Masih Ada Sastrawan di Ranah Minang

Sejak dulu, Ranah Minang dikenal sebagai gudangnya sastrawan. Hingga kini, proses regenerasi terus berlangsung. Gus tf Sakai, generasi muda sastrawan Minang, menyabet penghargaan sastra bergengsi ‘SEA Write Award’ dari Pemerintah Kerajaan Thailand.

PULUHAN seniman, penyair, sastrawan, budayawan, akademisi dan wartawan, Sabtu (4/9/2004) lalu terlihat berkumpul di aula Gedung Genta Budaya, Jalan Diponegoro, Padang, Sumatra (Barat). Semua tampak terpaku mendengar ‘Kato Pasambahan’ (kata pembukaan berisi pepatah-petitih Minang) yang dibawakan Mak Khatib, seniman tradisi Minang, sebagai pembuka acara.

Acara sederhana itu diperuntukkan bagi Gus tf Sakai. Sastrawan asal Payakumbuh, Sumbar itu didaulat memperoleh anugerah seni dari Komunitas Penggiat Sastra Padang (KPSP) dan Dewan Kesenian Sumatra Barat (DKSB). Tampak di antara hadirin, Asisten III Pemprov Sumbar, Daniwar Djalil yang datang mewakili gubernur.

Sebenarnya, anugerah tersebut, tak lebih sebagai sebuah syukuran atas penghargaan lebih besar yang diterima Gus tf dari Pemerintah Kerajaan Thailand. Apa lagi, jika bukan SEA Write Award, sebuah penghargaan bergengsi untuk para sastrawan di Asia Tenggara. Penghargaan yang pernah diterima oleh satrawan sekelas Iwan Simatupang, AA Navis, Umar Khayam, Goenawan Mohamad, Taufiq Ismail, NH Dini, Wisran Hadi, Darmanto Jatman dan sastrawan ternama Indonesia lainnya.

Pada 6 Oktober ini, Gus tf akan bertolak ke Thailand untuk menerima anugerah tersebut. “Semoga, ini membuka mata pemerintah dan masyarakat kita, bahwa dunia kesenian telah menyumbangkan sesuatu yang berharga untuk daerah ini,” kata Ketua DKSB Sumbar Ivan Adilla.

Ivan pantas mengatakan itu, karena pemerintah provinsi selama berada di bawah Gubernur Zainal Bakar kurang memperhatikan kegiatan kesenian, kepenyairan dan satra di daerah ini. DKSB saja, semenjak dua tahun ini bisa dikatakan lumpuh. “Hal itu, karena minimnya anggaran untuk DKSB pada APBD 2003 dan 2004,” kata Sekretaris DKSB, Nasrul Azwar.

Jika pada 2001 dan tahun sebelumnya DKSB mendapat Rp300 juta pertahun untuk dana operasional dan program, pada 2002, malah turun menjadi Rp150 juta. Dan, pada 2003 dan 2004 hanya diberi Rp75 juta. “Dana sebanyak itu, hanya bisa untuk operasional. Program jadi terbengkalai,” ujarnya.

Bahkan, listrik di kantor DKSB pernah diputus oleh PLN karena tak ada duit untuk membayar rekening. Dunia sastra dan kesenian, agaknya belum dianggap sebagai sesuatu yang penting. Padahal, semenjak sebelum kemerdekaan hingga kini, Sumbar sudah menyumbang banyak penyair dan sastrawan berkelas.

Mereka, antara lain: Yogi (lahir 1869), Rustam Effendi (1902) dan Muhammad Yamin (1903). Setelah itu, muncul nama AA. Navis, Rusli Marzuki Saria dan Darman Moenir disambut kelompok muda seperti Adri Sandra, Gus tf Sakai, Yusrizal KW, Iyut Fitra, Agus Hernawan, Sondri BS serta puluhan sastrawan dan penyair lainnya. Selain mereka, juga ada penyair asal Sumbar yang berkarya di rantau seperti Taufiq Ismail, Leon Agusta dan Hamid Jabbar.

Namun, dalam tataran karya, bukan berarti tak ada yang perlu dikritisi dari mereka. Guru besar Sastra Indonesia Universitas Negeri Padang (UNP) Hasanuddin WS mengatakan, banyak penyair dan sastrawan, terutama yang tinggal di daerah, hanya menekuni hal-hal yang berada dalam tataran permukaan dan dalam lingkaran sempit.

“Munculnya heboh tentang sastra pinggiran, sastra marjinal, dan bahkan sastra kepulauan, merupakan bukti bahwa penyair dan sastrawan kita lebih banyak berkutat pada kepentingan sistem budaya dan ideologi tertentu,” katanya.

Sebenarnya, menurut Hasanuddin, adanya sistem budaya yang berbeda-beda dalam masyarakat Indonesia, merangsang pembuahan silang antar sistem budaya tersebut yang menghasilkan hal-hal baru. “Namun bertolak dari insiden antaretnik, antaragama belakangan ini, patut dipertanyakan kesungguhan kita melakukan pengkajian silang antarsistem budaya untuk tujuan memberikan penghargaan yang tulus terhadap sistem budaya lain yang berbeda itu.”

Menurutnya, tanpa sadar tampaknya kita ingin tumbuh dan hidup dalam sistem budaya warisan leluhur sendiri, meskipun bibir kita seringkali menyebutkan ungkapan keramat, bhineka tunggal ika. “Kita terus menerus-menerus melihat perbedaan yang ada di antara kita, meskipun sesungguhnya, sisi persamaan yang bisa merekatkan, lebih besar dari perbedaan yang dipersoalkan itu,” ungkapnya.

Salah satu yang berhasil memulai persilangan itu, menurut Hasanuddin, adalah Gus tf Sakai. (Hendra Makmur)

~ oleh hendramakmur pada 19 April 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: