Bila Rang Minang Memilih Gubernur

SALAH satu yang membuat Sumatra Barat (Sumbar), lebih khususnya lagi Minangkabau unik di banding daerah lain di Indonesia, ialah soal kecenderungan masyarakatnya yang suka pada politik.

Hal itu dipicu budaya rang Minang yang memang gemar maota (berbicara/diskusi). Budaya dan hobi tersebut akan sangat terasa, jika ikut meleburkan diri dalam media sosial orang Minang semisal lapau (kedai), surau dan laga-laga (arena).

Kini, kegemaran itu kembali mendapat tempatnya. Apa lagi kalau bukan karena pemilihan kepala daerah (pilkada). Senin 27 Juni 2005, kemarin, untuk pertama kalinya masyarakat Sumbar memilih gubernurnya. Serentak dengan itu, 10 kabupaten/kota juga memilih kepala daerahnya yang baru.

Pilkada di Sumbar, kemarin berjalan relatif lancar. Warga di 19 kabupaten/kota beramai-ramai datang ke TPS untuk memilih gubernur. Sebanyak 10 kabupaten/kota yakni, Kabupaten Solok, Agam, Limapuluh Kota, Padang Pariaman, Pasaman, Pasaman Barat, Dharmasraya dan Solok Selatan serta Kota Bukittinggi dan Kota Solok juga memilih bupati dan wali kota yang akan memimpin mereka. Puluhan calon kepala daerah di kabupaten/kota tersebut bersaing ketat seperti halnya para cagub.

Pantauan Media Indonesia di beberapa TPS di Kota Padang, partisipasi warga dalam pilkada Sumbar hampir sama dengan pemilu legislatif dan pilpres pada 2004 lalu. “Hampir semua pemilih yang terdaftar datang mencoblos,” kata Hendri Neldi, KPPS di TPS 10 Komplek Pondok Pinang, Kelurahan Lubuk Buaya, Padang.

Kendala yang ditemui di lapangan, banyaknya laporan warga yang tak memperoleh kartu pemilih pilkada. “Untuk kasus tersebut, kami memberikan kemudahan, asalkan mereka terdaftar sebagai pemilih, membawa kartu pemilih pada pilpres dan KTP,” kata Koordinator Sosialisasi KPUD Sumbar, Husni Kamil Manik.

Lima calon gubernur (cagub) dan calon wakil gubernur (cawagub) yang dipilih warga tersebut berdasar nomor urut yakni : Leonardy Harmainy – Rusdi Lubis, M. Kapitra Ampera – Dalimi Abdullah, Gamawan Fauzi – Marlis Rahman, Irwan Prayitno – Ikasuma Hamid dan Jeffrie Geovanie – Dasman Lanin.

Nomor urut satu, cagub Leonardy Harmainy adalah Ketua DPD I Partai Golkar Sumbar sekaligus Ketua DPRD Sumbar. Dia berpasangan dengan Rusdi Lubis, mantan sekretaris daerah (sekda) Sumbar. Kelebihan pasangan ini, terletak pada partai pengusungnya, Partai Golkar yang memenangkan pemilu legislatif di Sumbar.

Nomor urut dua, cagub M. Kapitra Ampera, seorang pengacara yang selama ini berdomisili di Pekan Baru. Ia tak cukup dikenal di Sumbar selama ini. Namun, namanya melambung setelah mengalahkan mantan Gubernur Sumbar Zainal Bakar dalam pemilihan calon gubernur di PPP. Bersama Partai Demokrat (PD), PPP memajukan, Dalimi Abdullah yang merupakan Kakanwil Departemen Agama Sumbar.

Nomor urut tiga, Gamawan Fauzi, merupakan mantan Bupati Solok. Dia terkenal di karena konsep pemerintahan baik dan bersih yang dikembangkan di Kabupaten Solok menjadi percontohan di seluruh Indonesia. Atas prestasinya, pada 2004 Gamawan mendapat penghargaan Bung Hatta Anti Corruption Award. Berpasangan dengan mantan rektor Universitas Andalas Marlis Rahman, pasangan ini diajukan Partai Bulang Bintang dan PDI Perjuangan.

Nomor urut empat, Irwan Prayitno adalah anggota DPR RI dari PKS. Irwan yang dikenal sebagai ahli lobi di DPR dan memadukan pengalamannya di dunia pendidikan, diajukan PKS bersama anggota DPRD Sumbar Ikasuma Hamid dari Partai Bintang Reformasi. Keunggulan pasangan ini, terletak pada mesin PKS yang solid dan militan dalam mengkampanyekan calonnya.

Nomor urut lima, Jeffrie Geovanie, pengusaha yang juga mantan Ketua Dewan Direksi The Amien Rais Center ini didukung oleh Koalisi 16 Parpol bersama wakilnya dosen Universitas Negeri Padang, Dasman Lanin. Kelebihan Jeffrie, terletak pada manajemen kampanyenya yang tertata rapi yang ditunjang dana yang relatif lebih baik dibanding pasangan calon lainnya. Popularitas Jeffrie naik, karena wajahnya yang tampan selama 14 hari kampanye tampil dalam iklan di tiga TV swasta nasional.

Di antara para cagub tersebut, hanya dua orang yang punya hak pilih yakni Leonardy dan Gamawan. Leonardy memberikan hak pilihnya di Padang, sementara Gamawan memilih di Kabupaten Solok. Sementara tiga cagub lainnya, tak ikut memilih karena tak terdaftar sebagai penduduk Sumbar. Sedangkan para cawagub, rata-rata ikut memilih di lokasi tempat tinggal mereka, di Kota Padang.

Lalu, siapa yang paling berpeluang untuk menang? Hari ini, masih amat dini untuk berbicara hal itu. Hasil pastinya, akan diketahui dalam pekan ini.

Menurut anggota DPD RI, Mochtar Naim yang berkeliling ke berbagai daerah memantau pilkada mengatakan, jika dibandingkan banyak hal berbeda antara pilkada dengan pemilu tahun lalu. “Pada pemilu, selain melihat program partai masyarakat pemilih juga terpengaruh faktor ideologis. Namun, pada pilkada orang tak lagi bicara ideologi partai yang mengusung calon,” kata Mochtar yang juga sosiolog tersebut.

Menurutnya, dalam pilkada orang mengenyampingkan apakah calon itu diusulkan partai yang berideologi Islam, Pancasila atau Nasionalis. “Calon pun bisa diusung oleh gabungan partai yang ideologinya berjauhan. Itu tak dipusingkan masyarakat. Yang penting, sejauh mana ketokohan calon sudah teruji,” katanya,” ujarnya.

Sementara itu, pengamat politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Andalas (Unand) Ranny Emilia mengatakan, siapa pun gubernur yang nanti terpilih, dia harus bisa menyelesaikan tiga masalah mendasar di Sumbar.

Masalah tersebut yakni, sikap mental dan perilaku kenegaraan yang korup, kurangnya pengisian kebutuhan fundamental penduduk (sandang, pangan dan pekerjaan) serta masih kacaunya perbaikan sistem kelembagaan (komunikasi, fisik dan teknologi).

“Sayangnya semua calon tidak menguasai masalah tersebut dengan komprehensif, sekaligus punya solusinya. Tapi satu di antaranya, sudah ada yang mulai menyentuh ke persoalan,” kata Ranny.

Untuk persoalan karakter manusia yang mencakup aparat dan masyarakat, menurut dia, gubernur terpilih misalnya, mesti mengeluarkan instrumen hukum yang bisa memaksa aparat dan warga untuk menciptakan pemerintahan yang bersih.

Demikian juga untuk membangun politik dan ekonomi, Ranny mengatakan, mesti ada landasan instrumental berupa keputusan politik yang konkrit. “Hal yang sama harus dilakukan untuk memperbaiki merosotnya lembaga pendidikan, kesehatan dan sosial,” ujarnya.

Lalu, siapa yang mampu menyelesaikannya? Mungkin takkan ada yang sempurna. Namun, dari dari yang kurang pasti ada yang terbaik. Dan, untuk menentukannya, rakyat Sumbarlah yang menentukan.

Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie sebelumnya kepada Media Indonesia memberikan rambu-rambu untuk para pemilih. “Calon yang akan dipilih adalah yang paham dengan konsep ‘5 T’,” katanya.

T yang pertama, menurut Datuk, tinggi tampak jauah, gadang jolong basuo (dari jauh sudah terlihat tinggi, pertama bertemu sudah terlihat besar).” Artinya, dia memang sudah menonjol, sudah terlihat beda karena karakternya yang kuat.

“Kedua, tinggi disentak ka rueh, gadang dilintang pungkam. Maksudnya, punya integritas pribadi, berwawasan, kharismatik, tumbuh dari bawah bukan diturunkan dari atas,” katanya.

T yang ketiga, menurutnya, tinggi dek dianjuang, gadang dek diambak. “Pemimpin itu memang menjadi besar karena kesepakatan masyarakat, kesepakatan bersama,” ujarnya.

Selanjutnya, memimpin di Minangkabau hanya tinggi sarantiang, dahulu salangkah (lebih tinggi hanya satu ranting, dahulunya hanya satu langkah). “Dia tak boleh terlalu maju, jauh dari masyarakat. Harus low profile, merakyat dan dekat dengan masyarakat.”

Terakhir, pemimpin di Minangkabau mesti punya taqwa dan beriman. “Dia takut kepada Tuhan dan segan kepada rakyat,” ujarnya. (Hendra Makmur)

Petikannya dimuat di Media Indonesia dalam judul yang berbeda pada 28 Juni 2005.

~ oleh hendramakmur pada 19 April 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: