Biarkan Mereka Bermain di Pengungsian

ADA yang berbeda dari raut wajah Iskandar, Sabtu (8/1/2005) pagi. Bocah delapan tahun dari Desa Kampung Baru, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar itu sudah bisa tersenyum dan bahkan tertawa. Rona kesedihan dan rasa letihnya sedikit tertutupi ketika dia ikut bernyanyi dan bertepuk tangan bersama sekitar 150 anak-anak lainnya di Posko Pengungsian SMK 1 Ujong Bate, Kecamatan Mesjid Raya.

Anak-anak berusia antara lima sampai 10 tahun di pengungsian tersebut, kemarin pagi memang menggelar acara bermain bersama. Mereka bergandeng tangan membentuk lingkaran, meloncat dan bahkan berteriak sepuasnya. “Saya senang. Sejak gempa, belum pernah seperti ini,” ujar Iskandar dalam Bahasa Aceh.

Iskandar adalah salah seorang anak korban gempa dan tsunami. Ayah dan ibunya meninggal dihantam tsunami yang memorak-porandakan seluruh desa mereka. Iskandar beruntung cepat dilarikan dua kakaknya ke tempat yang lebih tinggi, sehingga ia bisa selamat dari air bah hitam yang menggila itu.

Walau dua kakaknya juga selamat, Kandar – begitu ia ipanggil, terus-menerus memanggil-manggil nama ayah dan bunya. “Jika sedang teringat orang tuanya, tak ada yang

bisa menghibur. Dia akan menangis sesenggukan,” kata salah seorang pengungsi.

Namun, hari itu Kandar bisa larut ceria. Para relawan dari omisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) yang menggelar acara bermain bersama di lokasi itu, bias enghiburnya. Selain di Ujong Bate, Komnas PA sudah memulainya di beberapa pengungsian lainnya di Banda Aceh dan Aceh Besar.

“Bermain bisa menjadi terapi untuk penyembuhan luka mereka. Bermain adalah kebutuhan setiap anak, termasuk mereka yang tertimpa bencana ini. Biarkan mereka bermain i pengungsian. Itu akan membangkitkan rasa percaya diri, optimisme menatap hidup dan melupakan trauma besar mereka,” kata Ketua Komnas PA Seto Mulyadi.

Apabila anak sudah sampai pada tingkat stess yang tinggi, akibatnya bisa fatal “Mereka bisa bunuh diri.”

Program tersebut, menurut Seto, akan dilanjutkan di setiap tempat pengungsian di NAD dan Sumatra Utara. Caranya adalah dengan mendidik remaja di lokasi kejadian untuk membantu mendidik adik-adik mereka.

Di Ujong Bate misalnya, Azyyati Himid, 16, siswi SMU 3 Banda Aceh, tampak dengan sabar memimpin anak-anak tersebut bernyanyi dan bermain bersama. “Keluarga saya selamat semua. Melihat mereka yang terkena musibah ini, saya terpanggil untuk membantu,” ujarnya.

Seto Muyadi mengatakan, pengaruh bencana tsunami untuk anak-anak akan jauh berbeda dengan orang tua. “Dampak bencana alam pada anak-anak lebih berat dan permanen. Apa yang terjadi pada masa kanak-kanak akan membentuk pemahamannya tentang lingkungan sosial dan peran sosialnya di masa depan.”

Menurut Seto, berdasar pengalaman penanganan anak dalam situasi darurat di Atambua, Poso, Ambon, Buyat, Pontianak, Sampit, Batam dan termasuk NAD akibat konflik bersenjata, maka yang dibutuhkan adalah pendampingan konseling psikososial dan bimbingan pemulihan jiwa anak pasca traumatik.

Bagi anak-anak yatim piatu dan terpisah dari orang tua dan keluarganya, Komnas PA menilai, perlunya reunifikasi dan evakuasi sementara agar tidak menghilangkan mereka dari akar sejarah dan budaya Aceh.

Sehubungan dengan banyaknya yang berminat mengadopsi anak-anak korban musibah Aceh, Seto mengingatkan agar pengangkatan anak tersebut harus mengacu pada UU No.23

Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan harus seizin Departemen Sosial. (Hendra Makmur)

~ oleh hendramakmur pada 16 April 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: