Membangkit Listrik dengan Bandul Gelombang

GELOMBANG seperti berkejaran menghempas ke Pantai Padang. Riak yang dihembus angin Samudera Hindia itu terus berdebur menciptakan nyanyian khas dari laut, selama berabad-abad. Selama itu pula, kebanyakan orang hanya memandangnya sekedar sebagai ombak yang bergulung dan kemudian pecah ke tepian.

Tidak demikian dengan Zamrisyaf, 48. Pada 1999, ketika menumpang Speed Boat ‘Kuda Laut’ dari Mentawai menuju Padang , ia tercenung lama. Hempasan gelombang yang keras menghantam kapal kecil tersebut menginspirasinya tentang energi lautan yang selama ini terabaikan.

“Saya berpikir, bagaimana caranya memindahkan energi gelombang yang besar itu menjadi energi gerak, sehingga bisa dimanfaatkan menjadi pembangkit tenaga listrik,” katanya kepada Media Indonesia, Rabu (26/7/2006).

Zamrisyaf, lulusan STM Muhammadiyah Padang pada 1976 itu merupakan karyawan Bidang Perencanaan Perusahaan Listrik Negara (PLN) Wilayah Sumatra Barat (Sumbar). Ia ditugaskan ke Mentawai untuk mencari kemungkinan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hydro (PLTMH) di Kabupaten Kepulauan Mentawai.

“Setelah berkeliling Mentawai, kami tidak menemukan sungai atau tenaga air yang bisa dimanfaatkan untuk membangun PLTMH. Sehingga, saya kemudian berpikir, apakah bisa memanfaatkan tenaga gelombang,” kata pria kelahiran 19 September 1958 itu.

Ide tersebut lama mengendap. Sampai akhirnya pada tahun 2002, ketika naik kapal laut dari Padang menuju Jakarta , Zamri terinspirasi melihat lonceng kapal yang berdentang karena kerasnya gelombang.
“Itulah ide awalnya. Bandul yang bergerak karena gelombang!” seru Zamrisyaf. Dia pun bersemangat meneruskan konsep rancangannya. Mulanya dengan membuat gambar dan kemudian berkonsultasi dengan sahabatnya Aidil Zamri, Dosen Politeknik Teknologi, Universitas Andalas.

Aidil kemudian membantu dengan hitungan dan rumus untuk membuat alat yang diinginkan Zamrisyaf. Rancangan itu disusun dalam posisi mengapung di atas permukaan air laut. Temuan yang akhirnya diberi nama Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut Sistem Bandulan (PLTGL-SB) itu akan bergerak mengikuti arus gelombang. Ini membuat bandul yang digantung di alat tersebut selalu bergerak sesuai dengan alur gelombang.

Gerakan bandul yang terus-menerus tersebut menggerak pompa hidraulik type cilender, sehingga memompa fluida dari resevoir ke motor hidraulik. Setelah distabilkan di tabung acumalator selanjutnya tekanan fluida menggerakan motor hidraulik yang langsung memutar dynamo untuk mengeluarkan energi alias daya listrik.

Temuan bapak dari tiga anak tersebut merupakan pertama di dunia dengan memanfaatkan tenaga gelombang sistem bandul. Sebelumnya beberapa negara lain di dunia sudah memanfaatka gelombang laut untuk membangkit tenaga listrik, tapi dengan cara yang berbeda.

Misalnya, dengan memanfaatkan tenaga hempasan gelombang untuk menghasilkan tekanan penggerak dynamo. Atau, sistem gerakan engsel yang kemudian diubah menjadi tenaga listrik. Untuk membuatnya, dibutuhkan biaya lebih mahal bila dibandingkan sistem bandul temuan Zamrisyaf.

Karena ini yang pertama di dunia, temuan tersebut kemudian dipatenkan pada 2002. Zamrisyaf pun mendapat Satya Lencana Pembangunan dari Presiden Megawati Soekarno Putri.

Departemen Sumber Daya Energi dan Mineral pun menguji temuan Zamrisyaf dalam penelitian yang intens di Jakarta. Namun, baru sebatas penelitian. Temuan itu belum diuji dalam skala yang lebih besar karena terbatasnya dana penelitian di negeri ini. “Padahal, jika ini dikembangkan, kita akan mengakhiri krisis energi yang terjadi saat ini,” ujar Zamrisyaf.

Dia memberikan hitungan, untuk areal lautan dengan luas satu kilometer persegi, energi gelombang laut dapat menghasilkan daya listrik sekitar 20 Megawatt (Mw). Jumlah ini sama dengan kekurangan daya listrik di Sumbar saat ini. Investasinya Rp20 juta per Kilowatt (Kw) atau total Rp400 miliar dan sanggup menerangi 40.000 rumah.

“Jumlahnya memang hampir sama dengan membangun PLTA dan PLTU bahkan lebih mahal dibanding diesel. Tapi, setelah beroperasi akan jauh lebih murah, karena tenaga yang digunakan gratis,” katanya.
Namun, menurut Zamrisyaf, sebelum temuan ini dikembangkan dan bermanfaat untuk masyarakat, tak ada gunanya.Bagi dia, penghargaan yang diterima belum seberapa dibanding jika melihat hasil kerjanya bisa berguna.

Sebelumnya, pada era 1980-1983, nama Zamrisyaf pernah cukup terkenal di Sumbar, bahkan di Indonesia. Ketika itu, ia baru beberapa tahun menamatkan STM dan menetap di kampungnya di Nagari Sitalang, Kecamatan Ampek Nagari, Lubuk Basung, Kabupaten Agam. Karena ingin mandiri dan berpenghasilan sendiri, sulung dari sembilan bersaudara itu mencoba buka bengkel elektronik kecil-kecilan di rumah.

Kendalanya ketika itu, tak ada listrik. Sehingga, Zamrisyaf tak bisa menggunakan solder yang amat diperlukan untuk memperbaiki berbagai peralatan elektronik. Ia kemudian mencoba meloby ayahnya, Syahroel Sutan Sinaro untuk membeli genset sebagai sumber tenaga listrik.
“Awalnya dengan pemikiran, genset itu bisa disewakan juga kepada tetangga yang butuh penerangan listrik. Namun, setelah kami hitung-hitung biaya untuk membeli bahan bakar solar terlalu besar, sehingga akhirnya batal.”

Zamrisyaf kemudian dapat ide ketika melihat kincir air di dekat rumahnya yang biasa digunakan untuk menumbuk padi di lesung. Berbekal keinginan kuat mendapatkan listrik, ia mulai mengutak-atik kincir agar bisa menggerakkan dynamo. Enam bulan lamanya dia mencoba, kegigihan itu akhirnya membuahkan hasil.

Kincir air Zamrisyaf bisa menghasilkan listrik yang bisa menerangi 20 rumah selama 24 jam. Nama Zamrisyaf pun melambung. Media massa ketika itu ramai memberitakan. Menteri, Gubernur (ketika itu) Azwar Anas, silih berganti datang memuji dan berjanji akan menerapkan konsep Zamri ke seluruh Sumbar. Pemuda tersebut pun dijanjikan akan disekolahkan oleh pemerintah.

Namun, janji hanya tinggal janji. Zamrisyaf kemudian dilupakan begitu saja. Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi ia kemudian merantau ke Malaysia pada 1983. Ternyata, diam-diam sekelompok wartawan mengusulkan Zamri untuk menerima Kalpataru. Setelah dinilai, ternyata dia mengalahkan 22 nama lainnya yang diusulkan pemda. Pemda Sumbar pun kelimpungan mencarinya ke Malaysia . Karena tak kunjung bertemu, akhirnya Syahroel, ayah Zamrisyaf mewakilinya bertemu Presiden Soeharto untuk menerima penghargaan tersebut.

Zamri sendiri, baru tahu kabar itu setelah mendengar radio di Malaysia. Media massa , ketika itu ribut menyalahkan pemda. Untuk menebus hal itu, Gubernur Azwar Anas memanggilnya pulang. Oleh Azwar, Zamri direkomendasikan menjadi karyawan PLN.

“Tanggung jawab itu, kemudian melekat pada diri saya. Saya ingin agar bisa memanfaatkan sumber energi lain yang bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik,” ujarnya. (Hendra Makmur)

~ oleh hendramakmur pada 26 Desember 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: