Dari Surau ke Surau, Melawat Jejak Adat

KABUT dingin yang turun dari Gunung Merapi masih menyelimuti Nagari (Desa) Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat (Sumbar), Kamis (1/7/2004) lalu. Puluhan orang tua sampai anak-anak, tampak keluar dari rumah dan delapan surau berasitektur khas Minang, begitu azan subuh berkumandang dari Masjid Ishlah yang berada tepat di tengah-tengah perkampungan pertama rang Minangkabau tersebut.

Setelah di mesjid, kehidupan pagi di Pariangan, akan terlihat semarak di pemandian umum di dekat masjid. Anak-anak di pagi buta itu bisa mandi sambil bermain-main. Pasalnya, air yang menyiram tubuh mereka memang hangat karena berasal dari sumber mata air panas. Setelah sekolah, anak-anak itu wajib ikut sekolah mengaji di surau di sekitar mesjid, sore atau malam selepas magrib.

“Nenek moyang rang Minang memilih lereng Gunung Merapi ini sebagai tempat tinggal pertama mereka. Inilah kampung pertama orang Minangkabau, sebelum keturunannya menyebar ke beberapa wilayah,” jelas Datuk Rangkayo Sati, tetua adat Pariangan kepada 50 siswa SLTA dari Sumbar, Bengkulu dan Sumatra Selatan (Sumsel) didampingi para guru yang berkunjung ke nagari itu.

Para siswa beserta guru tersebut adalah peserta lawatan sejarah yang diadakan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (BKSNT) Padang dengan tema, ‘Menelusuri Jejak Warisan Sejarah Adat Basandi (bersendi) Syara’ (agama Islam), Syara’ Basandi Kitabullah’.

Selama tiga hari dua malam, semenjak 30 Juni – 2 Juli, para siswa dan guru bersama Kepala BKSNT Nusyirwan Effendi dan staf, juga Kepala Bidang Makna Sejarah, Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar), Triana Wulandari serta wartawan termasuk di antaranya Media, dibawa berkunjung dan bermalam di tempat-tempat bersejarah dalam perkembangan adat dan agama Islam di Sumbar.

Triana Wulandari yang ikut dengan rombongan, mengatakan, lokasi yang dilawat tersebut merupakan simpul-simpul perekat keindonesiaan. “Orang-orang yang pergi belajar ilmu agama lintas daerah, pejuang yang dibuang penjajah ke luar daerah hingga akhirnya meninggal dan dimakamkan bukan di daerah asalnya, merupakan bukti sejarah hubungan yang erat antar daerah di Indonesia ,” katanya.

Sementara, Nusyirwan mengatakan, para siswa perlu melihat langsung bagaimana bukti-bukti sejarah itu. “Pelajaran dari buku, takkan bisa memberi pengaruh dan kenangan yang kuat,” katanya. Kementrian Budpar berharap ini bisa menjadi perekat integrasi bangsa yang sedang terancam. Lawatan sejarah tingkat lokal ini akan dilanjutkan dengan lawatan sejarah tingkat nasional di Aceh pada Agustus 2004 nanti

Sebelum bermalam di Nagari Pariangan pada hari pertama itu, para peserta terlebih dahulu sudah mengunjungi Dinniyah Putri di Padang Panjang. Sekolah putri ini didirikan oleh tokoh perempuan Minang, Rahmah Elyunisiyah pada 1923. Rahmah ingin memecah kebuntuan paham kuno yang menganggap wanita tak perlu sekolah. Usahanya berhasil hingga sekarang Diniyyah Putri punya jenjang pendidikan semenjak dari TK sampai perguruan tinggi, dengan murid dan mahasiswa berjumlah 1800 orang.

Selanjutnya juga ke Surau Nagari Lubuak Bauk di Tanah Datar, yang didirikan pada 1884 dan hingga kini masih dipakai mengajarkan Alquran. Juga ke Istano Pagaruyung, pusat pemerintahan Raja Alam Pagaruyung yang merupakan salah satu Raja di Minangkabau di samping Raja Adat dan Raja Ibadat. Istano merupakan rumah gadang termegah hingga kini masih ada, terdiri atas sembilan ruang dan bertingkat tiga.

Peserta juga diajak mengunjungi Nagari Belimbing di Tanah Datar, tempat berdirinya Rumah Tuo Adat Kampai Nan Panjang yang merupakan rumah adat tertua berumur sekitar 350 tahun yang dibangun hanya memakai pasak, tanpa paku.

Hari kedua, peserta dibawa ke Surau Syeikh Abdurrahman di Batuhampa, Kabupaten Limapuluh Kota, Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Canduang yang didirikan Syekh Sulaiman Ar Rasuli, Surau Syekh Ibrahim Musa di Parabek, Kabupaten Agam, Rumah Kelahiran HAMKA, Surau HAMKA dan mesjid kakek Buya HAMKA (Syekh Ammarullah) di Maninjau, Kabupaten Agam serta Surau Syekh Burhanuddin, Ulakan, Padang Pariaman.

Syekh Abdurrahman (1777-1899) – kakek dari Bung Hatta – adalah ahli qiraat, sehingga muridnya berdatangan dari hampir seluruh Sumatra .

Surau kini bernama Pondok Pesantren Al Manaar tersebut masih meninggalkan sisa arsitektur lama dengan menara yang menjulang. Sementara, Syekh Sulaiman Ar-Rasuli, Canduang, mengubah sistem pendidikan dengan cara duduk melingkar mengelilingi guru (halaqah) kepada sistem kelas di MTI yang didirikannya.

Syekh Ibrahim Musa di Parabek, Kabupaten Agam adalah tiga serangkai ulama pembaharu Islam di Minangkabau bersama Syekh Jamil Jambek dan ayahanda HAMKA, Syekh Dr.Karim Amrullah (Inyiak Rasul) yang mendirikan Surau Jembatan Besi di Padang Panjang pada 1906.

Ketika mengunjungi kampung Inyiak Rasul, di Maninjau, sempat diadakan seminar tentang surau, Islam dan adat Minangkabau dengan pembicara Dosen Sejarah IAIN Imam Bonjol Padang, Danil M.Caniago dan dosen sejarah Universitas Andalas, Zulqayyim. Juga diterangkan bagaimana peranan HAMKA, ayahnya Dr.Karim Amrullah dan kakeknya Syekh Amarullah dalam perkembangan Islam.

Acara diakhiri di Surau Syekh Burhanuddin, Ulakan, Padang Pariaman. Syekh Burhanuddin adalah penyebar Islam pertama ke Minangkabau dari arah pesisir pada abad ke-17. Syekh Burhanuddin juga adalah orang pertama yang menjadikan surau sebagai lembaga pendidikan Islam. (Hendra Makmur)

~ oleh hendramakmur pada 16 April 2008.

2 Tanggapan to “Dari Surau ke Surau, Melawat Jejak Adat”

  1. Sayang tidak mampir ke Madrasah Sumatera Thawalib, Parabek, di Agam. Padahal usia pesantren tersebut hampir 100 tahun

  2. Terima kasih atas komentarnya, Pak.. Kapan-kapan saya akan mampir ke sana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: