Ceria Outbond Sembari Menikmati Alam

•19 April 2008 • 1 Komentar

SINAR matahari terasa lembab menyentuh kulit. Teriknya pupus oleh belaian angin Gunung Merapi dan Singgalang yang dipantulkan oleh terjalnya tebing Ngarai Sianok hingga ke pipi.

Ngarai Sianok adalah sebuah lembah terjal yang berada sekitar 100 meter di bawah , Kota Bukittinggi, Sumatra Barat (Sumbar). Selama ini, kecantiknya lebih sering dipandang dari Panorama di ketinggian.

Namun, siang itu, sekitar pertengahan Januari 2006, 60-an pegawai Bank BNI Cabang Balige, Sumatra Utara, turun ke sana dan menyusuri dasar lembah yang dialiri aliran bening air gunung.

Para karyawan tersebut tengah mengikuti wisata outing yang digelar Hotel Novotel Coralia, Bukittinggi. Nyanyian kecil dan keceriaan masih terdengar ketika medan yang dilalui masih ‘bersahabat’.

Ketika rute diarahkan mendaki ke Nagari Koto Gadang di atas ngarai, keluhan di sana- sini mulai terdengar. Apalagi, ketika harus turun naik menerobos hutan yang tumbuh di tanah curam.

Dibutuhkan kerja sama tim untuk melalui rute tersebut. Apa lagi ketika mengikuti berbagai games di posko-posko yang dilewati. “Ini bisa melatih kerja sama tim yang nanti bisa diterapkan di dunia kerja,” kata Djulkarnain, general manajer Hotel Novotel kepada Media Indonesia.

Sepekan sebelumnya, sekitar 160 km di arah tenggara, di pinggir Danau Diatas yang cantik, puluhan pegawai Bank BNI Cabang Padang terlihat serius mengikuti permainan outbond yang digelar agen travel ‘Sumatra and Beyond’.

Sebuah kelompok yang terdiri dari belasan karyawan tampak sibuk memindahkan bola-bola kecil dengan pipa bersambung-sambung. Yang lain terlihat memindahkan air dengan gelas, ke sebuah galon. Namun, mereka diberi rintangan-rintangan yang menyulitkan permainan itu. Keceriaan berbaur dengan kekesalan terdengar di tiap-tiap tim.

“Permainan ini untuk melatih kekompakan, leadership dan konsentrasi. Bukan hanya sekedar permainan. Setelah games, para peserta diberi materi manajemen untuk menerjemahkan permainan tadi. Sejak direksi hingga ke jajaran terendah, semuanya punya hak dan kewajiban yang sama dalam pelatihan ini,” kata Direktur Sumatra and Beyond Ridwan Tulus.

Tak hanya sekedar itu, sama halnya dengan di Ngarai Sianok, outbond di Danau Diatas juga sembari berbaur dengan alam yang cantik. Di sela-sela pohon hijau di balik danau, terlihat Gunung Talang berdiri kokoh di kejauhan. Di kakinya, menghampar kebun teh yang luas dan Danau Dibawah, kembaran Danau Diatas.

Outbond merupakan metode pelatihan manajemen organisasi dan pengembangan diri di alam terbuka yang saat ini sedang tren di kalangan kaum usahawan dan perbankan. Pelatihannya, disimulasikan melalui permainan untuk meningkatkan motivasi, percaya diri, kreatifitas, kebersamaan dan saling percaya pesertanya. Outbond skalanya lebih besar dan lengkap, sementara outing lebih pendek dengan materi lebih padat.

Berbagai perusahaan dan bank di Indonesia, rata-rata sudah membuat kegiatan ini dalam program mereka. Sembari libur mengendorkan otak, bisa juga berolah raga dengan permainan yang diikuti.

Kelebihan outbond maupun outing di Sumbar, adalah lokasinya di tengah alam yang tak diragukan lagi keindahannya. Anda punya banyak pilihan. Di Ngarai Sianok yang memukau, atau di Danau Diatas – yang kata Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik – lebih cantik dari Swiss? (Hendra Makmur)

Lembaran Baru dari Bukittinggi

•19 April 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono terlihat begitu ceria. Sambil berjalan kaki dari ruang pertemuan ke ruang makan di Istana Bung Hatta, Bukittinggi, Sumatra Barat (Sumbar) bersama Perdana Menteri Malaysia

Abdullah Ahmad Badawi, Kamis (12/1/2006), SBY sempat menyenandungkan beberapa lagu.

Maka, mengalirlah tembang kenangan seperti ‘Widuri’ dari mulut Sang Presiden. Di sampingnya, Pak Lah – demikian Badawi akrab disapa – tersenyum, seperti menikmati senandung sejawatnya.

“Rumah (kota) ini kaya sejarah, sekarang kita harus membuat sejarah yang baru. Lembaran baru antara Indonesia dengan Malaysia,” kata Pak Lah kepada SBY, seperti diceritakan Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi kepada Media Indonesia

Membuka lembaran baru tersebut, agaknya merupakan keinginan kedua negara untuk memperbaiki hubungan setelah sempat tegang karena persoalan Blok Ambalat dan kembali akrab seperti dulu.

Selain menyepakati berbagai hal di bidang ekonomi, investasi, pendidikan dan kesejahteraan sosial, pertemuan SBY – Badawi memang berlangsung akrab. “Pertemuan bilateral kedua negara, bahkan diawali dengan cerita sejarah Kota Bukittinggi,” kata Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng kepada Media Indonesia.

Kota kelahiran Bung Hatta tersebut, memang penuh sejarah. Selain melahirkan tokoh-tokoh pendiri bangsa dan sejumlah ulama besar, Bukittinggi sempat menjadi ibu kota RI. Pada 1948, ketika Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda, Mr. Sjafroedin Prawiranegara diminta Bung Karno memimpin Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dari Bukittinggi.

Itu disadari SBY. “Semoga kota yang penuh sejarah, penduduknya yang ramah, akan membawa berkah untuk meningkatkan hubungan Indonesia-Malaysia,” katanya di depan jamaah Masjid Jami’, Birugo, Bukittinggi, Jumat (13/1).

Andi Mallarangeng mengatakan, inilah kunjungan SBY terlama ke daerah, sejak menjabat presiden. Biasanya, kunjungan presiden ke daerah paling lama dua hari. Sementara, dalam kunjungan ke Bukittinggi, presiden yang disertai 16 menteri dan sejumlah pengusaha tinggal hingga empat hari (11-14 Januari).

“Selain mengadakan pertemuan bilateral, presiden memang berniat membantu pembangunan ekonomi Sumbar. Dengan mengadakan pertemuan internasional di sini, presiden ingin turut mempromosikan Sumbar. Tempat wisata dan investasi bukan hanya di Jawa dan Bali,” tutur Andi.

Sehingga, setelah mengadakan pertemuan puncak pada Kamis (12/1), acara kedua delegasi lebih santai dan banyak bersifat wisata. Jumat pagi, kedua kepala pemerintahan bersama para menteri dan Gubernur Sumbar mengadakan golf bersama di Anai Resort, Kabupaten Padang Pariaman, sekitar 40 km di selatan Kota Bukittinggi.

Selepas shalat Jumat bersama warga, presiden juga mengunjungi Pasar Atas, Bukittinggi, setelah

sebelumnya makan nasi kapau (nasi rames khas Minang).

Di pasar, SBY berdialog dengan para pedagang dan warga yang menyambutnya dengan antusias. Tentunya, tak lupa membeli oleh-oleh seperti baju koko dan souvenir.

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman kepada Media Indonesia menyebut lembaran baru kunjungan tersebut sebagai usaha untuk membuka pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah-daerah. “Harapan kita, setelah di Bukittinggi ini, acara berskala nasional dan internasional lainnya tak mesti harus selalu di Jakarta. Intinya, bagaimana mendorong pembangunan daerah di era desentralisasi,” katanya.

Pemerintah provinsi Sumbar menyatakan kesiapan untuk tantangan itu. “Kita akan konsentrasikan untuk membenahi pelayanan pariwisata, perizinan investasi termasuk di dalamnya mendidik masyarakat,” kata Wakil Gubernur Marlis Rahman. (Hendra Makmur)

Dari Bandara Minangkabau ke Seputar Sumbar

•19 April 2008 • 1 Komentar

MENUJU ke Kota Padang, dari Bandara Minangkabau bisa ditempuh dengan menggunakan bus khusus bandara seperti Damri dan Tranex, atau dengan taksi. Dari bandara, bus melayani dua rute, yakni Bandara – Lapangan Imam Bonjol yang menyusuri jalur barat Kota Padang serta Bandara – Simpang Aru yang melewati wilayah tengah Kota Padang.

Ongkos bus sebesar Rp17 ribu relatif jauh lebih murah dibandingkan dengan taksi yang mencapai Rp75 ribu untuk jarak yang sama. Jika ingin langsung ke Bukittinggi dari Bandara, harga taksi sekitar Rp200 ribu, tergantung kepintaran menawar.

Taksi di Sumbar, memang kurang tertib, karena tak mau memakai argo. Namun, dengan taksi waktu dan jarak akan lebih hemat, karena tak perlu lagi ke Padang yang berjarak sekitar 22 km ke arah selatan.

Jika ingin hemat uang, lebih baik ke Padang dahulu dengan bus bandara melalui jalur barat. Di sepanjang jalan tersebut, banyak sekali pilihan angkutan travel mini bus sejak harga Rp15 ribu sampai dengan Rp30 ribu yang berangkat hampir setiap menit ke Bukittinggi. Ongkos lebih murah lagi, jika Anda mengendarai bus umum yang hanya menarik ongkos Rp12 ribu menuju Bukittinggi.

Bila belum banyak mengetahui informasi pariwisata di Sumbar, lebih baik Anda transit dulu di Padang. Hotel berbintang sekelas Bumi Minang, Pangeran Beach dan Rocky Plaza bisa menjadi pilihan tempat menginap untuk yang punya dana lebih. Bagi yang ingin hemat, tersedia puluhan hotel kelas melati dan penginapan murah dengan harga rata-rata Rp100 ribu per malam.

Memilih Padang sebagai tempat transit amat strategis, karena dari sini tersedia angkutan bus atau mini bus travel ke seluruh daerah di seputar Sumbar. Selama di Padang, Anda bisa membeli peta wisata Sumbar dan mencari informasi tentang lokasi pariwisata yang dituju. Anda memang terpaksa ke toko buku, karena di Bandara Minangkabau belum tersedia tourist information service.

Sembari memilih, Anda bisa berjalan-jalan ke Pantai Padang yang indah dan makan jagung bakar di Jembatan Siti Nurbaya kala malam tiba. Jembatan ini tempat nongkrong yang strategis karena bisa menikmati pemandangan lampu-lampu yang indah dan menikmati kota pelabuhan tua. Jangan lupa juga membeli keripik ‘balado’ untuk cemilan selama berwisata.

Jika ingin beberapa hari berkeliling Sumbar, lebih hemat dan praktis jika menyewa mobil rental dengan harga sekitar Rp300 ribu per hari, belum termasuk sopir dan BBM

Bukittinggi direkomendasikan sebagai tujuan wisata berikutnya selama di Sumbar. Hal tersebut, bukan saja karena kesejukan dan keindahan alamnya yang memukau, tapi karena wisata makanan dan belanjanya yang relatif lebih lengkap.

Penginapannya, juga banyak pilihan. Sejak dari hotel melati hingga ke hotel bintang empat sekelas Novotel Coralia yang terletak di jantung Kota Bukittinggi, tak jauh dari jam gadang yang terkenal itu.

Di kota ini, masih terdapat beberapa lagi hotel berbintang hingga hotel melati yang memasang tarif di bawah Rp100 ribu per malam. Untuk hotel yang murah, tak terlalu sulit mencarinya. Sebagian besar, hotel-hotel tersebut berada di sekitar jam gadang.

Dari Bukittinggi, Anda bisa ke arah barat sekitar 25 km untuk menikmati Danau Maninjau di kala senja. Di kawasan Embun Pagi, ada Hotel Nuansa Maninjau Resort yang dibangun di ketinggian, sehingga bisa memandang danau Maninjau.

Dari Bukittinggi juga bisa ke arah timur sejauh 30 km, untuk menikmati keindahan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota. Bisa juga ke arah tenggara untuk melihat situs budaya Minangkabau dan Istano Basa, pusat kerajaan Pagaruyung di masa lalu.

Dari sana, sekitar 50 km ke arah selatan, Anda bisa menikmati pemandangan Danau Diatas dan Danau Dibawah serta hamparan kebun teh yang indah. Lokasi tersebut berada di Kabupaten Solok. Dari sini, Anda bisa langsung kembali ke Padang untuk menuju Bandara Minangkabau. (Hendra Makmur)

Ditulis 22 Desember 2005

Tempat-Tempat Wisata Utama di Sumbar

•19 April 2008 • 3 Komentar

Bukittinggi

Di kota yang berjarak sekitar 90 km di utara Kota Padang itu , ada terowongan bekas markas tentara Jepang yang kini menjadi objek wisata ‘Lubang Japang’. Juga, bisa menikmati panorama Ngarai Sianok dilatarbelakangi Gunung Singgalang, benteng Ford De Kock dan jam gadang yang terletak di pusat kota.

Bukittinggi juga merupakan kota belanja yang seru. Selain ada perhiasan dan kerajinan dari perak, di sini juga banyak ditemukan beragam songket. Untuk makanan, terdapat pilihan yang menggiurkan seperti nasi kapau, kerupuk sanjai, lamang tapai, bika, dan beragam makanan enak lainnya.

Lembah Anai dan Padang Panjang

Di lokasi yang terletak di pinggir jalan Padang-Bukittinggi tersebut, terdapat air terjun hampir setinggi 100 meter serta panorama lembah Anai yang menyejukkan mata. Tak jauh dari sini, di Kota Padang Panjang ada perkampungan Minangkabau yang menggambarkan kehidupan di nagari-nagari Sumbar tempo dulu. Makanan khas Padang Panjang seperti sate dan ketupat Pitalah amat nikmat disantap dalam cuaca sejuk.

Maninjau dan Puncak Lawang

Danau Maninjau terletak di Kabupaten Agam sekitar 36 km ke arah barat dari Bukittinggi. Menuju ke danau yang dikurung bukit barisan tersebut, harus melewati jalan berliku naik dan turun. Ruas yang paling terkenal adalah Kelok 44 dengan tikungan tajam sebanyak 44 kali. Dari sini, bisa dilihat panorama Danau Maninjau yang bak lukisan dari ketinggian. Maninjau juga bisa dinikmati dari Puncak Lawang, bukit tertinggi yang melingkung Maninjau. Dari puncak tersebut, tiap tahun juga sudah diagendakan olah raga paralayang yang diikuti wisatawan mancanegara dan domestik. Di pinggir danau Maninjau, banyak tempat makan yang menyediakan makanan hasil danau seperti asin pensi (tumis kerang kecil) dan palai rinuak (kukus ikan kecil khas Maninjau).

Danau Kembar

Danau Diatas dan Danau Dibawah, terkenal juga sebagai danau kembar, karena letaknya yang berdekatan di Kabupaten Solok, sekitar 70 km di arah tenggara Kota Padang. Dengan kebun teh di sepanjang jalan, cuaca sejuk dan panorama yang indah, tak salah jika Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik menyebut lokasi ini, lebih indah dari Swiss. Selain menjual keindahan, di lokasi ini bisa dibeli buah markisa, khas Kabupaten Solok.

Harau

Panorama Harau di Kabupaten Limapuluh Kota, sekitar 40 km di timur Bukittinggi atau sekitar 130 km di timur laut Kota Padang ini adalah kawasan yang dikelilingi bukit terjal dengan pemandangan yang sangat indah. Di sini, ada kolam pemandian, penginapan dan juga air terjun.

Istano Pagaruyung

Terletak di Kabupaten Tanah Datar, sekitar 100 km di arah timur laut Kota Padang atau sekitar 30 km di timur Kota Padang Panjang. Selain bisa melihat istana yang megah, Anda bisa mengunjungi situs-situs budaya seperti batu bertulis peninggalan kerajaan Pagaruyung di masa lalu.

Kepulauan Mentawai

Kepuluan Mentawai bisa ditempuh dengan kapal dari Pelabuhan Bungus atau Pelabuhan Muaro, Padang selama empat jam dengan kapal cepat atau 10 jam dengan kapal biasa. Selain ada puluhan lokasi yang bagus untuk surfing di sekitar Pulau Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan, Anda juga bisa tracking masuk ke hutan Siberut untuk menyaksikan kehidupan asli masyarakat pedalaman Siberut.

Pesisir Selatan

Bagi yang menyukai wisata pantai, Pesisir Selatan bisa menjadi alternatif pilihan yang layak dipertimbangkan. Di kawasan yang berjarak sekitar 70 km di selatan Kota Padang tersebut terdapat Teluk Mandeh, Jembatan akar di kecamatan Bayang, air terjun Timbulun di kecamatan IV Jurai, dan Pantai Carocok di Painan. Tak jauh dari pantai Mandeh, bisa menikmati kebeningan aliran sungai Gemuruh, yang mengalir dengan lembut dari kerapatan hutan di atasnya, langsung menuju lautan. Di depannya terbentang pulau Cubadak dengan resort Internasional, Paradiso Village, yang jarak tempuhnya hanya 10 menit dengan speed boat dari pantai Mandeh.

Padang

Kota transit ini juga menyediakan berbagai lokasi yang layak untuk dikunjungi. Selain bisa melihat sunset di Pantai Padang dan jembatan Siti Nurbaya Muaro, di Padang juga bisa melihat batu legenda Malin Kundang di Pantai Air Manis. Di Padang, Anda bisa membeli keripik balado khas Kota Padang. (HR)

Ditulis 22 Desember 2005

Menikmati Ragam Wisata Ranah Minang

•19 April 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

SEORANG penerjun wanita asal negara Eropa tampak sibuk membenahi parasut yang terkait ke badannya. Tiga pria tampak ikut membantu penerjun tadi. Satu orang ikut mengikatkan jalinan tali, sementara dua lainnya membentangkan parasut selebar-lebarnya.

Tiba-tiba, angin bertiup kencang di Puncak Lawang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, beberapa bulan lalu itu. Parasut yang terbentang kemudian mengembang dan mulai naik. Tubuh penerjun bule tadi mulai sedikit terangkat.

“Hup!” Dengan sedikit lompatan ia sudah melayang ke arah Danau Maninjau yang membentang beratus meter di bawah Puncak Lawang. Ratusan penonton yang menghadiri even paralayang yang digelar pemerintah Kabupaten Agam itu bertepuk tangan dan melambaikan tangan.

Berpuluh mil di arah barat daya, seorang pria asal Australia menari-nari, seperti meniti ombak setinggi tiga meter di pesisir Pulau Sipora, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Kakinya yang telanjang menginjak papan surfing dengan panjang sekitar dua meter.

Beberapa puluh detik, dia berhasil ‘memperdaya’ ombak, menghindari gulungannya. Namun, kemudian dia terlihat capek dan menceburkan diri ke air laut yang biru. Beberapa saat kemudian, dia sudah berbaring menikmati matahari di pasir putih sebuah pulau kecil tak bernama di arah utara Pulau Sipora.

Beberapa wisatawan asing kepada Media Indonesia mengatakan, Puncak Lawang adalah tempat paralayang terbaik di Asia Tenggara. Seorang turis asal Amerika, bahkan pernah menyatakan, ombak di Mentawai adalah yang terbaik di dunia, melebihi Hawai. “Selain ombaknya besar, alam Mentawai masih asri,” katanya.

Sejak beberapa tahun terakhir, kaum hobbies dari berbagai negara memang memilih Sumbar menjadi salah satu pilihan utama untuk menyalurkan hobi mereka. Terlepas dari masih kurangnya fasilitas pariwisata di daerah yang berpotensi itu, dunia sudah mulai ‘mencium harumnya’.

Tinggal lagi, tugas pemerintah dan pelaku pariwisata untuk terus membenahi infrastruktur dan pelayanan pariwisata. Di bidang infrastruktur, sejak Agustus 2005 lalu, Sumbar misalnyan sudah punya bandar udara (bandara) baru untuk menggantikan Bandara Tabing yang sudah tak layak lagi digunakan.

Bandara Internasional Minangkabau (BIM), lapangan terbang baru itu, berdiri di areal seluas 482 hektare di Ketaping, Kabupaten Padang Pariaman, sekitar 22 km di utara pusat Kota Padang.

Dengan panjang landasan 2,75 km dan akan diperpanjang menjadi 3000 meter dalam waktu dekat, bandara ini bisa didarati pesawat berbadan lebar sejenis Air Bus 330.

“Dibukanya bandara ini, membuat akses Sumbar ke luar negeri lebih besar. Pesawat berbadan besar sudah bisa mendarat. Sehingga, biaya yang dibutuhkan untuk berkunjung ke daerah ini akan lebih bersaing,” kata Ketua Asosiasi Biro Perjalanan Wisata (Asita) Asnawi Bahar kepada Media Indonesia, Selasa (22/12/2005)

General Manajer (GM) Garuda Indonesia Cabang Padang Jubi Prasetyo menambahkan, arus penumpang menuju dan meninggalkan Sumbar memang memperlihatkan kecenderungan meningkat, terutama dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

Karena itu, sejak beberapa bulan lalu Garuda Indonesia membuka rute penerbangan ke Singapura, empat kali sepekan pada Senin, Rabu, Jumat dan Minggu. “Sebelumnya, hanya Garuda melayani penerbangan Jakarta-Padang, dua kali sehari pulang pergi. Sesuai perkembangan, kita bisa buka rute baru ke negara lain jika pasarnya semakin membaik,” kata Jubi.

Penumpang dari Singapura, terutama memang dipenuhi oleh wisatawan. Selama 2004 misalnya, arus kunjungan wisatawan ke Sumbar menunjukkan perkembangan drastis, dengan arus kedatangan sekitar 1 juta wisatawan domestik dan manca negara.

Walau pada awal 2005, dunia pariwisata Sumbar terguncang karena isu gempa dan tsunami, sejak pertengahan tahun ini arus wisatawan kembali meningkat.

Lalu dari bandara, kemana wisatawan harus pergi? Ada dua pilihan : pertama, menginap di Kota Padang sambil beristirahat menikmati wisata pinggir pantainya, atau langsung menuju lokasi tujuan wisata lain sesuai jenis wisata yang Anda inginkan.

Banyak pilihan di Sumbar. Sejak dari wisata pegunungan, laut, budaya hingga wisata makanan. Wisata pegunungan dan danau, misalnya bisa diperoleh di Bukittinggi, Lembah Anai (Padang Panjang), Harau (Limapuluh Kota), Maninjau (Agam) dan Danau Kembar (Kabupaten Solok).

Sementara, wisata laut bisa didapatkan di Kota Padang, Pesisir Selatan dan Kepulauan Mentawai.

Jika ingin menggali budaya dan sejarah Minangkabau, paling banyak di Kabupaten Tanah. Belakangan, Kota Sawahlunto yang berdiri karena pendirian tambang batubara di sana sejak abad ke-19, menasbihkan diri menjadi kota wisata tambang. Di kota ini, banyak peninggalan bangunan tua bersejarah, yang merupakan bukti kejayaan kota tambang zaman kolonial. Mau ke mana Anda? (Hendra Makmur)

Lamban, Investasi di Sumbar Butuh Promosi

•19 April 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

RUMAH-rumah kuno berasitektur campuran Eropa dan Minangkabau berderet rapi di Nagari Koto Gadang, Sianok, Kabupaten Agam, Sumatra Barat (Sumbar). Ketika Media Indonesia berkeliling nagari itu, pertengahan November 2005 lalu, sebagian di antara bangunan itu tampak tak terawat dengan baik. Halamannya ditumbuhi rerumputan liar yang mulai merimbun.

Menilik model bangunan dan kondisi perekonomiannya, nagari yang tak jauh dari Kota Bukittinggi itu bisa dikatakan sudah maju sejak berpuluh tahun lalu. Namun, deretan rumah di kampung Haji Agus Salim dan Sutan Syahrir itu, sebagian besar kini kosong. Penghuninya, pergi jauh merantau meninggalkan Sumbar. Sebagian besar berkarir sebagai dokter, intelektual, birokrat, diplomat dan militer. Sebagian lainnya, berkarir khas ala orang Minang, sebagai pedagang. Mereka yang tinggal di kampung kini bekerja sebagai petani, pembuat kerajinan perak dan sulaman.

Koto Gadang bisa menjadi gambaran, bagaimana kondisi nagari-nagari di Minangkabau kini. Di luar bulan baik, semisal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha, kampung-kampung di Sumbar lengang.

Selain karena mengikuti kebiasaan merantau yang telah membudaya bertahun-tahun, Rang Minang pergi merantau karena kondisi alam Sumbar dianggap miskin untuk berusaha. Lahan pertanian dan perkebunan relatif lebih kecil, lalu-lalang orang yang bisa menimbulkan kegiatan dagang, juga jauh lebih sedikit di bandingkan di Pulau Jawa.

Anggapan itu bisa dianggap sepenuhnya benar melihat kenyataan investasi di Sumbar.

Data lima tahun terakhir dari Badan Koordinasi Promosi dan Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Sumbar menunjukkan investasi di Ranah Minang memnag bergerak lamban dibanding provinsi lainnya di Pulau Sumatra. Jumlah investasi yang tak seberapa masuk ke provinsi dengan 4,5 juta penduduk itu, juga naik turun, tak stabil.

Padahal, menurut Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumbar Bidang Investasi Aim Zein, Sumbar sebenarnya punya potensi besar untuk investasi yang selama ini belum tergali maksimal yakni di bidang perikanan, pertanian, perkebunan dan pariwisata.

“Yang jadi masalah utama bagi investor yakni kepastian hukum di bidang pertanahan. Investor harus berpikir dua kali untuk menanamkan modalnya di Sumbar karena takut nanti tanahnya didemo masyarakat dengan alasan tanah ulayat,” ujarnya, Kamis (1/12/2005).

Lagi pula, menurut Aim, pemerintah provinsi (pemprov) dan kabupaten/kota belum melakukan promosi tentang potensi Sumbar secara lengkap dan baik. “Sebelum promosi, harus dilakukan dulu maping (pemetaan) potensi secara detil dengan melibatkan pengusaha. Sehingga, calon investor memahami kondisi Sumbar sebenarnya dan tidak meraba-raba,” jelasnya.

Senada dengan itu, anggota DPRD Sumbar Guspardi Gaus menekankan agar pemerintah daerah membenahi persoalan yang ada sebelum mengundang investasi ke Sumbar.

“Selain masalah tanah, investasi Sumbar terhalang karena persoalan birokrasi, regulasi, keamanan dan kenyamanan,” katanya.

Menurutnya, Ranperda Tanah Ulayat yang dikembalikan DPRD kepada pemprov pada periode lalu karena deadlock, hendaknya diperbaiki oleh pemprov sekarang dengan aturan yang menciptakan win-win solution antara investor dengan masyarakat adat pemilik ulayat,” katanya.

Menanggapi kunjungan Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi ke Selangor, Malaysia pekan lalu

bersama beberapa pejabat pemprov, pengusaha dan pimpinan harian terbitan Padang untuk bertemu dengan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Selangor Malaysia Dato’ Tang See Hang, pengusaha setempat dan perantau Minang, Aim dan Guspardi menilai hal itu belum akan berpengaruh secara signifikan pada perbaikan investasi di Sumbar.

Menjawab itu, menurut Gamawan Fauzi, kunjungan tersebut memang tidak langsung sekaligus akan memberi dampak untuk investasi. “Kita harus menelusuri dari hulu, itu tugas pemerintah. Tinggal sekarang, bagaimana pengusaha melakukan follow up,” katanya.

Kunjungan tersebut, menurut dia, untuk melihat potensi kerja sama yang bisa dikembangkan. “Di antaranya, ekspor buah-buahan ke Malaysia, pembuatan pabrik kemasan (packaging) di Sumbar, perikanan dan wisata leluhur dari perantau Minang di Malaysia. Pada pertengahan Januari, pemerintah dan pengusaha setempat akan ke Sumbar untuk menindaklanjutinya,” kata Gamawan.

Untuk menyambut para investor, Gamawan juga berjanji akan memperbaiki perizinan investasi. “Kita akan buat pelayanan investasi satu pintu di Sumbar. Saya akan bicarakan konsepnya dengan bupati dan wali kota,” ulasnya. Ya, agar kampung di pelosok Sumbar tak lagi sesunyi sekarang. (Hendra Makmur)

Realisasi Investasi ke Sumbar

No

Tahun

PMDN (Rp)

Persentase

PMDN

PMA

(US$)

Persentase

PMA

1

2000

187 miliar

61 juta

2

2001

183 miliar

turun 2,14%

107 juta

naik 75,41%

3

2002

348 miliar

naik 90,16%

118 juta

naik 10,28%

4

2003

204 miliar

turun 41,38%

29 juta

turun 75,42%

5

2004

631 miliar

naik 209,31%

29 juta

sama (0%)

PMDN : Penanaman Modal Dalam Negeri

PMA : Penanaman Modal Asing

(Sumber: BKPPMD Sumbar)

Kemiskinan Tinggi, Perantau Diharap Tak Menyumbang Fisik

•19 April 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

JIKA ingin melihat pawai kendaraan dari berbagai penjuru Indonesia, datanglah ke Sumatra Barat (Sumbar) dalam suasana lebaran. Hingga sepekan setelah lebaran, Kamis kemarin (10/11/2005), masih ditemukan beragam nomor plat mobil dan bahkan sepeda motor berseliweran di jalan raya dari berbagai daerah itu.

Hal itu terlihat amat jelas ketika melewati Lembah Anai yang terletak di ruas jalan Padang -Bukittinggi. Jalur yang sempat macet sejauh empat kilometer pada akhir pekan lalu hingga awal pekan ini tersebut, memang merupakan jalur terpadat di Sumbar.

Setiap lebaran, pemandangan tersebut selalu terjadi. Selain di jalanan, Bandara Internasional Minangkabau (BIM) juga terlihat lebih ramai dari biasanya. Mereka yang datang berlebaran ke Sumbar tersebut adalah perantau asal Minang yang tinggal dan bekerja di berbagai pelosok Indonesia.Seperti halnya daerah lain di Indonesia, lebaran di Sumbar menjadi momen terbesar perantau untuk mudik.

Namun, berbeda dengan daerah lain, mudik di Sumbar tak mesti menjelang salat Idul Fitri. Banyak pemudik yang pulang setelah salat Hari Raya di tempat menetapnya, kemudian baru pulang ke kampungnya. Selain untuk menghindari macet arus mudik, hal tersebut untuk menghemat waktu di kampung karena acara utama yang mereka hadiri biasanya digelar setelah lebaran.

Acara utama tersebut yakni, ‘pulang basamo’ (pulang bersama). Di berbagai nagari, pulang basamo biasanya digelar beberapa hari setelah lebaran. Selain digelar pertunjukan kesenian tradisi, dalam acara tersebut juga diadakan musyawarah besar perantau dengan orang kampung dan yang terpenting pengumpulan dana untuk pembangunan kampung.

“Hampir seluruh bangunan fisik milik masyarakat di Sumbar seperti masjid, kantor wali nagari, sekolah, musala dan surau dibangun dengan biaya utama atas sumbangan perantau, salah satunya dari acara pulang basamo,” kata Muchtar Naim, sosiolog yang juga anggota DPD RI dari Sumbar.

Di Nagari Koto Gadang VI Koto, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, misalnya, kantor wali nagari dengan nilai sekitar Rp500 juta dibangun dengan dana sebagian besar dari perantau.

“Demikian juga dua masjid, beberapa surau dan dua bangunan sekolah mengaji di sini. Namun, banyak masyatakat kesulitan untuk membiayai pendidikan anak mereka. Kita sebenarnya berharap pembangunan mental seperti pendidikan juga hal yang amat penting untuk diperhatikan,” kata Wali Nagari Koto Gadang M. Idrus Datuk Rajo Angek NK kepada Media Indonesia.

Sayangnya, menurut Muchtar Naim, sumbangan perantau yang selama ini diberikan lebih banyak diarahkan untuk pembangunan fisik dan jarang memperhatikan pembangunan mental tersebut. “Jika ada yang untuk membantu pendidikan keluarga tak mampu atau beasiswa, paling-paling pribadi dalam bentuk zakat atau infak,” katanya.

Muchtar mengatakan, sudah saatnya, perantau Minang ikut membantu dalam pembangunan non fisik tersebut secara lebih luas. Perantau Minang, menurutnya, selain di seluruh pelosok Indonesia, juga sudah terdapat di seluruh kota besar dunia. “Jumlahnya paling sedikit dua kali lipat dari total penduduk Sumbar yang berjumlah 4,5 juta jiwa. Mereka potensi besar untuk mengatasi masalah kemiskinan di Sumbar,” ujar Muchtar

Angka kemisikinan di Sumbar memang cukup tinggi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar pada September lalu menyebutkan, dari 1.070.543 rumah tangga, sebanyak 232.234 (21,69%) tergolong sebagai rumah tangga miskin.

Artinya, dari sekitar 4,5 juta penduduk di Sumbar, hampir 1 juta penduduknya masih sangat miskin. Merekalah yang baru-baru ini memperoleh dana program kompensasi pengurangan subsidi bahan bakar minyak (PKPS-BBM) sebanyak Rp100 ribu per bulan.

Wakil Gubernur Sumbar Marlis Rahman mengakui pengelolaan dana sumbangan dari perantau selama ini belum terkelola baik. “Kita belum punya data base perantau, bahkan data organisasi perantau secara lengkap. Ini termasuk menjadi program prioritas untuk ditugaskan pada Asisten III Bidang Kesejahteraan Sosial,” kata Marlis yang menjabat bersama Gubernur Gamawan Fauzi sejak Agustus lalu.

Marlis berharap, perantau Minang yang kini banyak pulang basamo selama lebaran, tak memberikan ‘ikan’. “Lebih baik mereka membantu masyarakat di kampung dengan memberikan ‘pancing’ dalam bentuk investasi,” ujarnya.

Misalnya, jika 10% saja dari total penduduk Sumbar diberi bantuan masing-masing satu ekor sapi, berarti sudah ada 450 ribu ekor sapi. “Bantuan seperti ini, akan lebih membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ulasnya. (Hendra Makmur)