Kemiskinan Tinggi, Perantau Diharap Tak Menyumbang Fisik

JIKA ingin melihat pawai kendaraan dari berbagai penjuru Indonesia, datanglah ke Sumatra Barat (Sumbar) dalam suasana lebaran. Hingga sepekan setelah lebaran, Kamis kemarin (10/11/2005), masih ditemukan beragam nomor plat mobil dan bahkan sepeda motor berseliweran di jalan raya dari berbagai daerah itu.

Hal itu terlihat amat jelas ketika melewati Lembah Anai yang terletak di ruas jalan Padang -Bukittinggi. Jalur yang sempat macet sejauh empat kilometer pada akhir pekan lalu hingga awal pekan ini tersebut, memang merupakan jalur terpadat di Sumbar.

Setiap lebaran, pemandangan tersebut selalu terjadi. Selain di jalanan, Bandara Internasional Minangkabau (BIM) juga terlihat lebih ramai dari biasanya. Mereka yang datang berlebaran ke Sumbar tersebut adalah perantau asal Minang yang tinggal dan bekerja di berbagai pelosok Indonesia.Seperti halnya daerah lain di Indonesia, lebaran di Sumbar menjadi momen terbesar perantau untuk mudik.

Namun, berbeda dengan daerah lain, mudik di Sumbar tak mesti menjelang salat Idul Fitri. Banyak pemudik yang pulang setelah salat Hari Raya di tempat menetapnya, kemudian baru pulang ke kampungnya. Selain untuk menghindari macet arus mudik, hal tersebut untuk menghemat waktu di kampung karena acara utama yang mereka hadiri biasanya digelar setelah lebaran.

Acara utama tersebut yakni, ‘pulang basamo’ (pulang bersama). Di berbagai nagari, pulang basamo biasanya digelar beberapa hari setelah lebaran. Selain digelar pertunjukan kesenian tradisi, dalam acara tersebut juga diadakan musyawarah besar perantau dengan orang kampung dan yang terpenting pengumpulan dana untuk pembangunan kampung.

“Hampir seluruh bangunan fisik milik masyarakat di Sumbar seperti masjid, kantor wali nagari, sekolah, musala dan surau dibangun dengan biaya utama atas sumbangan perantau, salah satunya dari acara pulang basamo,” kata Muchtar Naim, sosiolog yang juga anggota DPD RI dari Sumbar.

Di Nagari Koto Gadang VI Koto, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, misalnya, kantor wali nagari dengan nilai sekitar Rp500 juta dibangun dengan dana sebagian besar dari perantau.

“Demikian juga dua masjid, beberapa surau dan dua bangunan sekolah mengaji di sini. Namun, banyak masyatakat kesulitan untuk membiayai pendidikan anak mereka. Kita sebenarnya berharap pembangunan mental seperti pendidikan juga hal yang amat penting untuk diperhatikan,” kata Wali Nagari Koto Gadang M. Idrus Datuk Rajo Angek NK kepada Media Indonesia.

Sayangnya, menurut Muchtar Naim, sumbangan perantau yang selama ini diberikan lebih banyak diarahkan untuk pembangunan fisik dan jarang memperhatikan pembangunan mental tersebut. “Jika ada yang untuk membantu pendidikan keluarga tak mampu atau beasiswa, paling-paling pribadi dalam bentuk zakat atau infak,” katanya.

Muchtar mengatakan, sudah saatnya, perantau Minang ikut membantu dalam pembangunan non fisik tersebut secara lebih luas. Perantau Minang, menurutnya, selain di seluruh pelosok Indonesia, juga sudah terdapat di seluruh kota besar dunia. “Jumlahnya paling sedikit dua kali lipat dari total penduduk Sumbar yang berjumlah 4,5 juta jiwa. Mereka potensi besar untuk mengatasi masalah kemiskinan di Sumbar,” ujar Muchtar

Angka kemisikinan di Sumbar memang cukup tinggi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar pada September lalu menyebutkan, dari 1.070.543 rumah tangga, sebanyak 232.234 (21,69%) tergolong sebagai rumah tangga miskin.

Artinya, dari sekitar 4,5 juta penduduk di Sumbar, hampir 1 juta penduduknya masih sangat miskin. Merekalah yang baru-baru ini memperoleh dana program kompensasi pengurangan subsidi bahan bakar minyak (PKPS-BBM) sebanyak Rp100 ribu per bulan.

Wakil Gubernur Sumbar Marlis Rahman mengakui pengelolaan dana sumbangan dari perantau selama ini belum terkelola baik. “Kita belum punya data base perantau, bahkan data organisasi perantau secara lengkap. Ini termasuk menjadi program prioritas untuk ditugaskan pada Asisten III Bidang Kesejahteraan Sosial,” kata Marlis yang menjabat bersama Gubernur Gamawan Fauzi sejak Agustus lalu.

Marlis berharap, perantau Minang yang kini banyak pulang basamo selama lebaran, tak memberikan ‘ikan’. “Lebih baik mereka membantu masyarakat di kampung dengan memberikan ‘pancing’ dalam bentuk investasi,” ujarnya.

Misalnya, jika 10% saja dari total penduduk Sumbar diberi bantuan masing-masing satu ekor sapi, berarti sudah ada 450 ribu ekor sapi. “Bantuan seperti ini, akan lebih membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ulasnya. (Hendra Makmur)

~ oleh hendramakmur pada 19 April 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: