Serambi Mekkah Itu Masih Ada

SUARA azan mengalun syahdu dari corong Masjid Baiturrahman, Jalan Balaikota, tepat di jantung Kota Banda Aceh, Jumat (7/1/2005) siang. Suasana terasa hening. Sekitar 6 ribu jamaah yang memadati masjid berukuran 56 kali 34 meter tersebut, tampak khusuk berzikir menjawab seruan shalat yang sedang dimundangkan.

Beberapa orang tampak mengusap air mata, ketika muazin sampai kepada kalimat syahadat. Beberapa lainnya menghela nafas dalam-dalam. Semua seperti ingin melepaskan beban yang sudah sekitar 13 hari ditanggungkan.

Ini adalah salat Jumat pertama yang digelar di Masjid Baiturrahman sejak pagi yang mengerikan itu. Minggu (26/12/) lalu, tak satu makhluk pun di bumi ini yang takkan mengakui kedasyatan takdir Tuhan tersebut.

Puluhan ribu nyawa manusia melayang hanya dalam hitungan menit. Kerugian harta tak bisa masih belum bisa diperkirakan, dan yang lebih parah dampak psikologis yang demikian besar pada masyarakat Aceh.

Semenjak sekitar pukul 12.00 WIB, ribuan Banda Aceh yang masih bertahan di dalam kota mulai berdatangan ke masjid yang dibangun Sultan Iskandar Muda pada 1612 masehi tersebut. Mereka rela mengantri hingga berpuluh meter untuk mengambil wudhu dari sebuah drum besar yang ditaruh di depan masjid.

Sistem sanitasi dan air bersih di masjid memang belum pulih sampai kemarin. Namun, itu sudah jauh lebih baik dibanding sekitar sepekan lalu. Ribuan kubik kayu dan sampah bertumpukan semenjak dari jalan hingga memenuhi halaman masjid yang luas tersebut. Di sela-sela sampah, ratusan mayat manusia bergelimpangan semenjak dari jalan hingga ke dalam masjid.

Kini, sejak dari lapangan di depan hingga ke bagian dalam masjid, sudah bersih dari sampah dan jenazah. Di halaman, yang tinggal hanya goresan, bekas-bekas garukan eskavator baja. Seperti trauma yang tergores di dalam diri setiap manusia yang mengalami amuk itu.

“Kita memang berduka, kita memang bersedih. Tapi iman dan Islam mengajarkan kita untuk optimis. Apa yang kita alami dalam dua minggu ini, mari kita hadapi dengan sabar dan tawakal. Allah takkan membiarkan kita beriman, tanpa mengujinya. Maka, berilah kabar gembira pada mereka yang sabar, yaitu mereka yang ketika ditimpa musibah mengucapkan Innalillahi Wainna Ilaihi Rajiun,” ujar Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsudin dalam khutbahnya.

Din mengatakan, salat Jumat di Masjid Baiturrahman kemarin, sebagai salat Jumat pertama setelah bencana, menunjukkan bahwa Aceh itu masih ada. “Hari ini, mari kita tunjukkan pada dunia, serambi Mekkah ini masih berdiri,’’ serunya.

Baiturrahman memang kebanggaan masyarakat Aceh. Ia sekaligus menjadi simbol yang benderang, menunjukkan sikap masyarakatnya yang islami. Namun, tak sedikit cobaan yang didera masjid tersebut.

Pada April 1873, rumah ibadah ini pernah dibakar tentara kolonial Belanda, hingga kemudian didirikan kembali pada 1877. Awalnya hanya sebuah kubah besar di tengah masjid. Ketika diperluas pada 1935, kemudian ditambah dua kubah lagi. Pada 1967, masjid diperluas untuk kedua kali, kubahnya ditambah dua lagi. Hingga kini berjumlah lima kubah dan dua menara di bagian utara dan selatan masjid.

Dalam salat jumat kemarin, sebagian jamaah adalah para relawan, wartawan, aparat TNI dan Polri yang membantu evakuasi korban dan pengungsi. Salat jumat tersebut juga dihadiri Menkokesra Alwi Shihab, Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Jenderal Ryamizard Ryacudu, Panglima Kodam Iskandar Muda, Mayjen Endang Suwarya dan beberapa petinggi TNI lainnya.

Sekretaris Imam Besar Masjid Baiturrahman, H. Ridwan Johan mengatakan, 6 ribu jamaah yang salat Jumat kemarin, hanya sekitar sepertiga dari jamaah yang biasa salat di masjid tersebut. Masjid dengan kapasitas 8 ribu orang tersebut, tiap Jumat biasanya dipadati 15 ribu jamaah, hingga biasanya salat jumat digelar sampai ke lapangan di depan masjid. (Hendra Makmur)

~ oleh hendramakmur pada 16 April 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: