Mencari Bung Karno Hingga ke Bengkulu

RUMAH beton beratap genteng merah itu masih kokoh berdiri di Jalan Soekarno-Hatta No.2, salah satu jalan utama di Kelurahan Anggut Atas, Kecamatan Ratu Agung, Kota Bengkulu.

Halamannya luas, dengan rumput yang menghijau. Letaknya, tak jauh dari jantung kota , sekitar 700 meter di arah barat daya simpang lima dan kantor wali kota Bengkulu.

Bangunan sepanjang 18 meter dan lebar sembilan meter tersebut berdiri di atas tanah seluas 120 kali 40 meter dengan pagar besi setinggi 1,5 meter yang mengelilinginya. Di atas rumah tersebut-lah, Ir. Soekarno, proklamator sekaligus presiden pertama republik ini, pernah tinggal sekitar empat tahun antara 1938-1942.

Ketika <i>Media Indonesia<p> mengunjungi rumah itu pada Minggu (21/5/2006) lalu, penjaga sekaligus yang bertanggung jawab merawat rumah tersebut, Darwis Andrian, 54, menyambut dengan ramah.

Dalam keadaan sakit akibat penyakit darah tingginya, Darwis mengajak berkeliling ke seluruh ruangan. Bagian terdepan adalah beranda. Di sinilah Bung Karno sering duduk santai di pagi hari atau menerima tamu. Bersebelahan dengan ruangan itu, ada sebuah kamar kecil yang kini diperuntukkan menaruh sebuah sepeda tua berwarna hitam

“Dengan sepeda ini, Bung Karno sering mengelilingi Kota Bengkulu pada pagi atau sore hari,” kata Darwis, pegawai Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Bengkulu yang sudah merawat rumah itu sejak 1985.

Di bagian dalam ada empat ruangan. Sebuah ruang duduk lengkap dengan seperangkat kursi kayu yang sudah tua, dua kamar tidur dengan dua tempat tidur besi dan satu perpustakaan yang dengan dua rak buku berisi 225 buku milik Bung Karno.

Pada kamar tidur bagian kanan, ruang tidur Bung Karno dan isterinya Inggrit Ganarsih, terdapat sebuah meja rias sederhana yang dirancang sendiri oleh si Bung. Sementara itu, walau ditempatkan dirak yang terawat, buku-buku Bung
Karno terlihat sudah melapuk dimakan usia. Buku-buku berbahasa Belanda, Inggris, Perancis dan Jerman tersebut menunggu orang yang ahli merawat naskah kuno. “Kita hanya mampu menjaga seperti ini, tak ada dana untuk melakukan perawatan khusus untuk buku-buku ini,” kata Darwis.

Di bagian belakang, ada lagi beranda yang biasa digunakan sebagai ruang makan dan ruang keluarga. Di tempat tersebut Bung Karno dan keluarga biasanya makan, menerima teman-teman dekat higga pesta durian dan melatih grup sandiwara pimpinannya. Di bagian belakang lagi, terdapat sebuah sumur dan bangunan kamar mandi.
Sepanjang pemantauan <i>Media Indonesia<p> rumah tua tersebut terlihat baru dan terawat dengan cat tembok warna putih dan ornamen kayu warna biru muda. “Beberapa bulan lalu, rumah ini memang baru direhab dengan dana sekitar Rp1 miliar dari dana APBN,” ujar Darwis.

Rumah yang ditempati Bung Karno sejak Maret 1938 – Februari 1942 itu semula merupakan milik seorang turunan Tiong Hoa bernama Liem Bwe Seng, seorang distributor kebutuhan logistik pemerintah kolonial di Bengkulu. Pemerintah kolonial kemudian meminjamkannya sebagai tempat tinggal tahanan politik mereka itu.

Menurut mantan anggota Badan Konstituante M. Ali Chanafiah, yang menjadi teman sekaligus murid Bung Karno di Bengkulu dalam bukunya ‘Bung Karno Dalam Pengasingan di Bengkulu’, untuk ukuran zaman itu, rumah tersebut bisa dikatakan cukup modern. “Dan semakin anggun, setelah didandani Bung Karno, arsitek yang juga seniman,” tulis mantan Duta Besar RI untuk Srilanka itu.

Bung Karno memang diasingkan di Bumi Raflesia tersebut, setelah sebelumnya ditawan di Endeh, Pulau Flores. Soekarno yang aktif melakukan dalam pergerakan kemerdekaan dengan Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Partai Indonesia (Partindo) ditahan intel tentara pemerintah kolonial seusai rapat di rumah Muhammad Husni Thamrin di Batavia (Jakarta) pada 31 Agustus 1931.

Setelah ditahan di Penjara Sukamiskin Bandung, Si Bung dibuang ke Endeh, yang ketika itu terkenal sebagai sarang malaria terganas.
Selama dibuang di Endeh, Bung Karno ditemani isteri pertamanya Inggrit Ganarsih, anak angkatnya Ratna Juami, ibu mertuanya dan beberapa pembantu. Satu persatu keluarga Bung Karno terserang Malaria, bahkan ibu mertuanya sampai meninggal dunia.

Ketika penyakit itu menyerang Si Bung pada awal 1938, MH Thamrin yang ketika itu menjadi Wakil Ketua Volksraad (parlemen Hindia Belanda) mempermasalahkannya di parlemen. Jika terjadi sesuatu yang buruk pada tokoh pergerakan itu, Thamrin mengancam, pemerintah Hindia Belanda harus bertanggung jawab.

Menurut Ali Chanafiah, desakan tersebut yang membuat pemerintah kolonial memindahkannya ke kota di pesisir barat Sumatra tersebut.
Sebenarnya, saat itu, Bengkulu juga merupakan daerah rawan Malaria. Namun, kota tersebut jauh lebih baik dibanding Endeh, yang masih terisolir dan tidak memiliki fasilitas dan pelayanan kesehatan.

Keuntungan lain, menurut Ali, di Bengkulu Bung Karno tidak lagi merasa terasing. Karena, ketika itu, di Bengkulu sudah diramaikan dengan pergerakan kemerdekaan secara diam-diam yang dipelopori tokoh-tokoh Muhammadiyah dan Perguruan Taman Siswa. Jadi, Bung Karno akan lebih bisa bersosialisasi dan merasa tidak terlalu terasingkan.

Benar saja. Kabar kedatangan si Bung ke kota Bengkulu yang sudah menyebar sejak Januari 1938 disambut antusias. Ketika ia datang pada awal Maret 1938, ratusan orang menyambut kedatangannya sebagai seorang pemimpin. Tokoh-tokoh pendidikan, agama dan pergerakan sering mengadakan diskusi dengannya.

Ruang gerak Bung Karno memang tak terlalu dibatasi di Bengkulu. Sang proklamator itu, boleh mengadakan kegiatan apa saja, kecuali kegiatan politik atau meninggalkan kota lebih dari 40 kilometer.

Maka, Bung Karno pun mengadakan banyak kegiatan seperti menulis sandiwara sekaligus menyutradarainya, menulis artikel pembaruan Islam dan analisa politik internasional, aktif dalam pergerakan dan mengajar di SMA Muhammadiyah dan membentuk kelompok debat.

Yang terlihat bekasnya hingga sekarang, yakni Masjid Jami’ Kota Bengkulu. Bangunan masjid yang masih berdiri kokoh hingga kini itu merupakan rancangan Soekarno. Masih ada tiga bangunan lainnya yang pernah dirancang arsitek lulusan ITB Bandung itu.

Di samping itu, Bengkulu juga merupakan titik penentu pelanjut ‘Dinasti Soekarno’. Di sinilah Bung Karno berkenalan, jatuh cinta dan akhirnya menikahi Fatmawati, putri tokoh Muhammadiyah Bengkulu, Hassan Din, yang banyak membantu Soekarno selama di daerah itu.

Demi keinginannya untuk memiliki anak, Bung Karno yang tidak mendapat keturunan dengan Inggrit Ganarsih, dengan berat hati harus berpisah dengan isteri pertamanya yang telah mendampinginya hingga di dua tempat pengasingan tersebut.

Dari Fatmawati, kemudian lahir mantan Presiden Megawati Soekarno Putri, yang kelak menjadi pewaris aktivitas politik keluarga Soekarno.  (Hendra Makmur) 

~ oleh hendramakmur pada 26 Desember 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: