Api Dalam Sekam, Pentas Dunia di Panggung Sederhana

CAHAYA merah saga timbul tenggelam mengintip dari celah-celah dinding anyaman bambu. Tak jelas sumbernya dari obor, tungku ataukah unggun kayu. Yang pasti, di balik dinding tadia itu, jelas ada api. Tiba-tiba, dua daun pintu di bagian tengah terkuak lebar. Seorang dara cantik duduk anggun bersanding dengan seorang pria, dibalut pakaian adat Minangkabau.

Air dari cucuran atap seperti tercurah dari hujan nan lebat, tepat di belakang mereka. Laki-laki itu kemudian berganti pakaian dengan pakaian longgar, dibantu seorang perempuan tua. Ia lalu menari meliuk-liuk di atas panggung di depan dinding itu. Dan, kemudian di atas panggung yang sama, bergantian 15 orang menari, bernyanyi, berlarian, bergumam, berdialog dan bahkan meratap.

Itulah sepenggal Tari ‘Api Dalam Sekam’ karya almarhumah Gusmiati Suid, maestro tari Indonesia yang ditampilkan Sabtu (28/8/2004) malam lalu di Gedung Nasional Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat (Sumbar). Koreografi itu memang bukan sekedar gerak tubuh. Tapi, juga teater, musik dan mencakup cabang seni pertunjukan lainnya.

Penampilan itu dibawakan apik dan memukau oleh grup ‘Gumarang Sakti’ yang didirikan Gusmiati pada 1982 lalu untuk memperingati seribu hari meninggalnya Gusmiati. Ibu Yet – demikian dia akrab dipanggil murid-muridnya – meninggal di Jakarta pada September 2001, dalam usia 59 tahun.

Tari berdurasi sekitar 1,5 jam ini dipandang pengamat dan penikmat tari internasional dan Indonesia , sebagai puncak karya Gusmiati, ketika ditampilkan pertama kali dalam Art Summit II pada 1998.

Malam itu, juga kembali ada yang istimewa. Boi G. Sakti, putra Gusmiati yang sekarang memimpin grup Gumarang Sakti dan juga meneruskan jejak ibunya sebagai koreografer menunjukkan kelasnya. Boi yang malam itu bertindak selaku Artistic Director menyulap panggung sederhana Gedung Nasional kota kecil Batusangkar menjadi sebuah dunia yang berbeda.

Dunia itu adalah sebuah pagelaran tari berkelas internasional. Boi memang diakui dunia. Beberapa kali, alumni Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu memperoleh penghargaan sebagai penata tari terbaik. Antara lain, seperti The Bessie Award, sebuah penghargaan bergengsi di Amerika untuk koreografi tari. Sehingga, Boi pun mendapat tempat sebagai salah satu koreografer terkemuka Indonesia .

“Jika ibu tetap mendasarkan setiap musik pengiring dan gerak tari pada budaya Minang, saya lebih luas lagi. Saya menyadur gaya Eropa, Amerika dan Asia . Saya ingin menjadi anak dunia,” katanya dalam sambutannya malam itu, ketika menanggapi pertanyaan, mengapa Boi tidak seperti Gusmiati yang tetap mempertahankan ‘rasa’ Minangkabau dalam setiap tarinya.

Tapi, menampilkan kembali tari ibunya, malam itu, boleh dikatakan Boi berhasil menghadirkan roh Minangkabau untuk sebuah ide nasional. Dia berhasil menghadirkan tata panggung yang menarik hanya dari bahan-bahan sederhana seperti bambu, kayu, dan serbuk kayu untuk menciptakan suasana seperti di sebuah nagari di pelosok Minangkabau. “Saya butuh tiga hari untuk menata panggung, memasang lighting, serta menambah lebar panggung sepanjang 2,5 meter,” katanya.

‘Api dalam Sekam’ yang dipenggal dalam beberapa babak itu juga berhasil mengantarkan pesan, tentang bangsa Indonesia yang sedang gamang dalam pencarian jatri diri pasca reformasi 1998 lalu. Pemimpin yang ada tak bisa menjadi tempat bertanya. Karena, menjawab masyarakat yang bingung, mereka mengatakan bahwa hati nurani bangsa ini sudah tergadai.

Demikian Gusmiati, memang selalu gampang tersentuh dengan keadaan di sekitarnya. Berguru kepada alam, seperti filsafat Minangkabau: ‘alam terkembang jadi guru’ betul-betul diterjemahkannya dalam banyak karya. Semenjak ‘Tari Rantak’ yang monumental pada tahun 1974-1978, hingga puluhan karyanya sampai menutup mata seribu hari lalu, selalu mengadung filsafat itu. Tapi, walau inspirasinya bersumber dari satu daerah, dia telah menjadi inspirasi meletakkan perubahan mendasar dalam perkembangan dunia tari nasional. (Hendra Makmur)

~ oleh hendramakmur pada 16 April 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: