Festival Minangkabau, Mengemas Budaya untuk Bahan Bakar

SUARA rebab seperti menangis, mengiringi dendang pesisir yang dilagukan seorang pria paruh baya. Lalu, terdengar gendang rebana menghentak dan ritme lagu pun berubah menjadi cepat. Persis di tengah panggung utama Taman Budaya Padang, Sumatra Barat (Sumbar), Sabtu (18/12/2004) malam tersebut, lima orang pemuda berseragam silat warna kuning berjalan mengelilingi apa yang disebut dengan lukah gilo, sambil memeragakan jurus-jurus silat.

Lukah yang dibalut kain serba merah tersebut dipegangi oleh dua pria berseragam silat warna merah. Tiba-tiba lukah bergerak sendiri maju mundur, seperti mengangguk. Semakin lama semakin cepat, membawa pemegangnya berkeliling panggung, hingga tak mampu dikendalikan. Keduanya kemudian terjatuh berguling di atas panggung, tak sadarkan diri sambil memegangi lukah yang berhenti bergerak.

Si pria tadi, berhenti menggesek rebab. Dia berjalan menuju pemuda yang pingsan, menepuk dengan tangannya dan memerciki dengan air. Para pemuda tersadar, dan kemudian bergabung untuk berdendang bersama mengiringi rebab yang kembali berlagu.

Lukah adalah perangkap yang terbuat dari anyaman bambu atau rotan yang biasa dipakai untuk menangkap belut di sawah atau ikan di sungai. Dalam penampilan malam itu, ia berubah menjadi ‘bintang’ panggung, karena ‘diisi’ dengan kekuatan magic. Sehingga, bisa bergerak sendiri seperti gila (gilo) dan membuat pemegangnya tak sadarkan diri.

Budaya ini biasa ditampilkan di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumbar, sebagai hiburan di nagari-nagari di sela-sela penampilan rebab. Malam itu, dibawa ke Padang untuk tampil dalam Pekan Budaya Sumbar, Festival Minangkabau 2004 yang berlangsung 18-24 Desember ini.

Kepala Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Sumbar, Yulrizal Baharin mengatakan, masih banyak tradisi dan budaya Minangkabau yang belum terangkat ke permukaan. Salah satunya, adalah ‘lukah gilo’ tersebut. “Sebagian besar belum terkelola dengan baik, makanya kita ingin menginventarisir dalam festival ini,” kata Yulrizal yang juga ketua pelaksana acara tersebut.

Selain itu, 19 kabupaten/kota, komunitas keturunan Tionghoa Padang serta tamu dari Nangroe Aceh Darussalam, Sumatra Utara, Riau, Jambi, Jawa Barat, Jawa Timur serta Malaka dan Selangor ( Malaysia ) juga menampilkan kesenian serta budayanya masing-masing.

Acara tersebut dibuka Sabtu (18/12) oleh Deputi Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata Bidang Pengembangan Kapasitas dan Kerjasama Luar Negeri, Thamrin B. Bachri yang didampingi Gubernur Sumbar Zainal Bakar.

Acara pembukaan di halaman Taman Budaya yang menghadap Samudera Indonesia itu diwarnai hujan yang cukup lebat. Namun, ratusan penari massal yang membawakan modifikasi beberapa tari tradisi tersebut tetap tampil elok dan mendapat sambutan meriah. Tak tertinggal, kontingen dari berbagai kabupaten – termasuk beberapa ibu berusia lanjut – mau berbasah-basah demi menyukseskan acara itu.

Melihat semangat itu, Bupati Agam Aristo Munandar, Bupati Pasaman Baharudin R dan Bupati Pasaman Barat Zamri langsung turun ke lapangan, ikut berbasah-basah menyemangati kontingennya.

Selain mengikuti lomba randai, selawat dulang, festival pidato adat, festival saluang dendang dan pencak silat Minangkabau, masing-masing daerah juga membawa tradisi spesifik masing-masing kabupaten. Semenjak dari upacara perkawinan yang unik, upacara turun mandi raja-raja, tradisi mengantar makanan berbuka puasa sampai kepada tradisi ketika orang Minang meninggal dunia.

“Setelah ini, kita ingin mengemas seluruh tradisi dan budaya tersebut untuk dimasukkan ke kalender wis ata. Ini akan menjadi bahan bakar besar untuk pengembangan pariwisata di daerah ini,” kata Yulrizal.

Obsesi itu karena Pemprov Sumbar sudah menetapkan 2005 sebagai Tahun Kunjungan Minangkabau (Visit Minangkabau Year). “Usaha ini, kita harapkan bisa mewujudkan cita-cita kita menjadikan Sumbar sebagai pintu gerbang kepariwisataan di belahan barat Indonesia ,” kata Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik dalam sambutan tertulisnya.

Selain diisi pagelaran dan festival seni, festival yang dipusatkan di Taman Budaya, Museum Adityawarman dan sepanjang Jalan Diponegoro, Padang tersebut, juga dimeriahkan pameran budaya, produksi daerah, seminar dan promosi wisata. (Hendra Makmur)

~ oleh hendramakmur pada 19 April 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: