‘Gedebook’, Mendidik Anak Bermasyarakat

WAJAH Agung Nugraha, 10, terlihat cerah dan berseri. Ia menenteng sebuah majalah anak-anak baru di tangan kanannya. Sementara, tangan kiri murid kelas V SD Negeri 20 Dadok Tunggul Hitam itu menggenggam beberapa helai kertas menyerupai uang. “Saya baru membeli majalah dengan uang ini. Sekarang mau beli makanan,” katanya.

Uang tersebut memang uang mainan. Namun, bisa digunakan anak-anak untuk membeli buku, makanan dan bahkan nonton film di bioskop. Syaratnya, hanya boleh digunakan dan dibelanjakan di lokasi seluas 1 hektare di Jalan Bakti, Gang Bakti II, Kelurahan Dadok Tunggul Hitam, Padang , Sumatra Barat (Sumbar).

Di tempat tersebut, Komunitas Seni Belanak, Padang pada Minggu (29/2/2004) lalu semenjak pagi hingga sore bekerja sama dengan Cemeti Art Foundation menggelar ‘Nagari Alek-Alekan Gedebook’ (Nagari Main-Mainan Gedebook) yang diikuti sekitar 500 anak usia empat hingga 14 tahun.

Gedebook merupakan pelesetan dari Get The Book. Anak-anak yang menjadi peserta acara seperti halnya Agung, memang bisa mendapat buku dan majalah baru. Lebih dari itu, gedebook merupakan simulasi sebuah dunia anak yang otonom dengan sistem ekonomi tertutup yang didisain bernuansa Minang.

Dalam acara tersebut, anak-anak dilatih dan diperkenalkan pada sistem sosial, pembagian fungsi, adat dan tradisi serta cara bermasyarakat. Sekitar 90 anak dipilih untuk berperan sebagai polisi, petugas imigrasi, pegawai bank, petugas sales promodi, pelayan toko dan kafe untuk melayani ratusan anak-anak lainnya.

Untuk bisa masuk dan menjadi peserta di acara tersebut, tiap anak harus membawa buku bekas. Mereka harus masuk melalui pintu gerbang dan mendaftarkan diri pada petugas di kantor imigrasi. Buku yang dibawa kemudian ditukarkan di kasir dan bank dengan mata uang Gedebook. Dengan uang tersebut mereka bisa membeli buku, mainan, makan dan minum di kafe serta nonton di bioskop mini.

Anak-anak terlihat menikmati dan belajar memahami perannya masing-masing. Mereka yang kehabisan uang gedebook kemudian mencarinya lagi dengan melakukan kreatifitas seni, seperti bernyanyi, menari, melukis, baca puisi dan teater di work shop. Kreatifitas mereka, dihargai dengan uang gedebook yang kembali bisa dibelanjakan di lokasi itu.

Namun, jangan coba-coba membuang sampah sembarangan, mencuri, memalsukan uang gedebook atau mengganggu ketertiban di ‘negara anak’ itu. Mereka yang ketahuan bertingkah tak baik, bisa ditangkap dan diadili secara hukum. Seorang anak yang ketahuan oleh polisi anak, dihukum dengan mengeluarkannya dari ‘Nagari Alek-alekan’ tersebut.

Heru Tri Putra, murid SD 20 Dadok Tunggul Hitam yang menjadi komandan polisi di ‘negeri impian’ itu, mengaku senang sekali bisa bermain sambil belajar. Ia mengaku banyak mendapatkan hal berguna, seperti sikap tanggung jawab dan disiplin. “Biasanya, saya hanya main sepeda dan play station,” ujarnya.

Menurut Roni Candra, ketua pelaksana kegiatan tersebut, dunia anak seharusnya banyak diisi dengan belajar, bermain, berimajinasi dan berkreasi bersama. Namun, karena tak dianggap penting kegiatan seperti itu sering terlupakan oleh orang tua, pendidik dan pemerintah. “Kita ingin mendidik anak bermasyarakat dan memahami kehidupan semenjak dini, tanpa menghilangkan keinginan mereka untuk bermain,” katanya.

Namun, walau bertujuan memberi pencerdasan dan mendidik anak dalam format baru yang kreatif, acara ini tak mendapat respon positif dari Dinas Pendidikan Sumbar dan berbagai instansi pemerintah lainnya. Akibatnya, pendanaan sekitar Rp15 juta dan kelengkapan acara ditanggung panitia dan warga setempat. “Ini membuktikan pemerintah belum punya perhatian besar pada pendidikan anak,” kata Roni. (Hendra Makmur)

~ oleh hendramakmur pada 16 April 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: