Suara Chairil Anwar dari Taeh Baruah

Suara Chairil Anwar dari Taeh Baruah

GERIMIS seperti tak ingin berhenti mengguyuri Nagari Taeh Baruah, Kecamatan Payakumbuah, Kabupaten Limapuluhkota, Minggu (29/5/2005) dini hari lalu. Namun, sekitar 800 warga setempat bercampur dengan penyair dan sastrawan Sumatra Barat (Sumbar) juga tak ingin beranjak dari sebuah lapangan seluas sekitar 4 ribu meter di nagari tersebut.

Di pagi dingin itu, dari sebuah panggung sederhana di pinggir lapangan, meluncur lirik-lirik magis diiringi ‘Sirompak’, alat tiup sejenis saluang yang berukuran lebih panjang, sekitar 75 cm. Drama tradisi Minang randai, pun ditampilkan membawakan cerita ‘Santan Batapiah’ yang bercerita tentang pengorbanan cinta.

Kedua seni tradisi itu tampil sebagai hiburan dalam ‘Alek Puisi Taeh’ yang digelar Dewan Kesenian Sumatra Barat (DKSB) bekerja sama dengan nagari setempat pada 27-30 Mei lalu.

Lalu, penyair-penyair Sumbar seperti Adri Sandra, Iyut Fitra, Agus Hernawan, Yusrizal KW, Sondri BS dan Sigid A. Yazid naik ke panggung. Maka, meluncurlah lirik-lirik lugas dan tajam karya Chairil dari puisinya seperti, ‘Aku’, ‘Krawang Bekasi’, ‘Diponegoro’, ‘Yang Terhempas dan Yang Terputus’ dan ‘Nenek’, puisi yang ditulisnya di sebuah pondok kebun di Taeh, di atas bungkus rokok cap Tombak.

Acara itu untuk memperingati 56 tahun meninggalnya Chariril Anwar, penyair besar Angkatan ’45 yang berdarah asli Taeh Baruah. Selain penampilan seni tradisi, siang sebelumnya Gubenur Sumbar yang diwakili Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Sumbar Yulrizal Baharin meresmikan ‘Rumah Pengetahuan Chairil Anwar’, sekitar 500 meter dari lapangan tadi.

“Pemerintah provinsi akan mengembangkan rumah pengetahuan ini menjadi salah satu objek wisata budaya,” kata Yulrizal. Rumah dimaksud adalah rumah gadang bergonjong empat, berukuran sekitar 10 kali empat meter yang selama berpuluh tahun tak dihuni lagi. Kini kondisinya sudah rusak di sana-sini, sehingga memang membutuhkan perbaikan.

“Untuk tahap awal, rumah ini kita isi dengan 100 buku dulu tentang sastra, adat dan cerita rakyat. Nanti, setelah perbaikan kelar, akan terus ditambah,” kata Ketua DKSB Ivan Adilla.

Rumah bagonjong tersebut memang milik Tulus, ayah Chairil. Tulus yang pada 1948 menjabat Bupati Indragiri Rengat (kini masuk wilayah Riau) itu, memang putra asli Taeh Baruah. Dari perkawinannya dengan Saleha dari Situjuah, Kabupaten Limapuluh Kota, pada 1921, pasangan ini melahirkan Chairil Anwar di Medan.

Diumur 4 tahun, Chairil dibawa ibunya ke Jakarta dan dibesarkan di kota ini. “Untuk menelusuri kampung halamannya, Chairil kembali ke Taeh tahun 1942 dan menetap di sini selama enam bulan, terus ke Medan melihat tanah kelahirannya,” kata Yasri Datuk Topa, tokoh masyarakat setempat.

Rangkaian acara yang juga diisi dengan lomba baca puisi antar siswa tersebut, menurut Ivan Adilla sekaligus mendeklarasikan Taeh Baruah sebagai sentral kegiatan perpuisian Sumbar, dan juga Indonesia.

Sayangnya, Dinas Pariwisata Kabupaten Limapuluh Kota di bawah pimpinan Yanuar Abdullah, sama sekali tidak membantu pelaksanaan acara tersebut. “Ketika acara berlangsung, mereka hanya numpang nama, padahal sejak awal tak mau membantu,” kata Sekretaris DKSB Nasrul Azwar.

Walau tak dibantu, para penyair tak peduli. Mereka tetap ingin kembali membawa Chairil ke kampungnya, membacakan puisi yang ditulis Chairil di pondok kebun, Taeh Baruah : “Bukan kematianmu menusuk kalbu/ Hanya kepergianmu menerima segala apa.” (Hendra Makmur)

 

~ oleh hendramakmur pada 19 Desember 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: