‘Sabai’, Bila Dominasi Sastra Kian Ditinggalkan Teater

DUA tangan perempuan itu terikat pada batang kayu yang membelintang di dua tiang yang dipancang di tengah arena pertunjukan. Ia menggeliat, coba melepaskan lilitan kain yang membalut sekujur tubuhnya dan tangannya yang terikat.

Seorang perempuan lain terbaring tak jauh dari sana juga seperti meronta, berusaha melepaskan kain panjang berwarna putih yang membungkus tubuhnya. Keduanya berteriak, terus meronta melepaskan diri dari semua yang mengikat. Sementara, suara saluang seperti melenguh sedih, membawa pada suasana yang amat khas Minangkabau.

Lalu, seorang lelaki muda berlari ke belakang perempuan pertama tadi, seperti minta perlindungan karena seorang lelaki dewasa mengejarnya dengan marah. Begitu perempuan tadi melepaskan ikatan di tangan dan tubuhnya, belasan bakul yang tergeletak di sana, ia lemparkan pada laki-laki dewasa itu.

Itulah cuplikan pagelaran teater ‘Perempuan itu Bernama Sabai’, di pelataran parkir Taman Budaya Sumatra Barat (Sumbar) Padang pada Minggu (7/8/2006) malam lalu. Teater karya Syuhendri, pimpinan teater Noktah yang juga menyutradarai karya tersebut memang dibawakan di panggung yang tak biasa.

Jika biasanya Teater Noktah selalu membawakan teater di atas panggung di ruang tertutup, kini mereka mencoba sesuatu yang baru. “Kita ingin berinteraksi lebih akrab masyarakat dan memperlakukan diri tidak hanya sebagai penyaji, tetapi juga sebagai jembatan komunitas dan karya,” ujar Syuhendri kepada Media Indonesia.

‘Perempuan itu Bermana Sabai’ sendiri, terinspirasi dari cerita tradisional Minangkabau ‘Sabai Nan Aluih’. “Kami memang ingin mengungkapkan penjelajahan terhadap masalah Minangkabau dan Sabai, dalam visual yang sederhana. Menggunakan bentuk dan bahan yang akrab dengan keseharian,” kata Syuhendri.

Makanya, menurut dia, pertunjukan diadakan di ‘alam terbuka’ sebagaimana halnya teater tradisional Minang, randai. “Selama ini, teater lebih terasa sebagai produk ‘barat’ yang terpisah dengan jalinan tradisi dan masih diterima dengan malu-malu. Gedung pertunjukan masih tetap asing untuk sebagian besar masyarakat,” katanya.

Teater minim kata seperti yang ditampilkan Syuhendri, menurut dosen teater Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padang Panjang Kurniasih Zaitun, memang sedan tren saat ini. “Masing-masing pemain tak saling berdialog, tapi menyampaikan cerita dengan monolog dan properti. Sastra memang tak lagi mendominasi bahasa teater,” katanya.

Teater, kata Kurniasih, hari ini sudah punya bahasa sendiri, yakni bahasa visual. “Bahasa visual bisa disampaikan dengan pemanfaatan properti multifungsi.”

Dalam teater ini, misalnya, pemanfaatan bakul, tiang dan kain panjang. “Namun, pada beberapa bagian terasa ada yang dipaksakan. Misalnya, tak maksimalnya pemanfaatan bakul. Menurut saya, jika ingin menggambarkan kungkungan, tak harus memakai kerangkeng. Bakul masih bisa dipakai, misalnya dengan berdiri di dalam bakul atau menutupkannya ke kepala,” katanya.

Terlepas dari itu, menurutnya, konsep untuk melibatkan penonton secara lebih maksimal untuk berapresiasi dengan karya sastra, patut dipujikan. Apa lagi, menurut Syuhendri, teater yang sama akan dipentaskan di kampungnya, Nagari Balingka, Kabupaten Agam, pada Sabtu (13/8) malam nanti, juga di lapangan terbuka.

Setelah melihat apresiasi yang cukup bagus dari penonton di Padang, Syuhendri sedang menunggu bagaimana reaksi penonton jika melihat teater di lapangan nagari, bukan lagi randai, seperti biasanya. (Joni Syahputra/Hendra Makmur)

~ oleh hendramakmur pada 19 April 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: