syara’, Syara’ basandi Kitabullah, harus dibuat agar tak mengganggu filosofi luhur itu. Kita juga tak ingin nilai-nilai yang kita anut diporak-porandakan oleh budaya asing yang merusak.

Faktor keempat, belum terkelolanya dengan baik wisata budaya.

Selama ini, banyak yang berpendapat, pengembangan wisata harus dibarengi dengan pertumbuhan bisnis haram seperti prostitusi. Artinya, sebagai tuan rumah, kita terpaksa menyediakan tempat pelayanan kehidupan bebas untuk wisatawan. Tak harus demikian. Makanya, anggapan semacam itu harus dicegah sebelum wisatawan datang ke Sumbar. Caranya, bisa dengan mengedepankan wisata budaya. Budaya yang unik, itu salah satu kelebihan Bali. Hal yang juga dimiliki Sumbar.

Minangkabau maupun Mentawai banyak menyimpan budaya yang bisa dijual untuk dinikmati wisatawan. Hanya saja, perlu even untuk mengelola wisata budaya tersebut. Selain ritual budaya seperti Tabuik yang hanya bisa dilaksanakan setiap Muharram, sebaiknya, berbagai even budaya lain seperti pacu itik, pacu kuda, randai, dan pertunjukan Minang harus disesuaikan dengan waktu liburan di negara-negara asing. Even itu tentunya harus dipaket dengan baik, agar menarik.

Seorang kawan saya yang sudah tahunan bergerak di usaha biro wisata, memaket perjalanan wisata budaya ke Mentawai. Salah satu isinya adalah hidup sepekan dengan masyarakat Mentawai pedalaman, untuk melihat dari dekat bagaimana kehidupan masyarakat asli itu. Jadi, wisatawan yang ikut paket itu, bisa menikmati aksi sikerei alias dukun Mentawai mengobati pasiennya, proses pentatoan, musim anggau, budaya dan kehidupan keseharian mereka.

Untuk Minangkabau, acara sejenis pun bisa dibuat. Setiap ada acara batagak pangulu, datuak, atau ritual adat lainnya akan sangat menarik bagi wisatawan. Apa lagi, kalau acara itu dipaket dengan acara syukuran dalam bentuk malam tari-tarian, randai, saluang, silat, dan genderang tansa. Ini nantinya akan membuka banyak lapangan kerja di bidang event organizer, kesenian, jasa guide, biro wisata dan angkutan. Belum lagi bertambahnya penghasilan masyarakat dari penginapan, kafe dan usaha souvenir.

Kelima, pariwisata kita malas berpromosi. Untuk mempromosikan lokasi wisata kita sendiri, kok malah dilakukan negara lain. Sam George, Redaktur Surfer Magazine, Amerika Serikat, mengungkapkan kepada saya bahwa majalah tempatnya bekerja sudah berulang kali mempromosikan Mentawai sebagai tempat surfing yang asyik lewat tulisan dan foto-foto. Belum lagi, melalui beberapa situs para surfer yang memberi informasi soal Mentawai. Makanya, kala ada even surfing internasional di Mentawai tahun lalu, tak heran diliput oleh stasiun TV sekelas CNN, wartawan dan fotografer-fotografer dunia pun berdatangan. Dan, film surfing Mentawai pun lebih dulu muncul di CNN ketimbang di televisi nasional.

Mestinya, kegiatan promosi harus dilakukan gencar baik oleh pemerintah (pusat sampai ke daerah), biro wisata, hotel serta pelaku wisata lainnya. Bisa dimulai dengan membuat logo pariwisata ke Sumbar, kemudian ditetapkan slogannya. Logo dan moto ini kemudian dibuat seragam, siapa pun yang akan mempromosikannya, baik lewat media cetak maupun elektronik. Selain itu, cara berpromosi yang relatif murah, mudah dan efektif adalah dengan membangun situs wisata Sumbar selengkapnya di internet. Pemerintah dan biro wisata mau tak mau harus melakukannya.

Terakhir atau keenam, wisata Sumbar belum berwawasan lingkungan. Kita dapat melihat tragedi kotornya air Maninjau yang mencapai puncak setahun lalu menimbulkan trauma. Lihatlah, Maninjau kini lengang, meski airnya telah kembali jernih. Seperti ternodanya Bali oleh bom, ternodanya air Danau Maninjau, membutuhkan kerja promosi yang tak mudah. Sudah adakah promosi yang memberi tahu kalau air Maninjau telah kembali jernih?

Ke depan, setiap tempat wisata di Sumbar, harus mendapat perhatian penuh dari pemerintah, tokoh masyarakat dan LSM yang peduli dengan lingkungan. Bapedalda perlu mengawasi secara intens, agar alam tak rusak malah dengan dibangunnya fasilitas wisata. Seorang peselancar asal Australia mengatakan kepada saya, kalau dia tak setuju Mentawai dibangun menjadi tempat wisata dengan berbagai fasilitasnya. Lho? Soalnya, kalau sudah dibangun jadi lokasi wisata, jadi kotor. Tak enak lagi surfing di sini katanya. Itu buktinya, pembuatan fasilitas pariwisata di Indonesia selama ini memang belum berwawasan lingkungan.

Membicarakan persoalan pariwisata memang kompleks. Takkan bisa selesai sekali lecut, seperti dengan tulisan sederhana ini. Tetapi, ini mungkin bisa dianggap sebagai pembuka pikiran untuk melihat kendala membangun pariwisata Sumbar khususnya dan Indonesia secara umum. Semoga pariwisata Bali kembali bangkit. Dan, semoga pariwisata Indonesia pun bangkit. Semoga juga, pariwisata Sumbar ikutan bangkit, setidaknya menjadi tujuan wisata alternatif di samping Bali. (Hendra Makmur)

Dimuat di rubrik ‘Opini’ Harian Mimbar Minang, Senin, 25-11-2002

~ oleh hendramakmur pada 19 April 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: