Dari Batubara ke Pariwisata

GERAK perekonomian Kota Sawahlunto, Sumatra Barat (Sumbar) merosot semenjak PT. Bukit Asam (BA) menghentikan tambang dalam. Agaknya, hal ini membuat pemerintah kota setempat harus memeras otak untuk mencari alternatif lain sebagai sumber alternatif lain untuk PAD.

“Sembari menunggu rencana pengembangan tambang dalam tersebut, kita mengembangkan pertanian, peternakan, kerajinan dan saat ini serius membangun pariwisata,” kata Wali Kota Sawahlunto Amran Nur, kepada Media Indonesia, Rabu (10/8/2005).

Menurutnya, kota seluas 27 ribu hektare itu tergolong unik dibanding kota lainnya di Indonesia. “Bila kota lainnya di Sumbar terbentuk oleh perkembangan komunitas Minang, sedangkan Sawahlunto menjadi kota karena usaha tambang yang dirintis semenjak zaman pemerintahan Hindia Belanda tahun 1887,” katanya.

Dosen sejarah Universitas Andalas Zulqayyim mengatakan, Sawahlunto mulai menjadi pemukiman setelah Belanda menanamkan modalnya sebanyak 5,5 juta gulden untuk merealisasikan tambang. “Penambangan dimulai pada 1891 dan berproduksi pada 1892,” kata salah seorang penulis buku ‘Sawahlunto Dulu, Kini dan Esok’ tersebut.

Pemukiman, menurut Zulqayyim, terus berkembang menjadi kota kecil dengan penduduk yang intinya adalah pegawai dan pekerja tambang. “Selain itu, Belanda juga membangun jalur kereta api menuju pelabuhan Emma Haven yang kini menjadi pelabuhan Teluk Bayur. Jalur pengangkut transportasi ini diselesaikan tahun 1894,” tambah Zaiyardam Zubir, peneliti sejarah Sawahlunto.

Karena dibangun oleh Belanda sebagai kota tambang, menurut Zaiyardam, kota tersebut meninggalkan banyak bangunan tua berupa kuburan Belanda, rumah pejabat kolonial, rumah ransum, gedung societet, ommvarmer, dan bangunan lainnya berasitektur abad ke-19.

“Jumlahnya sekitar 100 bangunan. Kita akan tetap melestarikannya, agar wajah kota ini tetap unik seperti kota di abad ke-19,” kata Kepala Kantor Pariwisata Sawahlunto, Herwandi kepada <i>Media<p>.

Menurut dia, pariwisata tambang berbasis sejarah tersebut sudah ditetapkan menjadi konsep pariwisata kota kecil sejauh 95 km di timur Kota Padang tersebut. “Wisata jenis ini biasanya diminati sejarah, archeologi dan siswa sekolah,” katanya.

Yang jadi masalah, sebagian bangunan bersejarah tersebut adalah aset PT. Bukit Asam (BA), sehingga pemerintah kota tak bisa berbuat banyak jika tak PT. BA keberatan asetnya dipakai.

Sumber Media Indonesia di kota Sawahlunto mengatakan, karena persoalan aset tersebut, hubungan antara pemerintah kota dan jajaran pimpinan PT. BA Unit Penambangan Ombilin (UPO) sempat dingin. “Malah ada yang mengompori agar pemkot tak mengeluarkan izin lokasi penambangan, jika PT.BA tak kompromi,” katanya.

Namun, itu dibantah oleh Herwandi. “Kita baik-baik saja kok, masih sering mengadakan rapat koordinasi,” katanya. Senada dengan itu, Wali Kota Amran Nur mengatakan pihaknya tetap akan melibatkan PT. BA dalam mengelola pariwisata tambang tersebut.

Humas PT. BA-UPO Evi Trinadi Putri mengatakan hal serupa. “Kita dukung rencana pemkot tersebut. Sebelumnya, beberapa gedung yang tak terpakai sudah kita serahkan dengan status pinjam pakai. Untuk gedung pencucian itu, masih dalam proses,” katanya. (Hendra Makmur)

~ oleh hendramakmur pada 19 April 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: