Membangun Pertanian Organik dengan Petani Peneliti

UDARA dipenuhi sinar matahari, siang itu di Nagari Aie Angek, Kecamatan Sepuluh Koto, Kabupaten Tanah Datar. Namun, panasnya seperti hilang karena terpaan angin Gunung Merapi yang dingin.

Angin itu turun dari puncak tertinggi salah satu gunung berapi teraktif di Pulau Sumatra tersebut, melalui lereng-lereng terjal. Hingga, akhirnya menyapu hamparan hijau sawah dan ladang di bawahnya.

Di salah satu sisi barat kaki Gunung Merapi itu, pada akhir Mei lalu, beberapa petani terlihat sibuk dengan beragam aktivitas. Sepintas, mereka terlihat seperti petani kebanyakan yang merawat tanaman dengan pengetahuan tradisional. Namun, setelah dicermati, ternyata mereka berbeda.

Andrawadi Eka Putra, 28, misalnya, terlihat sibuk meramu air beberapa daun yang akan dipakai sebagai insektisida nabati. Zulkifli Sutan Mancayo, 49, sibuk mencampur kotoran dan urine kambing sebagai pupuk yang sebanding dengan urea.

Itulah sekilas gambaran aktivitas di Institut Pertanian Organik (IPO) Aie Angek, di kaki Gunung Merapi, sekitar 20 km di sebelah selatan Kota Bukittinggi. Namanya, kedengaran mentereng seperti sebutan untuk perguruan tinggi pertanian yang memiliki gedung megah, dilengkapi laboratorium dengan peralatan lengkap.

Ternyata, yang disebut IPO, hanya sebidang lahan seluas setengah hektare yang ditanami beragam tanaman seperti cabe, bawang, brokoli, dan aneka sayuran lainnya. Tak ada gedung megah. Bangunan yang ada, sebuah gubuk kayu berukuran panjang delapan meter dan lebar empat meter, yang berfungsi sebagai ruang pertemuan dan ‘kantor’ para peneliti IPO.

Di arah barat, ada lagi sebuah gubuk tempat para petani beristirahat melepas lelah berdekatan dengan sebuah ruang kecil tempat pembibitan. Di arah selatan, terdapat sebuah kandang berisi belasan kambing yang dipagari dengan pagar kawat setinggi dua meter. Di depan kandang, terpampang merk ‘Pabrik Pupuk’.

“IPO memang kita dirikan dengan konsep perguruan tinggi. Di sini, juga ada tri dharma: pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Namun, yang jadi pendidik di sini adalah alam, petani menjadi peneliti dan hasilnya penelitiannya didokumentasikan untuk kepentingan masyarakat,” kata Rektor IPO Ir. Djoni, kepada Media Indonesia.

Djoni adalah otak dan penggagas berdirinya IPO pada 2004 lalu. Sebelumnya, sejak 1984 sarjana pertanian Universitas Andalas (Unand) Padang pada 1980 tersebut, memang sudah akrab dengan petani. Sejak bertugas sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Balai Perindungan Tanaman (BPT) Sumbar pada 1984, Djoni sudah berpikir berbeda dengan kebanyakan PNS lainnya.

“Saya prihatin dengan keadaan pertanian kita yang tak kunjung membuat petani sejahtera. Setelah berkeliling ke berbagai daerah, ternyata, banyak di antara mereka yang berpotensi. Hanya saja, mereka belum dibina dengan cara yang pas. Kebijakan pertanian selama ini, belum menyentuh persoalan petani,” katanya.

Suami dari Sri Susilawati dan bapak dari lima anak itu, kemudian banyak terlibat dalam pelatihan terhadap para petani. Namun, tak seperti penyuluh pertanian lainnya, usai penyuluhan petani tak ditinggal begitu saja. Pria kelahiran Bukittinggi, 15 Agustus 1955 tersebut, rajin mengunjungi mereka, berdiskusi, memberi masukan dan mengunjungi ladang para petani.

Ketika berdiskusi itu, Djoni pun menebarkan virus <i>Alam takambang jadi guru<p> (alam terkembang jadi guru). Adagium dalam adat Minangkabau tersebut mengajarkan manusia untuk mengambil pelajaran dari alam.

“Masalah petani kan ada di lahan, jadi mengapa harus memecahkan masalahnya di tempat lain. Selama ini, petani tak pernah dididik menjadi peneliti. Penelitian diadakan di perguruan tinggi oleh dosen dan peneliti, kemudian baru disosialisasikan kepada petani. Ini membutuhkan waktu lama, hasilnya baru sampai ke petani tiga sampai empat tahun. Itu pun belum tentu bisa menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.”

Jadi, petani pun dirangsang menjadi peneliti di lahan masing-masing. “Kita harus membangun potensi yang ada pada petani agar mereka bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, membangun keingintahuan, selalu belajar lewat alam,” katanya.

Salah satu persoalan petani di negeri ini, menurut Djoni, ketergantungan petani terhadap pupuk dan obat tanaman dari bahan kimia alias bahan <i>un-organic<p>. “Pemakaian pupuk kimia dan insektisida kimia selama ini meningkatkan biaya produksi pertanian, di samping itu juga mengurangi kualitas hasil,” katanya.

Selama ini, karena tidak ada pengetahuan untuk menggunakan alternatif lain, menurut dia, petani ‘terpaksa’ menggunakan bahan-bahan kimia tersebut. Padahal, alam ternyata sudah menyediakan ‘solusi alami’ yang akan menjadi pupuk dan obat tanaman.

Kotoran kambing yang dicampur dengan urine binatang tersebut, misalnya, ternyata tak kalah dengan urea. Kandungan 0,67% sampai 1,27% kalsium (Ca) dalam urine kambing malah menjadikan pupuk alami ini punya kelebihan dibanding urea.

Di ‘pabrik pupuk’ IPO, Sutan Mancayo memperlihatkan hasil penelitian petani bagaimana kiat melebur kotoran yang keras itu. “Untuk menjadikannya pupuk, banyak yang menghaluskan kotoran kambing dengan cara ditumbuk. Ternyata, kotoran itu mudah hancur jika dicampur dengan urine-nya sendiri. Hanya dalam waktu dua hari, campuran itu sudah lebur dan siap disiramkan ke tanaman,” katanya.

Sementara, Andra menceritakan tentang hasil penelitiannya membuat ramuan nabati untuk mengendalikan ulat pemakaian daun. Dengan bahan dari lagundi (<i>vitex trifolia<p>) seberat 5 ons, bawang putih 2 ons, lengkuas 3 ons, brotoali (tinospora tuberculata) 4 ons, serai 4 ons, pinang (areca catechu) 1 buah dan urine kambing 1 liter akan didapat ramuan yang bisa mematikan ulat.

“Alam memang sudah menyediakan jawaban untuk persoalan pertanian. Petani sebenarnya tak perlu memakai bahan kimia sedikit pun. Para petani peneliti di IPO dan berbagai daerah lainnya sudah membuktikan hal tersebut,” ungkap Djoni.

Di Sumbar, ada 35 petani – sahabat Djoni, yang sudah menerapkan prinsip pertanian yang sehat atau menjadi petani peneliti. Selain Mancayo dan Andra, antara lain, ada Aldafrizal di Sungai Kamuyang, Kecamatan Situjuh, Kabupaten Limapuluh Kota, Maas di Padang, Zambir Ibrahim di Ampek Angkek, Kabupaten Agam, Ali Kaman di Indrapura, Kabupaten Pesisir Selatan, Marsilan di Kasang, Kabupaten Padang Pariaman, Ambo di Kota Pariaman, Asni Astar di Kabupaten Solok dan Ngadino di Sitiung, Kabupaten Dharmasraya.

“Mereka merupakan petani luar biasa. Cerdas, mau belajar dan tekun meneliti. Jadi, jangan heran karena beberapa di antara mereka, sering saya undang sebagai pembicara di seminar ilmiah untuk berdebat dengan doktor pertanian tamatan luar negeri,” ujar Djoni.

Djoni sendiri kadang tidak percaya melihat kemajuan pesat para petani binaannya. “Sayangnya, apa yang mereka lakukan selama ini tidak diketahui luas. Apa lagi, kebijakan pertanian belum sepenuhnya berpihak kepada petani. Untuk pupuk non organik, misalnya, pemerintah memberikan subsidi. Sementara, kepada para petani yang melakukan eksplorasi penggunaan pupuk organik tak mendapat perhatian cukup,” kata mantan Kepala Balai Perlindungan Tanaman (BPT) Sumbar 1996-2006 itu.

Untuk menyosialisasikan pertanian organik tersebut, Djoni dan beberapa temannya merogoh kocek pribadi mendirikan IPO. “Namun, itu bukan duit hilang kok. Bisa dikatakan, ini adalah aktivitas sosial, tapi tidak merugi. Hasil pertanian, misalnya bisa kita jual. Demikian juga kambing terus bertambah,” kata dia.

Rupanya, aktivitas total Djoni untuk dunia pertanian menarik perhatian Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi. Sejak dua bulan lalu, Gamawan mempercayakan Djoni untuk memimpin Dinas Pertanian Sumbar.

Djoni tetaplah Djoni, tak berubah. Nada bicaranya masih tegas dan blak-blakan. Dia pun masih gila kerja. Kantor Dinas Pertanian yang bersebelahan dengan Kantor Gubernur Sumbar di Jalan Sudirman Padang itu sering buka sampai pukul 01.00 WIB dini hari. Di dalamnya, Djoni masih sibuk bekerja atau mendiskusikan pembangunan pertanian.

“Saya masih menyusun konsep, memindahkan cara saya melakukan pembinaan petani dan mengembangkan pertanian organik selama 22 tahun, menjadi program pemprov,” ujarnya. (Hendra Makmur)

~ oleh hendramakmur pada 26 Desember 2007.

Satu Tanggapan to “Membangun Pertanian Organik dengan Petani Peneliti”

  1. maju terus pak, kami buruh pemerintah akan berusaha memberikan yang terbaik untuk masyarakat, terutama petani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: