Memperpendek Jarak Penonton dengan Teater

IVAN Yanex Kaliayev masuk ke panggung dengan nafas tersengal. Wajahnya pucat pasi dan terlihat sangat tertekan. “Aku tak sanggup melemparkan bom itu,” kata anggota kelompok teroris sempalan Partai Sosialis Revolusioner, Rusia pada 1905 tersebut.

Kaliayev ditugaskan kelompok kecil itu untuk meledakkan kereta kuda yang membawa Pangeran Sergei Romanov, paman Tsar Nikolas II. Rencana pertama yang sudah tertata rapi itu gagal berantakan. Kaliayev tak mampu melemparkan bom ‘hanya’ karena melihat dua anak kecil bersama pangeran.

Stephan Fedorov, anggota kelompok lainnya, tak bisa menerima alasan Kaliayev. Dia meragukan ‘idealisme revolusioner’ rekannya itu. Namun, Kaliayev dibela kekasihnya Dora Doulebov dan anggota kelompok lainnya. Membunuh anak-anak, bagi mereka, tetap merupakan kejahatan besar walau dalam konteks terorisme.

Lakon ‘Keadilan’ yang diterjemahkan Ahmad Asnawi dari ‘Les Justes’, karya penerima nobel sastra asal Prancis Albert Kamus, 1949 tersebut ditampilkan dalam ‘Pekan Apresiasi Teater (PAT) IV’ di Gedung Hoerijah Adam, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padang Panjang pada Rabu (17/5/2006) malam lalu.

Disutradari oleh Fathul A. Hussein, delapan anggota kelompok teater Actor Unlimited (AUL), asal Bandung membawakan karya itu dengan cukup apik. Kedisiplinan bermain, kostum dan tata rias wajah pucat khas orang Rusia, menjadi daya tarik tersendiri penampilan itu.

Namun, teater dengan durasi lebih dari dua jam itu, kurang memberikan sentuhan baru. Sehingga, sepertiga dari sekitar 500 penonton yang terdiri dari warga Padang Panjang dan mahasiswa STSI tak betah di kursinya. Di luar itu, konteks teater yang menyampaikan pesan kemanusiaan kepada para teroris tersebut, agaknya masih pas. Karena, persoalan terorisme masih dirasakan sebagai salah satu masalah besar di negeri ini.

Selain AUL, kelompok independen lainnya yakni, Teater Tetas Jakarta yang membawakan ‘Julung Sungsang’. Sementara, dari STSI Padang Panjang sendiri, membawakan tiga teater, masing-masing ‘Dekonstruksi Perawan’ (karya Tya Setiawati), ‘Hamletmaschine’ (Heiner Muller) dan Dialog yang Membentur Batu, Percakapan yang Tak Selesai (Wisran Hadi).

Kampus lainnya yang bertamu dan menampilkan karya teater, masing-masing Institut Kesenian Jakarta (IKJ), STSI Bandung dan Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) Pekanbaru. Seluruh penampilan tersebut ditampilkan selama sepekan di STSI sejak Senin (15/5) lalu hingga Sabtu (20/5/2006).

Selain penampilan teater, PAT IV juga diisi dengan diskusi teater yang menghadirkan pekerja dan pengamat teater seperti Wisran Hadi (Padang), Fathul A. Hussein (Bandung), Kasim Ahmad (Jakarta) dan Pandu Birowo (Padang Panjang).

Menurut Wisran, di Indonesia selama ini, jarak antara teater dengan penonton terlalu lebar. “Sehingga, teater lebih sering sunyi dari penonton,” katanya. Dia mempertanyakan, kegiatan yang ingin dicapai PAT IV. “Apakah hanya sampai berkumpul-kumpul, ataukah ada yang harus dicapai setelah ini,” ujarnya.

Berbeda dengan Wisran, menurut Fathul, tak bisa seluruh wilayah Indonesia menunjuk kasus jarak antara penonton dengan teater. Pasalnya, di Bandung, penonton sudah mulai meminati teater. “Sebagai salah satu ukuran, kelompok-kelompok teater di Bandung sudah bisa memungut bayaran Rp10 ribu per orang kepada penonton,” katanya.

Dosen Teater STSI Padang Panjang Kurniasih Zaitun mengatakan ajang PAT IV tersebut diarahkan untuk mengadakan komparasi antara karya teater dari kampus dengan kelompok di luar itu. “Teater sudah menjadi ilmu, sehingga sudah perlu ada kajian dan pemikiran untuk memperpendek jarak yang masih ada antara teater dengan penonton,” ujarnya. (Hendra Makmur)

~ oleh hendramakmur pada 26 Desember 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: