Ceria Outbond Sembari Menikmati Alam

•19 April 2008 • 1 Komentar

SINAR matahari terasa lembab menyentuh kulit. Teriknya pupus oleh belaian angin Gunung Merapi dan Singgalang yang dipantulkan oleh terjalnya tebing Ngarai Sianok hingga ke pipi.

Ngarai Sianok adalah sebuah lembah terjal yang berada sekitar 100 meter di bawah , Kota Bukittinggi, Sumatra Barat (Sumbar). Selama ini, kecantiknya lebih sering dipandang dari Panorama di ketinggian.

Namun, siang itu, sekitar pertengahan Januari 2006, 60-an pegawai Bank BNI Cabang Balige, Sumatra Utara, turun ke sana dan menyusuri dasar lembah yang dialiri aliran bening air gunung.

Para karyawan tersebut tengah mengikuti wisata outing yang digelar Hotel Novotel Coralia, Bukittinggi. Nyanyian kecil dan keceriaan masih terdengar ketika medan yang dilalui masih ‘bersahabat’.

Ketika rute diarahkan mendaki ke Nagari Koto Gadang di atas ngarai, keluhan di sana- sini mulai terdengar. Apalagi, ketika harus turun naik menerobos hutan yang tumbuh di tanah curam.

Dibutuhkan kerja sama tim untuk melalui rute tersebut. Apa lagi ketika mengikuti berbagai games di posko-posko yang dilewati. “Ini bisa melatih kerja sama tim yang nanti bisa diterapkan di dunia kerja,” kata Djulkarnain, general manajer Hotel Novotel kepada Media Indonesia.

Sepekan sebelumnya, sekitar 160 km di arah tenggara, di pinggir Danau Diatas yang cantik, puluhan pegawai Bank BNI Cabang Padang terlihat serius mengikuti permainan outbond yang digelar agen travel ‘Sumatra and Beyond’.

Sebuah kelompok yang terdiri dari belasan karyawan tampak sibuk memindahkan bola-bola kecil dengan pipa bersambung-sambung. Yang lain terlihat memindahkan air dengan gelas, ke sebuah galon. Namun, mereka diberi rintangan-rintangan yang menyulitkan permainan itu. Keceriaan berbaur dengan kekesalan terdengar di tiap-tiap tim.

“Permainan ini untuk melatih kekompakan, leadership dan konsentrasi. Bukan hanya sekedar permainan. Setelah games, para peserta diberi materi manajemen untuk menerjemahkan permainan tadi. Sejak direksi hingga ke jajaran terendah, semuanya punya hak dan kewajiban yang sama dalam pelatihan ini,” kata Direktur Sumatra and Beyond Ridwan Tulus.

Tak hanya sekedar itu, sama halnya dengan di Ngarai Sianok, outbond di Danau Diatas juga sembari berbaur dengan alam yang cantik. Di sela-sela pohon hijau di balik danau, terlihat Gunung Talang berdiri kokoh di kejauhan. Di kakinya, menghampar kebun teh yang luas dan Danau Dibawah, kembaran Danau Diatas.

Outbond merupakan metode pelatihan manajemen organisasi dan pengembangan diri di alam terbuka yang saat ini sedang tren di kalangan kaum usahawan dan perbankan. Pelatihannya, disimulasikan melalui permainan untuk meningkatkan motivasi, percaya diri, kreatifitas, kebersamaan dan saling percaya pesertanya. Outbond skalanya lebih besar dan lengkap, sementara outing lebih pendek dengan materi lebih padat.

Berbagai perusahaan dan bank di Indonesia, rata-rata sudah membuat kegiatan ini dalam program mereka. Sembari libur mengendorkan otak, bisa juga berolah raga dengan permainan yang diikuti.

Kelebihan outbond maupun outing di Sumbar, adalah lokasinya di tengah alam yang tak diragukan lagi keindahannya. Anda punya banyak pilihan. Di Ngarai Sianok yang memukau, atau di Danau Diatas – yang kata Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik – lebih cantik dari Swiss? (Hendra Makmur)

Lembaran Baru dari Bukittinggi

•19 April 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono terlihat begitu ceria. Sambil berjalan kaki dari ruang pertemuan ke ruang makan di Istana Bung Hatta, Bukittinggi, Sumatra Barat (Sumbar) bersama Perdana Menteri Malaysia

Abdullah Ahmad Badawi, Kamis (12/1/2006), SBY sempat menyenandungkan beberapa lagu.

Maka, mengalirlah tembang kenangan seperti ‘Widuri’ dari mulut Sang Presiden. Di sampingnya, Pak Lah – demikian Badawi akrab disapa – tersenyum, seperti menikmati senandung sejawatnya.

“Rumah (kota) ini kaya sejarah, sekarang kita harus membuat sejarah yang baru. Lembaran baru antara Indonesia dengan Malaysia,” kata Pak Lah kepada SBY, seperti diceritakan Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi kepada Media Indonesia

Membuka lembaran baru tersebut, agaknya merupakan keinginan kedua negara untuk memperbaiki hubungan setelah sempat tegang karena persoalan Blok Ambalat dan kembali akrab seperti dulu.

Selain menyepakati berbagai hal di bidang ekonomi, investasi, pendidikan dan kesejahteraan sosial, pertemuan SBY – Badawi memang berlangsung akrab. “Pertemuan bilateral kedua negara, bahkan diawali dengan cerita sejarah Kota Bukittinggi,” kata Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng kepada Media Indonesia.

Kota kelahiran Bung Hatta tersebut, memang penuh sejarah. Selain melahirkan tokoh-tokoh pendiri bangsa dan sejumlah ulama besar, Bukittinggi sempat menjadi ibu kota RI. Pada 1948, ketika Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda, Mr. Sjafroedin Prawiranegara diminta Bung Karno memimpin Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dari Bukittinggi.

Itu disadari SBY. “Semoga kota yang penuh sejarah, penduduknya yang ramah, akan membawa berkah untuk meningkatkan hubungan Indonesia-Malaysia,” katanya di depan jamaah Masjid Jami’, Birugo, Bukittinggi, Jumat (13/1).

Andi Mallarangeng mengatakan, inilah kunjungan SBY terlama ke daerah, sejak menjabat presiden. Biasanya, kunjungan presiden ke daerah paling lama dua hari. Sementara, dalam kunjungan ke Bukittinggi, presiden yang disertai 16 menteri dan sejumlah pengusaha tinggal hingga empat hari (11-14 Januari).

“Selain mengadakan pertemuan bilateral, presiden memang berniat membantu pembangunan ekonomi Sumbar. Dengan mengadakan pertemuan internasional di sini, presiden ingin turut mempromosikan Sumbar. Tempat wisata dan investasi bukan hanya di Jawa dan Bali,” tutur Andi.

Sehingga, setelah mengadakan pertemuan puncak pada Kamis (12/1), acara kedua delegasi lebih santai dan banyak bersifat wisata. Jumat pagi, kedua kepala pemerintahan bersama para menteri dan Gubernur Sumbar mengadakan golf bersama di Anai Resort, Kabupaten Padang Pariaman, sekitar 40 km di selatan Kota Bukittinggi.

Selepas shalat Jumat bersama warga, presiden juga mengunjungi Pasar Atas, Bukittinggi, setelah

sebelumnya makan nasi kapau (nasi rames khas Minang).

Di pasar, SBY berdialog dengan para pedagang dan warga yang menyambutnya dengan antusias. Tentunya, tak lupa membeli oleh-oleh seperti baju koko dan souvenir.

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman kepada Media Indonesia menyebut lembaran baru kunjungan tersebut sebagai usaha untuk membuka pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah-daerah. “Harapan kita, setelah di Bukittinggi ini, acara berskala nasional dan internasional lainnya tak mesti harus selalu di Jakarta. Intinya, bagaimana mendorong pembangunan daerah di era desentralisasi,” katanya.

Pemerintah provinsi Sumbar menyatakan kesiapan untuk tantangan itu. “Kita akan konsentrasikan untuk membenahi pelayanan pariwisata, perizinan investasi termasuk di dalamnya mendidik masyarakat,” kata Wakil Gubernur Marlis Rahman. (Hendra Makmur)

Dari Bandara Minangkabau ke Seputar Sumbar

•19 April 2008 • 1 Komentar

MENUJU ke Kota Padang, dari Bandara Minangkabau bisa ditempuh dengan menggunakan bus khusus bandara seperti Damri dan Tranex, atau dengan taksi. Dari bandara, bus melayani dua rute, yakni Bandara – Lapangan Imam Bonjol yang menyusuri jalur barat Kota Padang serta Bandara – Simpang Aru yang melewati wilayah tengah Kota Padang.

Ongkos bus sebesar Rp17 ribu relatif jauh lebih murah dibandingkan dengan taksi yang mencapai Rp75 ribu untuk jarak yang sama. Jika ingin langsung ke Bukittinggi dari Bandara, harga taksi sekitar Rp200 ribu, tergantung kepintaran menawar.

Taksi di Sumbar, memang kurang tertib, karena tak mau memakai argo. Namun, dengan taksi waktu dan jarak akan lebih hemat, karena tak perlu lagi ke Padang yang berjarak sekitar 22 km ke arah selatan.

Jika ingin hemat uang, lebih baik ke Padang dahulu dengan bus bandara melalui jalur barat. Di sepanjang jalan tersebut, banyak sekali pilihan angkutan travel mini bus sejak harga Rp15 ribu sampai dengan Rp30 ribu yang berangkat hampir setiap menit ke Bukittinggi. Ongkos lebih murah lagi, jika Anda mengendarai bus umum yang hanya menarik ongkos Rp12 ribu menuju Bukittinggi.

Bila belum banyak mengetahui informasi pariwisata di Sumbar, lebih baik Anda transit dulu di Padang. Hotel berbintang sekelas Bumi Minang, Pangeran Beach dan Rocky Plaza bisa menjadi pilihan tempat menginap untuk yang punya dana lebih. Bagi yang ingin hemat, tersedia puluhan hotel kelas melati dan penginapan murah dengan harga rata-rata Rp100 ribu per malam.

Memilih Padang sebagai tempat transit amat strategis, karena dari sini tersedia angkutan bus atau mini bus travel ke seluruh daerah di seputar Sumbar. Selama di Padang, Anda bisa membeli peta wisata Sumbar dan mencari informasi tentang lokasi pariwisata yang dituju. Anda memang terpaksa ke toko buku, karena di Bandara Minangkabau belum tersedia tourist information service.

Sembari memilih, Anda bisa berjalan-jalan ke Pantai Padang yang indah dan makan jagung bakar di Jembatan Siti Nurbaya kala malam tiba. Jembatan ini tempat nongkrong yang strategis karena bisa menikmati pemandangan lampu-lampu yang indah dan menikmati kota pelabuhan tua. Jangan lupa juga membeli keripik ‘balado’ untuk cemilan selama berwisata.

Jika ingin beberapa hari berkeliling Sumbar, lebih hemat dan praktis jika menyewa mobil rental dengan harga sekitar Rp300 ribu per hari, belum termasuk sopir dan BBM

Bukittinggi direkomendasikan sebagai tujuan wisata berikutnya selama di Sumbar. Hal tersebut, bukan saja karena kesejukan dan keindahan alamnya yang memukau, tapi karena wisata makanan dan belanjanya yang relatif lebih lengkap.

Penginapannya, juga banyak pilihan. Sejak dari hotel melati hingga ke hotel bintang empat sekelas Novotel Coralia yang terletak di jantung Kota Bukittinggi, tak jauh dari jam gadang yang terkenal itu.

Di kota ini, masih terdapat beberapa lagi hotel berbintang hingga hotel melati yang memasang tarif di bawah Rp100 ribu per malam. Untuk hotel yang murah, tak terlalu sulit mencarinya. Sebagian besar, hotel-hotel tersebut berada di sekitar jam gadang.

Dari Bukittinggi, Anda bisa ke arah barat sekitar 25 km untuk menikmati Danau Maninjau di kala senja. Di kawasan Embun Pagi, ada Hotel Nuansa Maninjau Resort yang dibangun di ketinggian, sehingga bisa memandang danau Maninjau.

Dari Bukittinggi juga bisa ke arah timur sejauh 30 km, untuk menikmati keindahan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota. Bisa juga ke arah tenggara untuk melihat situs budaya Minangkabau dan Istano Basa, pusat kerajaan Pagaruyung di masa lalu.

Dari sana, sekitar 50 km ke arah selatan, Anda bisa menikmati pemandangan Danau Diatas dan Danau Dibawah serta hamparan kebun teh yang indah. Lokasi tersebut berada di Kabupaten Solok. Dari sini, Anda bisa langsung kembali ke Padang untuk menuju Bandara Minangkabau. (Hendra Makmur)

Ditulis 22 Desember 2005

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.