Lamban, Investasi di Sumbar Butuh Promosi

RUMAH-rumah kuno berasitektur campuran Eropa dan Minangkabau berderet rapi di Nagari Koto Gadang, Sianok, Kabupaten Agam, Sumatra Barat (Sumbar). Ketika Media Indonesia berkeliling nagari itu, pertengahan November 2005 lalu, sebagian di antara bangunan itu tampak tak terawat dengan baik. Halamannya ditumbuhi rerumputan liar yang mulai merimbun.

Menilik model bangunan dan kondisi perekonomiannya, nagari yang tak jauh dari Kota Bukittinggi itu bisa dikatakan sudah maju sejak berpuluh tahun lalu. Namun, deretan rumah di kampung Haji Agus Salim dan Sutan Syahrir itu, sebagian besar kini kosong. Penghuninya, pergi jauh merantau meninggalkan Sumbar. Sebagian besar berkarir sebagai dokter, intelektual, birokrat, diplomat dan militer. Sebagian lainnya, berkarir khas ala orang Minang, sebagai pedagang. Mereka yang tinggal di kampung kini bekerja sebagai petani, pembuat kerajinan perak dan sulaman.

Koto Gadang bisa menjadi gambaran, bagaimana kondisi nagari-nagari di Minangkabau kini. Di luar bulan baik, semisal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha, kampung-kampung di Sumbar lengang.

Selain karena mengikuti kebiasaan merantau yang telah membudaya bertahun-tahun, Rang Minang pergi merantau karena kondisi alam Sumbar dianggap miskin untuk berusaha. Lahan pertanian dan perkebunan relatif lebih kecil, lalu-lalang orang yang bisa menimbulkan kegiatan dagang, juga jauh lebih sedikit di bandingkan di Pulau Jawa.

Anggapan itu bisa dianggap sepenuhnya benar melihat kenyataan investasi di Sumbar.

Data lima tahun terakhir dari Badan Koordinasi Promosi dan Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Sumbar menunjukkan investasi di Ranah Minang memnag bergerak lamban dibanding provinsi lainnya di Pulau Sumatra. Jumlah investasi yang tak seberapa masuk ke provinsi dengan 4,5 juta penduduk itu, juga naik turun, tak stabil.

Padahal, menurut Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumbar Bidang Investasi Aim Zein, Sumbar sebenarnya punya potensi besar untuk investasi yang selama ini belum tergali maksimal yakni di bidang perikanan, pertanian, perkebunan dan pariwisata.

“Yang jadi masalah utama bagi investor yakni kepastian hukum di bidang pertanahan. Investor harus berpikir dua kali untuk menanamkan modalnya di Sumbar karena takut nanti tanahnya didemo masyarakat dengan alasan tanah ulayat,” ujarnya, Kamis (1/12/2005).

Lagi pula, menurut Aim, pemerintah provinsi (pemprov) dan kabupaten/kota belum melakukan promosi tentang potensi Sumbar secara lengkap dan baik. “Sebelum promosi, harus dilakukan dulu maping (pemetaan) potensi secara detil dengan melibatkan pengusaha. Sehingga, calon investor memahami kondisi Sumbar sebenarnya dan tidak meraba-raba,” jelasnya.

Senada dengan itu, anggota DPRD Sumbar Guspardi Gaus menekankan agar pemerintah daerah membenahi persoalan yang ada sebelum mengundang investasi ke Sumbar.

“Selain masalah tanah, investasi Sumbar terhalang karena persoalan birokrasi, regulasi, keamanan dan kenyamanan,” katanya.

Menurutnya, Ranperda Tanah Ulayat yang dikembalikan DPRD kepada pemprov pada periode lalu karena deadlock, hendaknya diperbaiki oleh pemprov sekarang dengan aturan yang menciptakan win-win solution antara investor dengan masyarakat adat pemilik ulayat,” katanya.

Menanggapi kunjungan Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi ke Selangor, Malaysia pekan lalu

bersama beberapa pejabat pemprov, pengusaha dan pimpinan harian terbitan Padang untuk bertemu dengan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Selangor Malaysia Dato’ Tang See Hang, pengusaha setempat dan perantau Minang, Aim dan Guspardi menilai hal itu belum akan berpengaruh secara signifikan pada perbaikan investasi di Sumbar.

Menjawab itu, menurut Gamawan Fauzi, kunjungan tersebut memang tidak langsung sekaligus akan memberi dampak untuk investasi. “Kita harus menelusuri dari hulu, itu tugas pemerintah. Tinggal sekarang, bagaimana pengusaha melakukan follow up,” katanya.

Kunjungan tersebut, menurut dia, untuk melihat potensi kerja sama yang bisa dikembangkan. “Di antaranya, ekspor buah-buahan ke Malaysia, pembuatan pabrik kemasan (packaging) di Sumbar, perikanan dan wisata leluhur dari perantau Minang di Malaysia. Pada pertengahan Januari, pemerintah dan pengusaha setempat akan ke Sumbar untuk menindaklanjutinya,” kata Gamawan.

Untuk menyambut para investor, Gamawan juga berjanji akan memperbaiki perizinan investasi. “Kita akan buat pelayanan investasi satu pintu di Sumbar. Saya akan bicarakan konsepnya dengan bupati dan wali kota,” ulasnya. Ya, agar kampung di pelosok Sumbar tak lagi sesunyi sekarang. (Hendra Makmur)

Realisasi Investasi ke Sumbar

No

Tahun

PMDN (Rp)

Persentase

PMDN

PMA

(US$)

Persentase

PMA

1

2000

187 miliar

61 juta

2

2001

183 miliar

turun 2,14%

107 juta

naik 75,41%

3

2002

348 miliar

naik 90,16%

118 juta

naik 10,28%

4

2003

204 miliar

turun 41,38%

29 juta

turun 75,42%

5

2004

631 miliar

naik 209,31%

29 juta

sama (0%)

PMDN : Penanaman Modal Dalam Negeri

PMA : Penanaman Modal Asing

(Sumber: BKPPMD Sumbar)

~ oleh hendramakmur pada 19 April 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: