Dari Payakumbuh Untuk Indonesia

“MENULIS sastra, ternyata adalah membuka diri terhadap banyak hal, tanpa ada sesuatu yang kita pikir ini lebih penting atau tidak penting untuk seseorang. Ketika kita membuka diri, maka akan muncul proses menulis dengan wajar. Karena, ketika dipaksakan maka yang muncul bukanlah sesuatu yang timbul dari diri sendiri.”

Hal tersebut dikatakan Gus tf Sakai, sastrawan asal Payakumbuh, Sumatra Barat (Sumbar), Sabtu (4/9/2004) ketika menerima anugerah seni dari Komunitas Penggiat Sastra Padang (KPSP) dan Dewan Kesenian Sumatra Barat (DKSB) sekaligus syukuran menjelang keberangkatannya ke Bangkok 6 Oktober nanti, untuk menerima SEA Write Award, penghargaan dari Kerajaan Thailand pada 12 Oktober, untuk sastrawan Asia Tenggara.

Sastrawan bernama lengkap Gustrafizal Busra yang lahir di Payakumbuh, 13 Agustus 1965 tersebut, sudah menulis semenjak 1979 ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Kecintaannya pada sastra terus berlanjut, walau Gus kuliah di kampus yang ‘sungguh jauh’ dengan sastra: Fakultas Peternakan Universitas Andalas (1985-1994).

Cerpen dan novel Gus awalnya banyak dimuat di harian daerah sampai kemudian merambah media cetak nasional.

Hingga kini, suami dari Zurniati dan bapak tiga anak tersebut sudah menghasilkan tiga novel remaja, tiga kumpulan berita, satu kumpulan puisi, dua novel, serta ratusan puisi dan cerpen yang dimuat di berbagai media cetak. “Satu kumpulan puisi berjudul ‘Daging Akar’ dan novel ‘Ular Keempat’, segera diterbitkan,” katanya.

Karya Gus tf yang memperoleh penghargaan SEA Write Award adalah: kumpulan cerpen ‘Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta’ yang terbit tahun 1999. Ketua DKSB Ivan Adilla yang juga dosen Sastra Indonesia Universitas Andalas (Unand) mengatakan, melalui antologi tersebut, Gus tf sudah melintasi wilayah gender, karena kumpulan cerpen itu didominasi kisah dan problem wanita, sebuah wilayah yang sulit diselami penulis pria.

“Melalui cerpen ‘Pahlawan’ dalam antologi itu, Gus tf Sakai menyajikan dialog antar etnik. Cerpen itu menggambarkan sikap pengarang yang tidak memihak dan memilih untuk menyajikan berita yang menumbuhkan simpati,” kata Ivan dalam pidato anugerah seni DKSB untuk Gus.

Menurut Ivan, ‘Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta’ adalah contoh terbaik, bagaimana Gus tf Sakai menggubah imajinasi liar secara memikat, dengan teknik penceritaan menarik dan bahasa yang intens. Sebelum memperoleh SEA Write Award, karya itu sebelumnya telah mengantar Gus memperoleh Penghargaan Sastra Lontar dan Penghargaan Buku Terbaik dari Pusat Bahasa.

Gus tf disebut Ivan sebagai seniman petualang. Walau, dari dulu ia memilih tetap tinggal di Payakumbuh, tapi secara mental dan intelektual, ia merantau ke mana-mana. Dari Payakumbuh, ia tak lepas mengamati seluruh Indonesia. “Separuh karyanya mengambil latar dan problem etnis di Timor, Toraja, Bima, Makasar, Papua dan lainnya.”

Petualangan dan dialog antar etnis dalam karya Gus tf, menurut Ivan sudah dimulai semenjak ia menulis ‘Tambo, Sebuah Pertemuan’. Gus tf mengakuinya. “Pusat perhatian saya tak berada hanya pada wilayah kita (Sumbar-red), tapi lebih luas lagi. Segalanya tidak perlu dicari-cari. Dengan siapa saya hidup dan bergaul, itulah bahan potensial saya,” kata Gus yang di Payakumbuh, ke mana-mana selalu dengan sepeda itu. (Hendra Makmur)

About these ads

~ oleh hendramakmur pada 19 April 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: