Berkunjung ke Markas GAM Peureulak

BERPASANG mata di sebuah sudut kampung di Kabupaten Aceh Timur memandang ke arah tiga mobil yang membawa rombongan wartawan yang masuk di sana , Kamis (18/8/2005) lalu. Beberapa pria yang membawa handy talky (HT) dan telepon seluler satelit memberi tanda agar mobil berbelok ke kiri.

Setelah menyeberangi sebuah jembatan kecil yang bisa dibongkar pasang, kendaraan terus masuk melalui jalan tanah. Setelah berjalan sekitar empat kilometer, mobil berhenti. Wartawan kemudian mengisi buku tamu dan berjalan kaki sekitar 1 km.

Di tengah sebuah perkebunan, terpancang bendera yang selama ini sering dicari-cari aparat keamanan di Aceh: bendera bulan sabit merah. Itulah panji-panji Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang baru saja menandatangani perjanjian damai dengan pemerintah RI.

Di tempat tersebut wartawan disambut Tjut Kafrawi dan puluhan tentara GAM. Pria berumur 30-an itu, adalah juru bicara militer GAM wilayah Peureulak, Aceh Timur. Bersamanya, tampak beberapa komandan GAM di wilayah tersebut.

Tak seorang pun di antara mereka yang mengenakan atribut militer. Hanya ada dua orang berpakaian sipil yang menenteng senjata laras panjang jenis AK47 dan M16. Sepertinya, mereka sengaja mengeluarkan dua senjata tersebut, untuk kepentingan pengambilan gambar dan foto untuk wartawan.

Usai menyantap nasi bungkus dan gulai kambing yang masih hangat, wartawan menjadikan dua tentara GAM tersebut ibarat model. Mereka ‘patuh’ diminta bergaya dengan senjata dengan latar bendera bulan sabit merah.

Menurut Kafrawi, pihaknya sudah menyosialisasikan hasil perundingan Helsinki kepada seluruh jajarannya. “Apa yang sudah dicapai di sana , kami sudah mendapatkannya di lapangan. Kami sudah memberi tahu kepada penanggung jawab pasukan, agar pasukannya ditarik ke satu tempat sehingga bisa mudah dikoordinir,” ujarnya.

Kepada wartawan, dia juga menyatakan siap untuk menyerahkan senjata kepada Aceh Monitoring Mission (AMM).

“Soal penyerahan senjata tersebut, sudah kita persiapkan sejak awal. Ini bukan hanya komitmen moral, tapi komitmen hukum. Untuk apa lagi senjata, sementara titik cerah keadilan untuk rakyat Aceh sudah terlihat. Untuk selanjutnya, rakyat Aceh akan bisa menyampaikan aspirasinya,” ujar Kafrawi.

Peureulak, merupakan salah satu basis GAM paling kuat di Aceh. Di sinilah, salah satu kawasan hitam, tempat sering terjadinya kontak tembak. Dari postur tubuh puluhan tentara GAM di sana , jelas terlihat mereka terlatih militer.

“Saya latihan di tengah hutan sana , selama 6 bulan sebelum diterjunkan ke pertempuran. Sering kali kami terlibat kontak tembak dengan TNI atau Brimob,” kata Rizal, 27, salah seorang anggota pasukan GAM kepada Media Indonesia.

Lalu, setelah perjanjian damai kini terwujud, mereka ingin kembali hidup normal seperti masyarakat biasa. “Setelah keadaan benar-benar kondusif, kami akan kembali hidup di tengah keluarga dan masyarakat. Kami ingin membangun Aceh,” ujar Kafrawi.

Dia tak peduli tentang janji pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Nanggroe Aceh Darussalam untuk memberikan lahan kepada mantan anggota GAM. “Bukan itu yang menjadi tujuan kami bergabung dengan GAM,” ujarnya. Demikian juga Rizal. Dia bertekad untuk bisa hidup dari bertani atau berdagang.

Namun Kafrawi mengingatkan, agar semua pihak mewaspadai pihak ketiga yang ingin menggagalkan perjanjian damai tersebut. “Mereka adalah pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari konflik ini, sehingga mereka berusaha menggagalkannya,” katanya.

GAM sendiri, menurut dia, tidak akan mengambil resiko untuk mengingkari perjanjian tersebut. “Hal ini sangat beresiko. Kita lihat bagaimana antusiasnya masyarakat terhadap perdamaian ini,” ujarnya.

Ketika wartawan keluar dari basis terdepan kelompok itu, mereka mengantarkan sampai ke persimpangan, tempat mereka menjemput tadi. Masyarakat setempat masih ramai di lokasi tersebut. Ketika mobil berangkat, para warga itu melambai ramah, seperti keramahan khas bangsa Indonesia lainnya. Selamat datang kedamaian. (Hendra Makmur)

Dimuat di Media Indonesia, Agustus 2005 dalam judul yang berbeda.

~ oleh hendramakmur pada 19 April 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: