Bukittinggi, Si Cantik yang Kian Sepi

BUKITTINGGI masih basah pagi itu, setelah semalam disirami hujan. Seorang kusir bendi (dokar) menghisap dalam kreteknya, coba menghilangkan dingin yang menggigit, pada Minggu (8/5/2005) pagi itu. Di belakangnya, jarum jam gadang yang berdiri kokoh, sudah melewati angka sembilan.

“Sudah beberapa bulan ini, kita kekurangan penumpang. Hidup jadi tambah sulit,” kata Syafri, salah satu kusir kepada Media. Para kusir tersebut, kini lebih sering ngetem di sekitar jam gadang, pusat Kota Bukittinggi. Biasanya, wisatawan bisa menyewa bendi tersebut untuk berkeliling kota sejuk itu.

Bukittinggi kini, masih secantik dulu. Ngarai Sianok, berupa lembah dengan tebing terjal masih sangat indah dipandang dari Panorama. Puluhan ekor kera yang mangkal di tempat tersebut, juga masih ada. Namun, sekarang mereka sering berebut makan, karena pengunjung yang biasa memberi kacang, sudah jauh berkurang.

Demikian juga Benteng Fort de Kock yang didirikan Kapten Bauer pada 1825 lalu di Bukit Jirek, masih berdiri kokoh, dikelilingi meriam di dalam taman. Berjalan menyeberang di atas jembatan gantung dari Benteng ke kebun binatang masih terasa nyaman, karena angin dari Gunung Singgalang dan Marapi yang berada di arah selatan terus mengalirkan kesejukan.

Penat berjalan, singgah di Los Lambuang, masih jadi pilihan terbaik. Pasar di lereng bukit yang khusus menjual makanan dan masakan itu terletak antara Pasar Ateh dan Pasar Bawah. Nasi kapau, rendang, usus sapi isi telor, sambalado mudo dan ketupat Pitalah yang dijual di sana, ternyata masih tetap menggiurkan seperti dulu.

Belanja pakaian di Pasar Ateh juga masih tetap relatif murah, tak banyak berubah. Demikian juga jam gadang, masih indah dipandang dan pelatarannya masih nyaman untuk sekedar nongkrong.

Jika ada yang berubah, salah satunya yakni Lubang Japang. Lubang persembunyian militer Jepang itu dibangun atas perintah pimpinan tentara Jepang pada waktu Perang Dunia kedua, Jenderal Watanabe.

Liang untuk kepentingan pendudukan militer Jepang tersebut berdiameter sekitar tiga meter, mencapai kedalaman 40 meter di bawah permukaan tanah. Lubang yang bercabang-cabang sepanjang 1,5 km tersebut, semulanya hanya berdinding tanah. Entah apa alasannya, pemerintah kota Bukittinggi di bawah pimpinan Wali Kota Djufri mencornya dengan semen.

Akibatnya, gua tersebut kehilangan keasliannya. Pelaku pariwisata setempat sudah mengajukan protes, agar pembangunan tersebut tidak dilanjutkan. Bahkan mereka tidak merekomendasikan para wisatawan yang mereka bawa untuk berkunjung ke sana.

Penjabat Wali Kota Bukittinggi OS Yerly Asir mengaku tidak bisa menjelaskan soal pembangunan tersebut, karena dikerjakan oleh pemerintahan sebelumnya. “Yang saya tahu, Lubang Japang akan dibangun menjadi museum geologi terbesar di Indonesia. Tapi, soal bagaimana rincian pembangunannya masih dipelajari hingga kini,” katanya.

Yerly tak menyoal, walau beberapa agen travel tak merekomendasikannya untuk dikunjungi. Namun, Bukittinggi memang bukan hanya Lubang Japang. Masih banyak tempat lainnya yang begitu sayang untuk dilewatkan.

Ia menegaskan, kota dengan ketinggian 928 meter di atas permukaan laut tersebut aman dan masih nyaman untuk wisatawan. “Sayang sekali, jika kota secantik ini sepi,” katanya sambil berharap Bukittinggi kembali seperti dulu. Sehingga, kusir bendi tak lagi hanya termenung memandangi jarum jam gadang. (Hendra Makmur)

~ oleh hendramakmur pada 19 April 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: