Merawat Mereka yang Luput dari Tsunami

Dengan wajah letih, Iswandi mendatangi pusat data Rumah Sakit (RS) Daerah Militer (Kesdam) Iskandar Muda, Kamis (13/1/2005) kemarin. “Saya mencari adik sepupu saya yang masih hilang bersama enam keluarga lainnya. Pernah melihat dia ditampilkan di Metro TV sedang terluka, setelah saya cek, katanya gambarnya diambil ketika dirawat di sini. Apa bisa melihat data pasien,” katanya.

Iswandi kemudian dengan teliti mencek satu persatu data RS. Hingga Media Indonesia meninggalkan RS tersebut, Iswandi belum menemukan nama Zia Yusha Ambia, sepupunya. Bocah 9 tahun putra Pembantu Dekan III Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, Balia Ahmad yang meninggal akibat bencana itu, belum diketahui berada di mana.

Itu salah satu gambaran kesibukan RS Kesdam sehari-harinya. Selain disibukkan merawat pasien yang sakit, satu-satunya RS yang buka sejak hari pertama bencana tsunami tersebut, juga disibukkan warga yang mencari keluarganya yang hilang.

Sementara itu, di ruang rawat pasien, keluarga korban menunggui mereka yang terluka dan sakit akibat bencana itu. Di Bangsal Malikul Saleh, seorang wanita menangis tersedu-sedu mengabari, korban yang berada di RS sudah meninggal dunia.

Di dalam bangsal, seorang pasien yang terluka bagian kepala, kaki dan tangannya mengerang menahan sakit. Namun, kalimat zikir masih menghiasi bibirnya. Kalimatnya sama dengan seorang ibu yang mencoba menidurkan bayinya yang baru berumur beberapa hari dengan kalimat tahlil, Laa Ilaaha Illallah.

Demikianlah, ratusan ribu yang meninggal. Namun, generasi baru Aceh pasca Tsunami pun sudah mulai lahir. Mereka yang baru lahir dan warga yang masih tertinggal, luput dari bencana tsunami, mesti secepatnya mendapat pelayanan kesehatan yang baik.

Makanya, sejak beberapa hari lalu, selain RS Kesdam, RS Umum Zainoel Abidin yang ikut dikotori oleh lumpur tsunami mulai dibersihkan dan difungsikan. Mulai kemarin RS tersebut sudah bisa merawat 53 pasien rawat inap. Jumlah itu cukup membantu kerja RS Kesdam yang kemarin menampung 180 pasien rawat inap. Itu belum termasuk yang bisa ditampung di RS Fakinah yang juga sudah mulai beroperasi semenjak pekan ini.

Hanya tiga RS itu yang baru bisa beroperasi. Selain tiga tersebut, yang diharapkan bisa membantu penanganan pasien, adalah RS Malahayati dan RS Bunda. “RS Malahayati masih penuh lumpur, sementara RS Bunda belum beroperasi,” Kepala RS Kesdam, Mayor CKM Taufiq Urrahman.

Sementara, RSU Daerah Meraksa milik pemko Banda Aceh, RS Polri dan RS Permata Hati jelas takkan bisa beroperasi dalam waktu dekat. Bangunan ketiga RS itu, hancur. Sementara, angka kematian dari berbagai penyakit akibat tsunami sudah mulai muncul.

Hingga kemarin, sudah 16 pasien korban tsunami yang dirawat Rumah Sakit (RS) Kesehatan Daerah Militer (Kesdam) Iskandar Muda, Banda Aceh, yang meninggal dunia. Pasien pertama, meninggal pada Kamis (30/12) dan terakhir pada Rabu (12/1) lalu.

“Sebanyak 60 persen dari pasien yang meninggal akibat penyakit infeksi paru (pnemonia). Ketika tenggelam, mereka terlalu banyak menghirup air gelombang tsunami yang kotor,” kata Taufiq Urahman.

Jumlah kedua terbanyak, menurut Taufiq, akibat penyakit tetanus, baru kemudian disusul penyakit lainnya. Jumlah yang meninggal, belum termasuk yang menjalani rawat jalan di RS tersebut, Posko Pelayanan Kesehatan dan RS Umum Zainoel Arifin.

Senada dengan itu, Ketua Tim Medis Posko Kesehatan kerja sama Pelayanan Masyarakat Gereja Bethel Indonesia (GBI) dengan tim kesehatan Swedia dan Singapura, Deddy Goandis mengatakan, menemukan keluhan terbanyak yang ditemui adalah Infeksi Saluran Penafasan Atas (ISPA), kemudian menyusul penyakit kulit, diare dan gangguan psikis,” ujarnya.

Baik Taufiq maupun Deddy mengaku belum menemukan wabah kolera yang dikhawatirkan akan  berjangkit karena masih banyaknya mayat yang bergelimpangan di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar.

Untuk mengantisipasi wabah tersebut, Posko Kesehatan, kemarin mengadakan vaksinasi anti kolera untuk 2500 orang. “Kita tak mau ambil resiko, makanya harus diatasi semenjak dini,” kata Deddy.

Vaksinasi gratis untuk seluruh warga, agaknya mesti dilakukan, jika ingin menyelamatkan nyawa mereka yang luput dari bencana besar itu. (Hendra Makmur)

~ oleh hendramakmur pada 16 April 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: